Minggu, 19 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Musnahkan Paket dari Luar Negeri Tanpa Sertifikat Kesehatan

21 Desember 2018, 15: 38: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

ANTISIPASI: Musyaffak (tiga dari kanan) dan Herman Hoedoyo (kanan) melempar paket benih yang disita karena tak dilengkapi sertifikat kesehatan, kemarin.

ANTISIPASI: Musyaffak (tiga dari kanan) dan Herman Hoedoyo (kanan) melempar paket benih yang disita karena tak dilengkapi sertifikat kesehatan, kemarin. (M. DIDIN SAPUTRO - RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM)

Share this          

KEDIRI KOTA - Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya memusnahkan puluhan paket asal luar negeri (LN) kemarin. Pemusnahan yang berlangsung di Kantor Pos Besar itu berlaku untuk paket bibit dan tanaman yang tak lengkap persyaratannya. Seperti tak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan benih dari negara pengirim.

Pihak BBKP menyebut paket itu berpotensi menjadi media pembawa organism pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) dan hama penyakit hewan karantina (HPHK). Total, ada 67 paket yang berkategori itu yang dimusnahkan. Terdiri dari 64 paket media pembawa yang berasal dari tumbuhan dan sisanya media pembawa dari hewan. Barang-barang itu dimusnahkan dengan cara dibakar.

Menurut Kepala BBKP Surabaya M. Musyaffak Fauzi, paket yang dimusnahkan itu tak dilengkapi dengan dokumen persyaratan. “Kami ada persyaratan berkas untuk media pembawa dari luar negeri yang masuk ke Indonesia,” terangnya usai melakukan pemusnahan.

Persyaratan itu antara lain izin pemasukan barang berupa bagian tumbuhan dari Kementerian Pertanian (Kementan). Kemudian juga berkas sertifikat kesehatan benih atau phytosanitary certificate dari negara asal. Khusus untuk berkas dari kementan itu adalah untuk media pembawa berupa benih tanaman.

“Syarat tersebut wajib ada sesuai Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992,” tegasnya.

Musyaffak menjelaskan, bagian tanaman yang tidak dilengkapi syarat-syarat itu sangat berbahaya bila dikembangbiakkan di Indonesia. Terutama apabila tanaman tersebut membawa hama dan penyakit yang berbahaya. Atau yang dicegah masuk ke Indonesia. Termasuk jenis OPTK yang belum ada di Indonesia.

“Bagian tanaman tadi yang bisa dikembangbiakkan. Seperti benih, biji, ataupun umbi tanaman,” jelasnya.

Puluhan paket itu hasil dari penahanan selama 6 bulan. Terhitung mulai April itu. Pemiliknya rata-rata personal. Meskipun ada juga beberapa perusahaan. Terbanyak, paket berisi benih jagung dan sayuran. Ada juga kurma, ginseng, serta bagian tumbuhan yang sudah membusuk.

Menurut Musyaffak, bila paket itu sudah keluar dari pintu masuk dan diterima pemilik, mereka bisa dikenai sanksi hukum. Namun, jika belum tersebar, pihak BBKP akan melakukan penahanan pada barang. Kemudian paket itu akan dimusnahkan.

Paket-paket yang dimusnahkan kemarin berasal dari 15 negara. Di antaranya dari Amerika Serikat, Tiongkok, Thailand, Malaysia, dan Taiwan. Meski belum dilakukan pemeriksaan ada tidaknya OPTK atau HPHK pada paket tersebut tapi tetap dimusnahkan. Sebab, paket tak dilengkapi sertikat kesehatan dari negara asal. Hal itu sebagai upaya pengamanan maksimum.

“Kami sudah menduga apabila tidak dilengkapi sertifikat kesehatan berarti paket tersebut akan berbahaya. Walapun ada yang sudah dilengkapi persyaratan kesehatan, kami juga lakukan uji lanjutan untuk memastikan keamanan media pembawa tadi,” terangnya.

Sebagai contoh adalah kelapa yang kemarin juga sempat dimusnahkan. Media pembawa yang berasal dari Malaysia tersebut dikhawatirkan membawa fitoplasma lethal yellowing yang selama ini belum ada di Indonesia. Penyakit itu bisa menyebar ke perkebunan sawit. Padahal Indonesia merupakan negara dengan perkebunan sawit terbesar di dunia.

“Seperti di Amerika Latin, pernah ada kasus perkebunan kelapa sawit musnah gara-gara terserang lethal yellowing,” terangnya.

Selama ini BBKP benar-benar memproteksi agar penyakit-penyakit itu tak bisa masuk ke Indonesia. Salah satu upaya untuk menjaga kedaulatan pangan.

Sementara itu, Mega, salah satu pemilik paket yang berisi benih jagung mengaku bahwa paket miliknya tidak dilengkapi dengan surat izin dari Kementan. “Memang kesalahan kami. Kami keteteran mengerjakan izin menteri. Mungkin kurang persiapan,” ujarnya.

Dari kesalahan ini menjadikan pelajaran bagi Mega, ke depan dia akan mempersiapkan izin menteri dahulu. Yaitu sebelum melakukan impor barang yang berasal dari tumbuhan.

Pemusnahan kemarin disaksikan oleh Kepala BKSDA Jatim Wilayah Kediri Dadang Sugianto, perwakilan dari satreskrim Polres Kediri Kota, Kepala Kantor Pos Besar Kediri Herman Hoedoyo, perwakilan dari Kantor Bea Cukai Kediri, serta pemilik paket yang dimusnahkan.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia