Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Events

Liputan Spesial Hari Ibu: Kumpulkan Anak, Ajari Mengaji

23 Desember 2018, 16: 01: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

hari ibu

MEMBERI MOTIVASI: Endah Lukito Rini bersama anak-anak di sekitar lingkungan kampungnya yang belajar mengaji di rumahnya. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Sepeninggal suaminya, Endah Lukito Rini harus menjadi orang tua tunggal. Berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi kedua anaknya justru membuatnya semakin kuat menjalani hidup. Jiwa sosialnya pun tergerak.

Endah kini menjadi relawan multisektor.  Meski padat aktivitas sosial, namun bagi perempuan 45 tahun ini, keluarga tetap nomor satu, terutama kedua putranya. “Sebagai seorang ibu, anak adalah segalanya. Karena merupakan harta saya di dunia dan akhirat yang tak ternilai,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Apalagi pekan ini, Rosenda Diko Mahendra Putra, putranya, baru saja menjalani operasi karena sinusitis. Endah sempat terpukul, khawatir dengan kondisi anak bungsunya itu. Meski demikian, ia tetap kuat, selalu memberi motivasi dan semangat.

“Awalnya anak saya dioperasi tidak mau, saya khawatir kalau dibiarkan bisa fatal akibatnya. Terus saya beri wawasan dan meyakinkan hingga dia mau operasi,” ujarnya dengan nada bergetar.

Saat ini putranya Diko belajar di pesantren. Endah selalu menyempatkan diri untuk menjenguk setiap dua minggu. Sementara putrinya, Rosenda Agita Devi, menempuh kuliah di salah sau perguruan tinggi di Kota Kediri. “Saya selalu mendengarkan curhatan, juga keluhan anak-anak kapan saja,” katanya.

Padahal sehari-hari Endah aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Dia tergabung menjadi sejumlah kader, baik kelurahan, kecamatan maupun kota. Mulai dari PKK Kelurahan Gayam, anggota satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Mojoroto, relawan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), kader posyandu, kader KB, dan anggota kader pemberdayaan masyarakat (PKM) Kota Kediri.

Kesibukannya tak membuatnya lelah. Justru menolong sesama memberikan kepuasan tersendiri bagi warga Kelurahan Gayam, Mojoroto ini. Termasuk saat ini dia mengumpulkan anak-anak sekitar lingkungan rumahnya untuk belajar mengaji.

“Awalnya sulit mengajak anak di daerah saya untuk ngaji. Saya datangi, akhirnya mau dan sekarang cukup antusias,” tandasnya.

Sekarang yang mengaji di rumahnya mencapai 40 anak. Semuanya dilakukan sukarela. Tanpa ada biaya. Yang terpenting anak-anak di lingkungannya punya dasar agama. Karena selama ini kondisi lingkungan sangat tidak mendukung untuk pertumbuhan anak dengan baik.

“Dasar agama dan juga kedisiplinan. Yang penting dasar dulu, imannya itu kita tata, agar anak-anak dalam pergaulannya tidak salah jalan,” jelasnya.

Endah mengaku, kesulitannya adalah mencari teman guru ngaji yang mau sukarela mengajar. Dia bersyukur telah menemukan satu ibu-ibu yang sepemikiran dengannya. Guru mengaji itu adalah Nurikah.

Selain mengajar mengaji, Endah menjadi relawan ODGJ. Dia sering mengantar ODGJ di lingkungannya berobat di RSJ Lawang, Malang. Terutama yang dari keluarga kurang mampu. “Menjadi relawan ini ada kepuasan tersendiri bagi saya. Apalagi bisa membantu orang tidak mampu. Walaupun kadang capek, tapi kalau melihat mereka senang, saya juga ikut senang,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia