Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (6)

Upas Ulo, Kodok Bangkak, hingga Topo Nglowo

31 Desember 2018, 17: 46: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

tiban

NYALI TINGGI: Pelaku tradisi tiban beradu cambuk di panggung yang didirikan di halaman balai Desa Surat, Kecamatan Mojo. (PEMDES SURAT For radarkediri.id)

Share this          

Tak sekadar berani, dahulu pemain tiban juga membekali diri dengan ilmu kanuragan. Hutan Wilis jadi tempat semedi.Pelakunya punya ajian sakti.

 

Dalam tradisi tiban masa silam, kekuatan pemain tak hanya terlihat dari fisik luarnya. Meski berpostur tinggi, besar, dan berotot, belum tentu lebih kuat dan tangguh. Pun sebaliknya, yang bertubuh kecil dan kurus tak selalu lebih lemah. Bisa jadi, yang fisiknya biasa saja malah memiliki ilmu kanuragan tinggi.

“Dahulu dari para leluhur dan sesepuh di desa sini memang ada cerita pelaku tiban yang punya ilmu kanuragan linuwih,” papar Sumadji, perangkat Desa Surat, Kecamatan Mojo, yang dikenal sebagai tokoh tiban di kampung lereng Gunung Wilis itu.

Membekali diri dengan ilmu kanuragan bagi pelaku tiban bukan tanpa alasan. Pasalnya – tidak seperti tradisi tiban era sekarang – dahulu mereka yang beradu pecut, membawa cambuknya sendiri-sendiri. “Kalau sekarang ini kan cambuk tiban  disediakan panitia. Pemain tidak boleh membawa dan menggunakan cambuknya sendiri,” ungkap pamong desa yang menjabat kepala urusan kesejahteraan masyarakat (kaur kesra) ini.

Kendati begitu, bahan pecutnya tetap sama, dari sodo aren. Nah, karena boleh membawa sendiri, cambuk itu pun menjadi senjata andalan setiap pemarin. Tidak sekadar cemeti dari batang lidi pohon aren yang dipilin, namun juga diberi ‘senjata rahasia’ lain. Ini demi menambah keampuhan dan kekuatannya.

Selain di bagian gagang sodo yang dipegang pemainnya, Sumadji mengungkapkan, bagian lain di cambuk tersebut diberi upas ulo (bisa ular). Selain itu, ada pula sodo aren yang diberi lapisan kulit kodok bangkak. Upas ulo dan kodok bangkak itu mengandung racun.

Kemudian, ada yang menggunakan ramuan cem-ceman dari getah pohon dan tumbuhan beracun. Olesan cem-ceman yang melapisi bagian tengah hingga ujung cambuk itu dikenal dengan sebutan tlutuh ingas. Uba rampe tambahan dari bahan-bahan berbahaya tersebut dilumurkan atau dioleskan hingga meresap di pilinan batang lidi cemeti.

Yang lebih ngeri lagi, ada ujung cambuk yang diberi beling atau pecahan kaca. Sehingga bila mengenai lawan yang tidak dibekal ilmu kanuragan yang mumpuni, tentu sangat berbahaya. Serangan lawan dapat menimbulkan luka berat.

Oleh karena itu, Sumadji menuturkan, kekuatan pelaku tradisi tiban di era silam tak dilihat dari postur fisik yang tampak dari luar. Kendati bertubuh tinggi besar, kekar, dan berotot, belum tentu dapat dengan mudah menaklukkan lawan yang lebih kecil. “Justru, bisa terjadi sebaliknya. Sebab, bekal ilmu tenaga dalam dan kanuragan sangat berpengaruh,” paparnya.

Demi mendapatkan ilmu kesaktian itu, pelaku tiban menempuh berbagai cara. Selain berlatih fisik, ada yang menjalani ritual puasa dan semedi. “Ada yang puasa tujuh hari tujuh malam. Bahkan, ada yang sampai 40 hari,” papar Samudji.

Sedangkan mereka yang bersemedi ada syarat harus tanpa atap. Makanya ketika melakukan ritual itu, pelakunya mesti langsung beratapkan langit. “Karena itu, banyak yang semedi di hutan,” kata Samudji.

Bahkan yang ekstrem, ritual semedi dilakukan dengan tubuh tergantung terbalik di atas pohon. Yakni bagian kaki berada di atas, sementara kepala di bawah.  Posisinya persis seperti kalong. “Ya itu topo nglowo (bertapa seperti kelelawar). Biasanya pelaku bertapa gantung di pohon ini selama tujuh hari tujuh malam,” papar sesepuh tiban di Desa Surat ini.

Ilmu kesaktian yang dimiliki pemain tiban zaman dahulu dikenal dengan nama ajian lembu sekilan. Menurut Samudji, ajian tersebut berupa ilmu kekebalan. Pemilik ajian ini kebal dengan senjata.

Selain itu, lanjut dia, ada ajian buto ijo. Ini ilmu kanuragan yang menonjolkan kekuatan fisik melebihi manusia pada umumnya. Pemilik ajian ini bahkan mampu mengangkat cikar atau dokar (kereta yang ditarik kuda) seorang diri. “Dulu ada pemain tiban yang kuat mengangkat cikar (pedati yang ditarik sapi) saat teperosok di parit,” ungkap Samudji.

Saat digelar tiban, para pendekar ini memang membuktikan kekuatannya. Mereka bertahan di arena hingga tradisi meminta hujan itu selesai dilaksanakan. “Tetapi itu terjadi dahulu, sekitar sebelum tahun 1950-an. Setelah itu, mulai berangsur ditinggalkan. Sedangkan tradisi tibannya tetap lestari hingga kini,” tutur Samudji.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia