Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (2)

Bancakan Tumpeng sebelum Adu Pecut

23 Desember 2018, 16: 46: 55 WIB | editor : Adi Nugroho

bancakan tuimpeng

SAKRAL: Warga menggelar selamatan dan bancakan tumpeng sebelum dilakukan ritual tiban. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Dalam gelar tiban tak sekadar beradu mencambuk. Atau cuma menari pecut. Namun ada upacara khusus. Warga membawa tumpeng dan memanjatkan doa.

Sebelum menggelar tiban, warga Desa Surat, Kecamatan Mojo akan berkumpul di lokasi dam atau waduk Kebo Menggah di Dusun Bonggah. Di dam tersebut mengalir aliran sungai dari Gunung Wilis. Tepatnya dari sumber yang berada di kawasan Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo.

“Di dam itulah sungai yang mengalir dari mata air Gunung Wilis dibendung. Fungsinya untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian warga di sini,” ungkap Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sumadji yang kala itu bersama Kepala Desa (Kades) Surat Edy Susanto di ruang balai desa.

Menurutnya, fasilitas air saluran irigasi para petani memang bersumber dari titik dam peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda pada sekitar 1938 itu. Terutama ketika musim hujan. Namun, saat kemarau debit air di sana surut. Bila kemarau berkepanjangan, kondisi dam pun kering.

Di area itulah, lanjut Sumadji, warga yang akan melakukan ritual tiban membawa tumpeng. Olahan menunya berupa nasi lengkap dengan lauk pauknya. Selain sayur-mayur, tahu, tempe, dan sambal goreng, ada sajian masakan daging ayam maupun telur.

“Yang membawa tumpeng terutama adalah para petani pemilik lahan. Selain itu, ada puluhan warga yang datang. Termasuk yang akan melakukan tiban,” papar modin yang menjadi perangkat desa sejak 1980-an itu.

Di lokasi sekitar dam itu, menurut Samudji, warga bersama perangkat desa mengadakan upacara selamatan. Biasanya siang hari, sekitar pukul 11.00. Acaranya seperti kenduri. Peserta upacara duduk melingkar beralas tikar di tanah sekitar waduk. Tumpengnya diletakkan di tengah.

Mereka lantas memanjatkan doa-doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain memohon hujan, sekaligus juga berharap keselamatan dan kesejahteraan warga. “Setelah berdoa dan tahlil, kami makan tumpeng bersama. Selanjutnya, barulah ritual tiban dimulai,” jelasnya.

Saat ritual tiban meminta hujan ini, Samudji mengungkapkan, biasanya jumlah pemainnya sepuluh pasang. Sehingga totalnya ada 20 orang. Mereka bermain bergiliran. Masing-masing tahap satu pasang. Satu pemain mempunyai kesempatan mencambuk lawannya sebanyak lima kali. Setelah itu, giliran lawan yang ganti memecutkan cemetinya. Jatahnya sama, lima kali.

“Pecut yang dipakai sama, panjang satu meter. Saya yang buat sendiri dari sodo aren,” paparnya.

Begitu seterusnya hingga sepuluh pasang pemain tiban itu selesai melakukan ritualnya. Arena adu cemeti tersebut berlangsung tanpa panggung. Cukup di tanah yang agak lapang dekat dam. Selama adu mencambuk itu, pemain juga melakukan gerakan menari.

Ada tabuhan musik tradisional yang mengiringi. Alat musiknya berupa sebuah jedor. Ini serupa gendang pendek dengan lingkar sekitar 155 sentimeter. Diameternya berkisar 48 sentimeter.

“Selain itu ada satu gendang dan tiga kentongan bambu. Total pemain atau penabuh musiknya lima orang,” terangnya.

Durasi waktu ritual ini pun tak terlalu lama. Samudji mengatakan, hanya sekitar 30 menit atau setengah jam sudah usai.  Begitu upacara dan ritual tiban paripurna, para pemain saling bersalaman. Selanjutnya, mereka pulang ke kediaman masing-masing. Sembari melangkah dalam perjalanan, warga berharap Yang Maha Kuasa mendengar doa dan permohonannya.

“Di sela aktivitas sehari-hari, kami juga menunggu hujan. Biasanya dua atau tiga hari kemudian, hujan turun,” tutur kaur kesra ini.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia