Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (8)

Cekung karena Jadi Tempat Duduk Sekartaji

31 Desember 2018, 17: 55: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

dewi sekartaji

MITOS: Rosta Madi duduk di batu yang konon pernah dijadikan tempat duduk Dewi Sekartaji. Cerita ini dipercaya oleh sebagian warga lereng pegunungan Wilis. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Di Desa Tiron, Banyakan, Kabupaten Kediri, ada satu batu yang permukaannya cekung. Konon, warga mempercayai bahwa batu ini pernah dijadikan tempat duduk oleh Dewi Sekartaji. Istri Raden Panji Asmorobangun yang juga putri kerajaan Dhaha.

Bukit itu bernama Selo Memean. Masuk wilayah Desa Tiron, Banyakan, Kabupaten Kediri. Menuju ke bukit itu hanya ada satu akses jalan. Boleh disebut hanya berupa jalan setapak. Jalan tanah dengan ‘berhias’ batu kali di beberapa tempat.

Selain minimalis seperti itu, jalanan tersebut juga berbelak-belok. Belokannya sangat tajam. Mungkin, kalau digambar belokan-belokan itu akan seperti mata gergaji.

Jalan ini memang bisa dilalui motor. Namun bila musim hujan seperti saat ini licinnya bukan main. Akan lebih mudah menaklukkan jalan ini dengan motor trail. Bila menggunakan yang jenis matic, siap-siap bakal kesulitan. Karena roda bisa sering tergelincir. Belum lagi, bila berpapasan maka salah satu kendaraan harus minggir terlebih dulu.

Puncak bukit Selo Memean ini berupa batu. Menghampar dengan ukuran sekitar 100x100 m. Dari sini, bisa memandang pegunungan Wilis. Sementara di sekitarnya adalah ladang para petani. Dengan tanaman mayoritas mangga. Namun juga ada area persawahan.

Di tengah puncak bukit itulah ada seonggok batu. Ukurannya 80-80 cm. Berupa batu sedimen. Salah satunya berpermukaan cekung. Konon, batu itulah yang jadi tempat duduk Dewi Sekartaji dahulu.

“Dewi Sekartaji duduk merenung di sini sambil melihat Gunung Wilis,” cerita Rosta Madi, 70, warga Dusun Babatan, salah satu dusun di Desa Tiron.

Menurut kakek Madi, berdasarkan cerita yang dia dengar secara turun-temurun, Dewi Sekartaji ke gunung itu untuk mencari suaminya, Pangeran Panji Asmoro Bangun. Karena itu dia juga melakukan banyak aktivitas lain. Seperti mencuci dan menjemur pakaian.

“Dulu di sekitar sini ada aliran sungai yang bisa untuk mencuci,” ungkapnya.

Saat naik ke bukit itu, Dewi Sekartaji disebutkan menunggang gajah. Gajah itu kemudian ditambatkannya di seberang. Nah, tempat sang dewi ‘memarkir’ gajahnya itu saat ini disebut  warga sekitar dengan nama Bukit Gajah.

Karena terlalu sering dijadikan tempat duduk dan dalam waktu yang lama pula, permukaan batu itu jadi tergerus. Menjadi cekung. Legenda itulah yang hingga kini dipercaya oleh masyarakat setempat.

Beda lagi dengan cerita Damiran, 70. Kakek ini mengatakan konon Dewi Sekartaji merupakan keturunan Arab. Kemudian ikut merantau bersama ayahnya, yang ingin mengabdi pada Raja Dhaha. Saat merantau, Sekartaji tak hanya bersama sang ayah. Tapi juga ibu dan saudara tirinya.

Karena cantik dan juga sakti, banyak lelaki yang berusaha mempersunting. Hal itu membuat sang ibu tiri tak suka. Akhirnya, masih menurut legenda itu, Sekartaji pun didandani dengan pakaian laki-laki. Dengan rambut yang terpotong pendek.

Saat itulah, cerita Damiran, Sekartaji berucap bahwa wanita yang hanya duduk menunggu orang melamar akan sulit menikah. Setelah itu Sekartaji naik ke bukit Selo Memean. Di bukit ini dia dipercaya melakukan perenungan dengan duduk di batu tersebut.

Konon, sebagian warga sekitar percaya bahwa batu ini punya khasiat. Mitosnya, bagi yang belum kunjung mendapatkan jodoh, bila duduk di batu ini, maka jodoh itu akan datang.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia