Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Events

Hari Ibu: Kasih Ibu Sepanjang Hayat

Harus Lihai Atur Waktu

22 Desember 2018, 15: 34: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

hari ibu

SALING SAYANG: Nafiah dengan Arjuna dan Anabel.

Share this          

Peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember selalu memberi makna khusus. Ibu memiliki peran sentral dalam keluarga. Terutama bagi anak-anaknya.

Menjadi seorang ibu merupakan mimpi setiap perempuan. Tak terkecuali bagi Malichatun Nafiah. Nafi –begitu ia akrab disapa–memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Keduanya, anak berkebutuhan khusus (ABK).

BERI MOTIVASI: Endah Lukito bersama anak-anak.

BERI MOTIVASI: Endah Lukito bersama anak-anak. (Didin Saputro - radarkediri)

Ya, Arjuna, 14, dan Anabel, 6, merupakan penderita thalasemia (kelainan pada sel darah merah). Tentu, bukan hal mudah menjalani hari-hari sebagai orang tua anak thalasemia. “Thalasemia itu berat,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Kediri.

Karena itu sebagai ibu, ia harus lihai mengatur waktu. Baik untuk suami, anak-anaknya, maupun pekerjaannya. Nafi adalah guru di sekolah dasar (SD) Al-Huda Kota Kediri. Ia mengajar teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Tak cukup di sana, Nafi aktif dalam olahraga dan kegiatan komunitas. Mulai olahraga lari, offroad hingga relawan Thalasemia Kediri. Meski begitu, kesibukannya tidak pernah menghambat kewajibannya sebagai seorang ibu.

“Benturan pasti pernah, tapi semuanya akan saya tinggalkan ketika anak-anak butuh saya. Anak itu nomor satu,” tegasnya.

Nafi pun mengakui, rekannya sesama guru sudah bisa memahami dengan ketidakhadirannya di sekolah. Bila tidak hadir, sudah pasti ia fokus merawat kesehatan anak-anaknya. Selama 14 tahun, dirinya jalani bersama sang suami, Ibrahim Asip, untuk merawat dua buah hatinya. “Anak-anak tiap tiga minggu harus cuci darah. Terkadang di Kediri, kadang di Surabaya. Saat itulah kita harus dampingi mereka,” tuturnya.

Ketika situasi kembali normal, Nafi kembali mengajar, kembali berolahraga, bercengkerama dengan alam, serta bertemu komunitasnya. Untuk membagi waktunya, ia mengutamakan kebutuhan keluarganya. “Mengurusi suami, anak dan rumah dahulu. Setelah beres, baru saya aktifitas di luar,” imbuh perempuan 39 tahun ini. Sang suamipun mendukung dirinya.

Nafi berharap, semua bisa menjadi sahabat bagi anak tahalasemia. “Biarlah hak-hak mereka tetap terpenuhi walaupun harus mendapat perawatan medis,” katanya. Nafi juga berpesan, agar setiap pasangan melakukan cek darah sebelum menikah. Untuk mengurangi risiko thalasemia.

Sementara itu, Ninuk Suci Rahayu Ningtyas pun menyayangi putranya. Pengalaman pahit getir kehidupan membuat dirinya lebih kuat. Perempuan berumur 55 tahun ini menjadikan pengalamannya menjadi sesuatu yang positif. Dia tidak ingin Galih Surya Hutama, anak semata wayangnya, merasakan hal serupa. Apalagi, sang buah hati, menderita kelumpuhan. Tulang ekornya divonis lemah oleh dokter sejak berusia 9 bulan. Praktis Galih hanya bisa duduk di kursi roda.

Meski begitu, segala cinta dan kasih sayang Yayuk – sapaan Ninuk Suci Rahayu –ditumpahkan pada anaknya. Betapa pun rasa lelah yang melanda, ia tidak pernah mengeluh dalam merawatnya. “Kalau bukan saya yang merawat, siapa lagi? Kalau capek fisik saya tinggal lemesin badan sebentar. Semua saya lakukan dengan ikhlas,” tuturnya.

Rasa manja yang dirasakan Galih bukan tanpa sebab. Ia manja karena pernah mengalami pengalaman buruk. Permasalahan keluarga yang membuat kedua orang tuanya berpisah. Sempat tinggal sebentar dengan sang Ayah, Galih merasa tidak nyaman. Ibu dan anak tersebut kembali lagi bersama. Hingga kini. Keseharian mereka memang selalu dihabiskan berdua. Bahkan ketika ditinggal keluar atau ada acara sebentar, Galih pasti akan mencari. “Pasti nelepon tiap jam,” ungkapnya.

Galih memang memiliki semacam trauma. Galih tidak bisa jauh dengan sang Ibunda. Terlebih, ia memiliki ketakutan kehilangan Yayuk. Kalau sudah terkena kepanikan tersebut, lambung terasa sakit. Seperti mulas.

Segala keterbatasan ditabraknya. Yayuk seakan tidak menghiraukan keadaan fisiknya sendiri untuk merawat sang buah hati. Justru dengan kehadiran Galih, ia menjadi lebih bersemangat.

Alhasil, keduanya tak terpisahkan. Namun, Yayuk sadar tidak bisa selalu bersama sang anak. Terlebih memanjakannya terus. Ia pun memberikan Galih pelatihan keterampilan. Untuk bekalnya kelak. Galih diikutkan pelatihan komputer. Dia memang memiliki ketertarikan komputer, bercita-cita menjadi desainer grafis.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia