Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Eksepedis Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (9)

Usai Longso Kedung Peri-Peri Tak Lagi Angker

01 Januari 2019, 13: 31: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

lembah peri peri

TEMPAT WISATA: Mbah Wiji (kanan) dan Sumono berada di kawasan Lembah Peri-Peri, Selopanggung. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Bukan hanya air terjun yang terkenal dari Desa Selopanggung, Semen. Salah satu desa di lereng Pegunungan Wilis ini juga punya Lembah Peri-Peri. Konon, tempat yang juga disebut kedung ini pernah dihuni sosok mirip peri.

Jalanan menuju lembah ini seperti bekas jejak ular raksasa. Berkelok dengan sudut tikungan yang melengkung. Jalannya juga naik turun. Kadang, bila tak pernah melewati jalur ini kita akan sering kaget. Terutama saat menemukan tikungan tajam usai menelusuri jalan menurun.

Dari Kota Kediri, butuh waktu sekitar satu jam dengan berkendara motor menuju Lembah Peri-Peri ini. Di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan menawan. Mata dimanjakan dengan persawahan hijau membentang. Tanaman padi tumbuh subur di kanan-kiri jalan.

Saat akan memasuki kawasan lembah, kita akan menemukan papan-papan pengumuman di sepanjang jalan. Isinya, menyarankan kita untuk mengurangi kecepatan. Sebab, meski sudah berupa aspal, jalannya menurun tajam.

Lokasi Lembah Peri-Peri ini berada dekat dengan perkebunan dan rumah warga. Dipenuhi rimbun pepohonan. Suasannya pun sangat asri.

Nama Lembah Peri-Peri tak lepas dari mitos yang dipercaya oleh warga sekitar. Yaitu soal fenomena yang dulu, katanya, pernah terjadi. Fenomena yang lebih banyak mengarah ke hal mistis.

“Waktu saya masih muda, saya mendapat cerita dari ayah saya kalau ada seorang gadis yang dipercaya adalah sosok peri,” jelas Wiji, 60, warga Desa Selopanggung.

Tidak seperti sekarang, dulu sekitar lokasi tempat yang juga disebut Kedung Peri-Peri itu sangat rimbun. Begitu rimbunnya membuat warga sekitar tidak berani mendekat.  Apalagi lokasinya sangat curam. Sangat dalam. Dengan aliran sungai yang  deras.

Nah, menurut cerita yang diperoleh warga secara turun-temurun, ada sosok perempuan yang berani ke lokasi itu. Sosok itu digambarkan berparas cantik bak peri. Wanita itu yang berani masuk ke dalam lokasi yang begitu lebat dengan pepohonan.

“Namun setelah masuk ke dalam kedung tersebut, gadis tersebut tidak pernah kembali,” imbuhnya.

Warga sekitar percaya, bahwa peri tersebutlah yang menjaga lembah itu. Hingga pada akhirnya, sekitar tahun 1940, terjadi longsor hebat di salah satu titik di Gunung Wilis. Longsor itu mengakibatkan material pegunungan ikut hanyut bersama dengan air. Batu-batu itu kemudian terhenti di Lembah Peri-Peri. Membuat kondisi kedung berubah. Tak lagi terlalu curam.  “Setelah kejadian itu, warga mulai berani datang ke kedung,” ingat Sumono, 51, warga yang lain.

Setelah itu, warga sekitar mulai melakukan aktivitas di sekitar kedung. Mulai mandi hingga mencuci pakaian. Bahkan anak-anak mulai berani untuk mandi di tempat ini. Dengan perkembangan zaman, sekarang lokasi Kedung Peri-Peri menjadi salah satu lokasi wisata.

Tidak hanya dimanjakan dengan air segar yang mengalir, juga terdapat air terjun yang mengalir dengan deras. Namun selama musim kemarau air tersebut dialihkan untuk persawahan. Jika pasokan air melimpah akan tumpah menjadi air terjun.

Walaupun sudah ramai dikunjungi warga, ada satu hal yang tak berani mereka lakukan. Yaitu tinggal hingga sore hari di tempat tersebut. Sebab, banyak cerita mistis yang mengiringinya. “Setiap orang yang pulang terlambat pulang atau baru pertama kali kesini, akan melihat penampakan sosok peri-peri tersebut,” cerita Wiji.

Tapi, cerita orang yang melihat penampakan sang peri itu sudah jarang terjadi saat ini. Bahkan, hampir tidak pernah. Termasuk cerita bahwa sekitar seratus meter dari jembatan yang menuju lokasi ini, mereka yang melintas akan mencium bau wangi. Walaupun demikian, warga masih mempercayai mitos yang mereka dapatkan secara turun-temurun ini.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia