Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kaya Keanekaragaman Hayati (6)

Jadi Rumah Berbagai Tanaman dan Satwa

17 Desember 2018, 19: 08: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

wilis

SUBUR: Pepohonan di Gunung Wilis. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Hutan lindung merupakan hutan yang dilindungi keberadaannya. Itu karena mempunyai peran penting menjaga ekosistem. Lalu, bagaimana cara melindunginya?

Hutan lindung di Gunung Wilis tidak seluas hutan produksi. Namun, keberadaannya memiliki peranan penting menjaga ekosistem. Hutan ini tidak langsung memberi dampak ekonomis. Tetapi jika tidak terjaga, sama saja bunuh diri.

Bagaimana tidak, bisa dibayangkan berapa hal negatif yang akan terjadi. Mulai rusaknya tanaman, hewan turun ke perkampungan, rusaknya ekosistem hingga longsor. Karena itulah kesadaran menjaga kelestarian dan pemanfaatannya adalah kewajiban bersama.

Hutan lindung Wilis yang termasuk wilayah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kediri luasnya hampir lima ribu hectare (ha). Kawasannya berada di tengah-tengah hutan produksi. Beberapa syarat dan klasifikasi agar kawasan hutan dikategorikan hutan lindung harus memenuhi tiga faktor utama. Itu untuk menentukan skoring.

Di antaranya kemiringan lahan, kepekaan terhadap erosi, dan intensitas curah hujan di daerah tersebut. “Di Wilis sudah memenuhi kriteria itu. Akhirnya bisa ditetapkan hutan lindung,” ujar Asisten Perhutani (Asper) Kepala Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (KBKPH) Kediri Hermawan.

Hutan lindung mempunyai fungsi pokok menjaga kualitas lingkungan dan ekosistem. Itu untuk menyimpan cadangan air, mencegah banjir, dan longsor. Namun tak hanya itu, hutan lindung juga difungsikan menjaga sumber daya genetika tumbuhan dan satwa di dalamnya.

Masih banyak potensi satwa yang bisa ditemukan di hutan lindung Wilis. Antara lain rusa, kucing hitam besar, budeng (sejenis monyet), dan beberapa jenis burung. Bahkan, dari beberapa cerita yang didapat, juga ada harimau di sana.

Untuk kekayaan tumbuhan dan tanaman lebih beragam lagi. Berbagai jenis pohon mulai trembesi hingga cemara tumbuh subur. Belum lagi berbagai tanaman obat di sana. Adapun warga sekitar mengenal tanaman obat itu dengan istilah lokal mereka. Seperti daun kelor Jawa, kina, sapu angin, gleges otot, sambiruto dan pule. “Tanaman ini ada yang dimanfaatkan dari daunnya atau kulitnya,” kata Hermawan.

Sayangnya, tidak semua warga mengenal jenis dan bentuk tanaman tersebut. Alhasil tidak semua tanaman obat itu dapat dimanfaatkan. “Kalau mereka ragu-ragu dengan tanaman obat baru, lebih baik tidak dikonsumsi,” terangnya.

Itupun belum semuanya dimanfaatkan secara maksimal. Meskipun begitu, pemanfaatan hutan harus tetap memperhatikan aspek pelestarian juga. “Ada tanaman obat, kopi, durian, udara yang sejuk dan banyak sumber air. Semua adalah potensi Gunung Wilis,” imbuh Hermawan.

Oleh karena itulah, usaha mengembangkan hutan Wilis harus semaksimal mungkin. Namun begitu, mesti tetap sesuai aturan. Penyelamatan dan pelestarian hutan juga harus dilakukan semua orang. Tak hanya pihak Perhutani. “Menjaga hutan itu kewajiban semua stakeholder yang ada. Tidak bisa hanya dilakukan satu atau dua pihak saja,” pungkas Hermawan.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia