Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (5)

Lestarikan Tiban karena Tradisi Turun-temurun

25 Desember 2018, 17: 59: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

tiban

SESEPUH TIBAN: Samudji menunjukkan cambuk dan perlengkapan alat musik tradisional untuk tradisi tiban di rumahnya, Desa Surat, Kecamatan Mojo. (Endro Purwito - radarkediri.id)

Share this          

Tradisi tiban di Desa Surat, Kecamatan Mojo diwariskan turun-temurun. Warga memang melestarikannya. Para sesepuh meneruskan ke yang muda.

Di Desa Surat, Kecamatan Mojo, Samudji tak hanya dikenal sebagai modin. Kepala urusan kesejahteraan masyarakat (kaur kesra) ini juga dianggap sebagai sesepuh pelaku tradisi tiban. Setiap ada ritual meminta hujan kala kemarau panjang, dialah yang mengurus segala sesuatunya.

Termasuk ketika tradisi tiban digelar dalam rangkaian kegiatan desa atau acara hajat warga. Samudji yang menyiapkan pecut hingga perlengkapan musik tradisional pengiring kesenian adu cambuk itu.

“Di desa sini memang saya yang bikin pecutnya. Jadi setiap akan digelar (tiban) ya saya yang menyiapkan (cambuk)nya,” papar bapak tiga anak yang berumur hampir 60 tahun tersebut.

Warga telah mengakui Samudji paling mumpuni soal tradisi tiban itu. Maklum, dia adalah keturunan sesepuh tiban di Surat. Almarhum Kasan Mujari, ayah Samudji, dikenal sebagai tokoh tiban di sana. Bahkan, leluhurnya yang juga kakeknya, Mat Soehud, termasuk pelopor tiban Surat.

Meski ritual memohon hujan ini sudah ada sejak masa Kerajaan Kadiri, Samudji mengakui, hanya mengenal para leluhur tiban di Desa Surat dari kakek buyutnya. Para sesepuh desa yang mendalami dan menurunkan tardisi itu adalah Mat Soehud.

Tidak hanya sendiri, dia menjalankan dan mengadakan ritual tiban bersama tiga saudaranya. Ketiga adik Soehud tersebut adalah Mustajab, Soekemi, dan Kasan Mujari. Dari merekalah, tradisi meminta hujan kala kemarau panjang itu diturunkan kepada anak-anaknya.

Mustajab mewariskannya kepada tiga putranya, Maruji, Maruwan, dan Marsuki. Sedangkan Soekemi menurunkannya kepada dua putranya, Zainu dan Zainuri.

Sementara Kasan Mujari mewariskannya ke putranya, Sumadji. Hingga kini, Sumadji lah dari keturunan Mat Soehud yang masih hidup dan meneruskan tradisi tiban itu. Tak hanya sendiri, perangkat desa yang menjabat kaur kesra ini mengaku, dirinya mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah desa setempat untuk melestarikan dan nguri-uri tiban ini.

“Terutama sejak Pak Kades (Kepala Desa) Edy Susanto terpilih dan memimpin desa, kesenian tiban ini makin diaktifkan dan dikembangkan,” paparnya.

Sumadji sendiri mengungkapkan, mulai mengikuti tradisi tiban sekitar 1970-an. Seingat dia, saat itu masih kelas 2 setingkat SMP. Awal bertanding dengan temannya yang satu desa, Sumadji mengaku, punggungnya sempat terkena cambuk. Rasanya panas dan pedih. Kendati begitu, dia tak kapok. Sebaliknya, Sumadji remaja malah ketagihan. Keduanya beradu cambuk demi memohon kepada Yang Maha Kuasa agar desanya segera diturunkan hujan. Dan Tuhan mengakhiri kekeringan.

“Kali pertama pecut ya pasti sakit. Tetapi rasa itu justru membuat saya lebih berani. Malah ketagihan ingin main lagi,” paparnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri di kediamannya.

Sejak itu, Sumadji tak hanya mengikuti tradisi tiban di desanya. Ketika mendengar ada tiban di desa atau kecamatan lain di Kabupaten Kediri yang mengadakan tiban, dia pun akan mengikuti. “Yang saya ingat, pernah ikut (tiban) di Ngadiluwih, Wates, Tunglur, Pare,” kenangnya.

Sekarang Sumadji lebih banyak aktif mengurus tradisi tiban di desanya sendiri. Terutama untuk melestarikannya, pamong desa ini juga dipercaya menjadi pelatih. Biasanya latihan di halaman rumahnya. 

Samudji tidak khawatir seni tradisi ini akan ditinggalkan masyarakat desanya. Pasalnya, kesenian adu pecut tersebut ternyata cukup diminiati. Tidak hanya orang dewasa. Namun, juga anak-anak muda desa. Bahkan, generasi yang bakal meneruskan tiban itu tersebar di tujuh dukuh Desa Surat.

“Tiap dukuh sudah ada pemainnya. Dari Dusun Ngaglik, ada dukuh Ngaglik, Bakalan, Bonggah, dan Jajar. Sedangkan, di Dusun Selorejo ada dukuh Kahuripan, Banyuurip, dan Judek,” paparnya.

Menurut Samudji, latihan diadakan jelang tradisi tiban digelar. Biasanya, dua atau tiga hari sebelum hari H. Selain banyak yang meminati kesenian tradisi ini, dari tiga anak Samudji, menantunya adalah pemain tiban.

Pemerintah desa setempat pun mendukung pelestarian tradisi ini. Apalagi, Kades Surat Edy Susantotermasuk salah satu pemain tiban. Pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini, Edy pun ikut bermain adu cambuk di panggung yang didirikan di halaman balai desa.

Melihat antusiasme warga desanya, Edy menyatakan, pihaknya akan terus melestarikan dan mengembangkan tradisi ini. Hal itu diwujudkan dengan menggelar acara kesenian tiban setiap peringatan Hari Kemerdekaan. Selain itu, ketika ada acara desa juga kerap ditampilkan. Bahkan, warga yang punya hajat pun ikut menggelar kesenian tersebut.

“Ketika ada acara kabupaten dan diminta tampil, kami siap untuk menggelar tiban,” paparnya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia