Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

- - Sandiwara - -

24 Desember 2018, 17: 28: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

- - Sandiwara - -

Share this          

Berita Terkait

Sudah berapa kali Anda bersandiwara hari ini? Bila ada yang tidak terhitung, Anda selayaknya mendaftarkan diri ke Museum Rekor Indonesia (Muri). Siapa tahu setelah terdaftar di Muri, undangan menjadi bintang film atau politisi menanti Anda. Aku meyakini, kesuksesan pasti menyertai mereka yang sudah melewati level tertinggi menjadi pelaku sandiwara. Kalau boleh diberi level, kesuksesan itu ada pada tingkat master.

Bila masih coba-coba, kesannya pasti mencla-mencle. Pelaku sandiwara di level terendah tidak akan mendapat simpati banyak orang. Gampang ketahuan. Bila di panggung bisa disoraki dan dilempar sandal. Karena itu, butuh waktu untuk meningkatkan pengalaman dan jam terbang. Termasuk terus belajar. Bila perlu ikut kelompok atau komunitas yang berhubungan dengan peran.

Biasanya, sandiwara bisa dilatih di komunitas seni peran. Masuk kelompok teater atau dunia akting perfilman. Sekarang, banyak tempat untuk mengasah kemampuan bersandiwara. Anda bisa masuk ke partai politik atau komunitas pencari laba (bisnis). Bila di seni peran butuh penghayatan maka nonseni menyebutnya trik dan intrik. Aku menyebutnya kepalsuan.

Trik dan intrik bukan penipuan. Karena itu, sandiwara kelas kakap ini tidak bisa dikenakan pidana. Ada konglomerat menyaru miskin. Menciptakan image seperti orang tak punya. Lalu pemalas menyulap dirinya menjadi gembel. Mereka meminta-minta di perempatan lampu merah. Rela berpura-pura menjadi cacat. Mengeksploitasi tubuh agar muncul kesan iba pada siapa pun yang menyaksikan tingkahnya.

Belum lagi tingkah politisi jelang pemilihan. Mendadak mereka mengklaim dirinya sebagai pembela rakyat. Lebih serius lagi, mengkultuskan diri sebagai kelompok paling suci. Semua dilakukan dengan sandiwara yang matang. Cara itu dipakai untuk menarik minat pemilih. Kalau bisnis, menarik minat konsumennya. Atau kliennya yang akan menjadi sasaran tembak.

Sudah banyak yang melakukan sandiwara itu untuk dapat perhatian banyak orang. Tidak ada yang lebih spesial dari pelaku sandiwara ketika dia berhasil meyakinkan orang untuk mempercayainya. Misal, pelaku penjual produk berjaringan. Untuk meyakinkan calon konsumennya hendak bergabung, mereka biasa memajang foto saat bersama orang-orang hebat atau kaya. Untuk lebih keren lagi, drama yang dipakai adalah mengambil foto di samping mobil atau motor mewah.

Terkadang, untuk mendatangi calon anggotanya mereka rela menyewa mobil agar terlihat layak dan pantas diikuti. Sandiwara seperti itu perlu dilakukan untuk menciptakan usaha berjaringan itu sangat menjanjikan. Itu salah satu trik yang dipakai untuk meyakinkan calon pelanggan atau anggota baru. Dan masih banyak lagi yang dilakukan oleh kelompok bisnis ini untuk membuat orang percaya dengan apa yang dikerjakannya.   

Ketika cara yang dilakukan kelompok bisnis berjaringan itu berhasil, maka muncul anjuran agar orang-orang punya kemampuan lebih. Tidak hanya pandai ngomong atau berkomunikasi ke publik, tapi harus diikuti dengan tindakan dan gaya hidup yang pantas ditiru. Setidaknya, rapi dan bersahaja. Tidak urak-urakan.

Sialnya, sandiwara itu diterapkan untuk menyelamatkan diri sendiri. Masa bodoh sama orang lain. Cara ini sadis sekali. Teman, bahkan saudara sendiri bisa disikat. Cirinya, menyulap situasi dari penganiaya menjadi teraniaya. Untuk mempermudah aktingnya, harus ada yang dikambinghitamkan. “Karena ini, karena itu, saya jadi seperti ini,” lontaran kalimat seperti itu cenderung menyalahkan dan cari selamat.

Pelaku sandiwara yang baik punya seribu topeng. Ketika melakukan aksinya, hanya malaikat yang boleh tahu ia sedang bersandiwara. Praktik-praktik penggunaan topeng itu kerap berseliweran di koran-koran. Bila ingin menyaksikan dramanya gerak tubuh dan mimik wajahnya bisa dilihat di tv.   

Paling mudah melihat sandiwara di negeri ini ketika pejabat publik terjerat kasus korupsi. Bisa Anda cari jejak digitalnya. Agar tidak meringkuk di penjara, sandiwara pun dilakukan meski dengan cara konyol. Penyakit jenis apapun kerap jadi alasan agar tidak ditahan. Dari yang paling ringan, sakit perut sampai ke penyakit agak ganas. Seperti ginjal, jantung atau paru-paru. Semua dilakukan agar terhindar dari hukuman awal.

Sandiwara paling buruk dari kasus korupsi yang pernah ada adalah menabrak tiang listrik. Akibat kecelakaan itu korbannya mengalami luka benjol sebesar tai kerbau. Harapan dari kejadian itu adalah mendapat pengampunan dari rasa iba. Bukan karakter kita mengumpat kepada orang yang terkena musibah. Keinginannya mungkin mendapat pembelaan dari publik. Nyatanya, publik sama sekali tidak berempati atas kejadian itu.

Yang kedua, harapan pelaku sandiwara adalah amnesia. Ketika sudah lupa ingatan, bisa bebas. Demi menyempurnakan sandiwara itu, dokter diajak ikut serta memoles kejadian tersebut agar terlihat nyata. Pelaku sandiwara utamanya sukses menciptakan sekaligus menjerumuskan pelaku sandiwara lainnya. Sandiwara ini berbuntut panjang. Profesi kedokteran telah dilanggar.

Tidak bisa dibayangkan bila drama kecelakaan yang dapat stempel kedokteran tersebut mendapat kepercayaan publik dan penegak hukum. Pelaku dramanya bisa bebas. Sebab orang gila atau orang yang lupa ingatan tidak bisa proses hukumnya seperti orang waras.

Saking banyaknya orang bersandiwara, sampai lupa tuntutan hidup jujur dan amanah. Mereka lalu menjelma dan tumbuh subur di mana-mana. Tidak hanya dokter, profesi lain pun rentan terjerumus masuk pada sandiwara yang sama. Tak terkecuali wartawan. Misal, kasus korupsi Nganjuk.

Ketika Bupati Taufiqurrahman ditetapkan tersangka tahun 2017 lalu, ada oknum wartawan yang ikut terciduk ketika operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta. Ia jadi saksi dalam kasus itu. Aku hanya bisa bertanya-tanya, bila tidak di-OTT KPK, sandiwara apa yang akan dilakukan si wartawan? Lalu apa tujuannya bersandiwara? Anda mungkin sudah tahu jawabnya. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia