Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (3)

Cambuk Sodo Aren Ampuh Bikin Kebo Manut

24 Desember 2018, 17: 22: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

tradisi tiban

TRADISI: Warga sedang melakukan tiban . (PEMDES SURAT For radarkediri.id)

Share this          

Ritual minta hujan di lereng Wilis sudah ada sejak berabad silam. Bahkan, sebelum era penjajahan Belanda. Konon, awalnya di masa Kerajaan Kediri.

“Tradisi (tiban) ini sudah lama sekali. Sejak sebelum (penjajah) Belanda datang, para leluhur sudah melakukannya (ritual meminta hujan),” papar Sumadji, perangkat Desa Surat, Kecamatan Mojo, yang dikenal sebagai pewaris tiban di desanya.

Selama ini dialah yang dipercaya warga maupun pemerintah desa untuk membuat cambuk untuk perangkat ritual tiban. Sumadji mengungkapkan, bahan pecut tiban dibuat khusus dari sodo aren. Itu berupa lidi dari batang daun pohon aren atau kolang-kaling.

“Bahan pecut sodo aren itu saya cari di hutan Wilis. Yah terkadang sampai ke wilayah Blimbing atau Jugo (desa yang dekat dengan puncak Gunung Wilis),” papar ayah tiga anak ini.

tiban

LEBIH ULET: Modin Sumadji membawa cambuk tiban dari sodo aren di rumahnya, Desa Surat, Kecamatan Mojo. (Endro Purwito - radarkediri)

Mengapa memilih sodo aren? Kenapa bukan blarak, sodo kelopo atau lidi kelapa? Atau bahan dari rotan misalnya? Menurut Sumadji, karena tekstur lidi dari pohon aren lebih kaku. Selain itu, cambuk dari sodo aren juga lebih ulet. Lidinya alot. Sehingga awet, tidak gampang patah atau putus.

Kondisi itu berbeda dengan blarak atau sodo kelopo. Lidi dari dahan daun kelapa ini lebih lentur. Teksturnya pun cenderung lebih rapuh, sehingga mudah patah atau putus. Sementara rotan lebih keras. Kurang lentur. Tidak leluasa bila digunakan untuk memecut.

“Saat mengambil sodo aren dari pohonnya, saya pilih yang agak muda. Ini karena batangnya lebih ulet,” papar Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Desa Surat ini.

Sumadji memilih sodo aren yang panjangnya berkisar satu meter. Untuk membuat satu cambuk, ia memilin sebanyak 30 sampai 40  batang lidi. Sebelumnya, sodo itu telah dibelah dan dibersihkan. Dahulu tali pengikatnya juga dari bagian pohon aren. Sekarang ada yang memvariasi dengan tali rafia. Dalam sehari, rata-rata Sumadji bisa bikin sampai 10 pecut.

“Saya bikinnya malam. Di sela waktu istirahat. Bikinnya biasa saja, tidak ada ritual khusus,” akunya.

Menurut pamong senior Surat ini, sejak dahulu cambuk tiban asli memang dari sodo aren. Termasuk yang digunakan para leluhurnya yang menjadi pelaku tiban pertama di Desa Surat.

Konon sodo aren ini mulai digunakan untuk cambuk tiban ketika masa Kerajaan Kediri. Kala itu, rakyat kerajaan melakukan ritual dengan menjemur diri di bawah terik sinar matahari. Mereka memohon pengampunan pada Yang Maha Kuasa karena mendapat cobaan kekeringan akibat kemarau panjang.

Tanah kerajaan yang semula subur tiba-tiba kering dan tandus. Persediaan pangan di lumbung desa pun kritis. Petani tak dapat mengolah lahan lantaran tak ada air. Sungai-sungai pun mengering.

Cobaan ini konon karena penguasa Kerajaan Kediri yang memimpin dengan kesewenangan. Sang raja ditakuti oleh rakyatnya. Saking berkuasanya, raja ini merasa dirinya sebagai dewa. Dia ingin semua kawula menyembahnya sebagai Yang Maha Kuasa.

Namun ketika mendapat bencana kekeringan, sang raja tak mampu berbuat apa-apa. Di saat rakyat gelisah itulah, para demang meminta izin pada pejabat kerajaan untuk mengadakan upacara adat. Petani membawa sesaji hasil tanamannya. Peternak yang mempunyai lembu atau kerbau membawa cemetinya.

Di tanah lapang, upacara berlangsung dengan ritual menjemur diri. Namun, hujan tak kunjung datang. Di tengah ritual itu, sejumlah kawula lantas menggunakan cambuk untuk pelecut sapi dari sodo aren untuk memecut dirinya. Kemudian, tak hanya memecut sendiri. Mereka pun saling mencambuk.

Luka-luka bekas cambukan itu mengeluarkan darah. Namun, dalam kekhusyukan ritual adat tersebut, panas dan pedihnya pecutan tak dirasakan. Darah yang mengucur pun tak terasakan sebagai luka. Namun, seakan berganti dengan keikhlasan dan berserah diri.

Dalam suasana religius itulah, hujan kemudian turun. Tradisi itu akhirnya turun-temurun. Bahkan saat angon (menggemala) sapi atau kerbau dahulu, menurut Samudji, para penggembalanya suka memainkan pecut sodo aren ini. Ketika lahan kering dan rumput tak tumbuh lantaran tak ada air, terkadang mereka melakukan tiban sendiri.

“Dulu itu kalau angon kebo biasa bawa pecut sodo aren. Ya untuk melecut agar kebonya manut (menurut), tidak makan tanaman warga atau petani,” papar  kaur kesra ini.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia