Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (7)

Sembuhkan Luka Cambuk dengan Usapan Air Liur

31 Desember 2018, 17: 49: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

tiban

SEMBUH: Pelaku tiban dengan goresan luka di tubuhnya. Luka akibat sabetan cambuk itu bisa sembuh dengan metode khusus. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Masih bertuah menurunkan hujan, tradisi tiban kini tak lagi unjuk kesaktian. Warga Desa Surat melestarikannya sebagai budaya kesenian.

 

Kisah-kisah kesaktian pelaku tiban di Desa Surat, Kecamatan Mojo masih melekat hingga kini. Di antara tokohnya adalah almarhum Mbah Ran yang biasa disapa Mbah Tiklik. Di masa penjajahan Pemerintah Kolonial Belanda dulu, Mbah Tiklik dikenal memiliki ajian lembu sekilan.

Padahal perawakannya kecil. Postur badannya kurus dan pendek. Namun begitu, kakek Tiklik ini punya ilmu kebal mumpuni. Dia digdaya di arena tiban. “Mbah Tiklik dahulu dikenal jagoannya tiban. Saat adu pecut, cambuk musuh seolah tak menyentuh tubuhnya. Walau dicambuk keras, pecut lawan hanya kena sekilan (sepanjang sekitar rentangan ujung ibu jari dengan ujung telunjuk) dari badannya,” papar Sumadji, sesepuh pemain tiban di Desa Surat.

 Selain Mbah Tiklik, lanjut pria yang juga perangkat desa ini, pelaku tiban ‘berilmu’ lainnya adalah Mbah Darno atau Sudarno. Dia adalah mantan lurah atau kepala Desa  Surat era 1951-1986. Namun kini lurah yang dikenal digdaya tersebut telah meninggal.

Lantas apa kesaktiannya? Sumadji mengaku, tidak mengetahui nama ilmu yang dimiliki Mbah Darno. Hanya saja, mantan kades itu mempunyai kelebihan dalam hal pengobatan atau penyembuhan. “Dulu kalau ada pemain tiban yang luka-luka tercambuk, oleh Mbah Darno luka itu diusap dengan air liurnya bisa sembuh,” papar kaur kesra ini.

Suatu ketika ada rumah warga desa yang terbakar gara-gara lampu ubliknya terjatuh. Penghuni rumah yang tertidur, terlambat menyelamatkan diri. Akibatnya, dia mengalami luka bakar parah. “Mbah Darno membantu menolong. Lukanya diobati. Akhirnya bisa disembuhkan,” papar Sumadji.

Seiring berkembangnya zaman, pemain-pemain tiban yang memiliki kedigdayaan kanuragan itu berangsur surut. Barangkali kini sudah langka. Tiban pun tak lagi hanya diadakan saat kemarau panjang. Namun, di Desa Surat sudah menjadi adat tradisi yang digelar tahunan.

Menurut Kades Surat Edy Susanto, tradisi tiban digelar setiap Agustus atau September. Pelaksanaannya bersamaan dengan rangkaian kegiatan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia. Selain itu, tiban juga diadakan jika ada acara desa atau ada warga yang punya hajat. “Pernah ada warga yang khitanan menggelar tiban,” ujarnya.

Tahun ini, tradisi tiban diadakan pada 8 September 2018 lalu. Arenanya di halaman balai desa. Di sana dibangun panggung dari bambu dan drum. Ukurannya sekitar 6 x 8 meter. Jadwalnya dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. “Total sebanyak 168 pemain yang bertanding. Itu berarti ada 84 pasang dalam satu pertunjukan,” terang Edy.

Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini sangat tinggi. Itu terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang. Tidak hanya dari Desa Surat. Namun juga dari luar daerah. Bahkan, para pemain pun tak hanya dari dalam desa. “Kesenian ini bisa menjadi potensi wisata budaya yang menarik,” ulasnya.

Tradisi tiban di panggung tersebut merupakan kreasi baru. Sebab dalam tradisi ritual meminta hujan pemain tiban beradu cambuk di hamparan tanah lapang. Menurut Samudji, penggunaan panggung itu dimulai sejak 1980-an. “Di panggung hanya ada sepasang pemain tiban dan satu wasit,” tuturnya.

Cambuk sodo aren sudah disiapkan panitia. Samudji biasa menjadi wasit. Dia pula yang membuat cambuk dan menyiapkannya untuk para pemain. Jumlahnya 25 sampai 40 cambuk. “Ada yang besar, ada yang kecil. Rata-rata panjangnya sama, satu meteran. Pemain boleh memilih pecut sendiri,” urainya.

Aturan mainnya, harus lepas baju atau telanjang dada. Tidak boleh mencambuk di atas leher dan di bawah pusar. Siapa saja boleh tanding, asalkan berani. Tidak ada batasan usia. “Tugas wasit memimpin pertandingan. Mengawasi dan memberi peringatan bila ada kecurangan. Kalau mencambuk kena alat vital langsung dikeluarkan,” tegas Samudji.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia