Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kustoyo, Komisioner KPUD Nganjuk yang Masih Aktif Mendalang

Bawakan Lakon Pewayangan saat Sosialisasi

24 Desember 2018, 18: 15: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

CINTA BUDAYA:Komisioner KPUD Nganjuk Kustoyo memeragakan sabetan wayang. Keahliannya mendalang ini juga bisa membantu tugasnya menyosialisasikan pemilu.

CINTA BUDAYA:Komisioner KPUD Nganjuk Kustoyo memeragakan sabetan wayang. Keahliannya mendalang ini juga bisa membantu tugasnya menyosialisasikan pemilu. (ANWAR BAHAR BASALAMAH - RADARKEDIRI.ID)

Share this          

Kustoyo begitu beruntung punya keahlian mendalang. Kemampuannya itu kini jadi penunjang pekerjaannya sebagai komisioner KPU Nganjuk. Beberapa kali, pria asal Patianrowo itu menyelipkan lakon pewayangan saat melakukan sosialisasi pemilu.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Kustoyo terlihat sibuk ketika ditemui di ruang kerjanya di kantor KPU Kabupaten Nganjuk di Kelurahan Begadung, Jumat pekan lalu (14/12). Beberapa kali dia harus membuka dokumen surat yang bertumpuk di meja. Sesekali, pria asal Ngepung, Kecamatan Patianrowo itu menerima telepon dari beberapa orang. “Ini persiapan acara sosialisasi pemilu (pemilihan umum),” kata Kustoyo membuka pembicaraan.

Kesibukan Kustoyo memang meningkat jelang pemilu 2019. Sebagai komisioner KPU Kabupaten Nganjuk di divisi sosialisasi, pendidikan pemilih, partisipasi masyarakat dan sumber daya manusia (SDM), salah satu tugasnya adalah meningkatkan keikusertaan pemilih di pemilu.

Karenanya, aktivitas Kustoyo lebih banyak bersentuhan dengan sosialisasi pemilu.  Baik yang menyasar ke pemilih pemula maupun masyarakat umum. “Setelah ini, banyak kegiatan sosialisasi di sekolah,” lanjut pria 59 tahun ini.

Beruntung, Kustoyo memiliki keahlian mendalang. Secara tidak langsung, sebagai dalang profesional, kegiatan sosialisasi sedikit terbantu dengan keahliannya itu. Sebab, Kustoyo beberapa kali menampilkan tokoh pewayangan di acara sosialiasi KPU.

Misalnya, saat menggelar Warung Demokrasi di pemilihan kepala daerah (pilkada) awal tahun ini. Acara diskusi yang digelar setiap Jumat malam itu menyajikan tema beragam. Salah satunya, tentang peran perempuan dalam kancah perpolitikan.

Sebagai dalang, Kustoyo memiliki banyak referensi cerita pewayangan yang mengisahkan kehebatan wanita di pemerintahan. Kala itu, pria kelahiran Nganjuk, 17 Oktober ini bercerita tentang Srikandi, istri Arjuna, yang berhasil mengalahkan Bisma dalam peperangan. “Jadi Srikandi ini saya contohkan sebagai perempuan yang biasa tampil di gelanggang,” kenangnya.

Dari cerita itu, dia berharap ketokohan Srikandi jadi pemantik perempuan untuk ikut berperan dalam perpolitikan. “Karena peran perempuan juga besar di politik,” tukas suami dari Lilis Rusmini.

Di lain waktu, Kustoyo pernah menampilkan sebuah gending saat pembukaan acara rumah pintar pemilu (RPP) di kantor KPU. Biasanya, gending itu dipentaskan dalam setiap pewayangan. “Saya sengaja rekam dulu gendingnya. Lalu saya putar di pembukaan RPP,” urainya.

Sejak kapan Kustoyo suka dengan pewayangan? Ditanya demikian, dia mengaku sudah senang dengan budaya asli Jawa itu sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Darah seni itu mengalir dari ayahnya, Cokro Prawiro, yang seorang pemain wayang.

Dari sana, Kustoyo sering dibelikan wayang. Karena itu, dia mulai belajar otodidak di rumah. Aktivitas itu berlanjut saat meneruskan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.

Sebenarnya, dia mengambil jurusan yang jauh dari dunia seni. Yakni, teknik sipil. Namun, selama di kampus, Kustoyo aktif di organisasi mahasiswa karawitan. Dari wadah itu, kemampuan mendalangnya semakin terasah. “Saya sering tampil bersama teman-teman karawitan,” bebernya.  

Selepas kuliah pada 1980, Kustoyo memilih hijrah ke Jakarta sebagai kontraktor. Meski demikian, dia tetap aktif di dunia kesenian bersama teman-temannya di Ibu Kota. Makanya, Kustoyo juga kerap mendalang di sela-sela kesibukan pekerjaannya itu.

Sekitar sepuluh tahun di Jakarta, Kustoyo akhirnya pulang ke kampung halamannya di Patianrowo. Di rumah, dia semakin dekat dengan dunia wayang. Apalagi, Kustoyo termasuk pengasuh padepokan Trah Asmo Prawiro yang didirikan Harmoko, mantan Menteri Penerangan di era Orde Baru.

Meski sudah menjadi anggota KPUD Nganjuk selama dua periode, dia mengaku tetap bisa membagi waktu. Di periode pertama pada 2009-2014, dia kerap menerima tanggapan sebagai dalang. Bahkan, suatu kali ada partai politik (parpol) yang mengundangnya. “Kebetulan parpol tidak tahu kalau saya juga dalang,” tandasnya seraya tertawa.

Di periode kedua, Kustoyo mulai mengurangi aktivitasnya sebagai pedalang. Untuk itu, dia jarang menerima tanggapan lagi. Namun, dengan bekal ilmu pewayangan yang mumpuni, dia tidak mau membuang kesempatan ketika seni itu dipadukan dalam acara sosialiasi pemilu. “Karena wayang dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari,” imbuhnya. (ut) 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia