Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Travelling

Musik Tradisional Lesung Desa Joho Kabupaten Kediri

Lesungnya Berusia Ratusan Tahun

31 Desember 2018, 18: 39: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

lesung

MULAI PUNAH: Ibu-Ibu warga Desa Joho memainkan musik lesung untuk menghibur pengunjung wisata Sumberpodang di Desa Joho, Kecamatan Semen. (Puspitorini Dian - radarkediri.id)

Share this          

Dhung-dhung-dhung dhong, itulah suara yang dihasilkan dari lesung terbuat dari kayu tersebut. Lesung tidak lagi hanya digunakan untuk menumbuk padi, tapi juga jadi alat musik untuk menghibur.

HABIBAH A MUKTIARA

Membutuhkan waktu satu jam menuju Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri dari pusat kota. Di desa tersebut terdapat Budaya Tradisional Lesung. Lesung adalah alat penumbuk padi tradisional yang terbuat dari kayu. Sedangkan alat penumbuknya yang juga terbuat dari kayu ini disebut alu.

Pada zaman dahulu, masyarakat pedesaan menggunakan lesung sebagai penumbuk padi. Karena pada zaman itu, masih belum ditemukan alat atau mesin selep. “Menumbuk padi dengan lesung ternyata dapat menghasilkan irama,” cerita Nur Azizah, 46, yang merupakan regenerasi pemain budaya tradisional lesung.

Dari lesung dengan panjang dua meter tersebut menghasilkan semacam bunyi-bunyian. Sehingga sambil menumbuk padi, mereka bermain musik dengan lesung yang disebut klothekan.

Namun seiring berjalannya zaman, kini lesung tidak lagi digunakan sebagai penumbuk padi.  Pada tahun 2005, lesung dilestarikan di Kabupaten Kediri sebagai kesenian tradisional.

Pada dasarnya kesenian kothekan lesung biasanya dimainkan oleh perempuan tua atau di desa bisa disebut sesepuh. Mereka biasanya sudah lama memegang lesung. Selain digunakan sebagai penumbuk padi, setiap ada hajatan, lesung tersebut dipakai untuk menumbuk. “Sebagian besar, ibu-ibu yang bermain musik tradisional lesung sudah berpengalaman,” ungkap Nur.

Dalam penyajiannya, setiap lesung biasanya terdiri dari empat, lima atau enam pemain. Karena sudah empat kali terjadi rigenerasi pemain. Kini untu satu lesung terdapat lima orang pemain. Setiap pemain memegang satu alu.

Untuk menggunakan alu, terdapat teknik tertentu. Misalnya arang. Disebut demikian karena volume pukulan instrumen ini yang jarang-jarang. Sedangkan kerep, yang berati bermain dua kali lebih cepat.

Sedangkan lagu yang dimainkan merupakan tembang jawa. Salah satunay jaranan yang kemarin langsung ditampilkan.“Jaranan.Jaranan Jarane jaran teji. Sing numpak ndoro Bei. Sing ngiring poro abdi,”.

Pada zaman itu, lesung hanya dimiliki oleh orang-orang kaya saja. Di Desa Joho hanya terdapat dua orang yang memiliki lesung tersebut. Lesung tersebut adalah milik almarhum Mbah Mondorus dan Mbah Darso. Kini lesung tersebut berusia ratusan tahun. Meski begitu lesung tersebut masih terlihat bagus.

Tidak hanya sebagai alat kesenian tradisional, lesung masih digunakan ketika gerhana bulan. Masyarakat percaya bahwa dengan membunyikan lesung, akan terhindar dari pengaruh sial dari gerhana bulan tersebut.

Sedangkan di Desa Joho, hanya terdapat dua warga saja yang memiliki lesung. Namun kini yang digunakan merupakan lesung milik alm Mbah Mandorus. Lesung tersebut kini diletakkan di PAUD PKK Desa Joho.

Namun untuk menjaga kelestarian kesenian tradisional lesung di Desa Joho kini memang agak kesulitan. Generasi muda saat ini, tidak mengenal lesung secara langsung. Hal tersebut membuat kesulitan untuk mengajari.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia