Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kaya Keanekaragaman Hayati (5)

Tanami Tumpang Sari sesuai Ketinggian

17 Desember 2018, 18: 39: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

hutan wilis

LEBAT: Hutan Wilis saat dipotret dari atas. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Ada dua jenis hutan di lereng Wilis. Hutan Lindung dan Produksi. Untuk hutan produksi, penduduk bisa mendapat manfaat dengan memanfaatkan getah pinus. Atau menanam dengan cara tumpang sari.

Wilayah hutan di Gunung Wilis membentang di lima daerah. Yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Trenggalek. Wilayah hutannya pun telah dibagi-bagi per wilayahnya. Begitu pula yang ada di Kabupaten Kediri.

Berdasarkan bentang alam gunung Wilis, Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kediri mendapat jatah wilayah timur laut. Bersebelahan dengan wilayah hutan milik Nganjuk dan Tulungagung.

Secara umum, wilayah hutan KPH dibagi menjadi dua jenis. Yaitu hutan lindung dan hutan produksi. Dari pembagian tersebut sudah dapat dipahami apa perbedaannya. Erat kaitannya dengan pemanfaatan wilayah hutan.

Hutan produksi terfokus pada hutan dalam fungsi produksi. Yaitu sebuah kawasan hutan yang memiliki fungsi pokok menghasilkan. Dari hutan ini dihasilkan kayu maupun non-kayu.

Wilayah hutan produksi ini sendiri lebih luas dari hutan lindung. Menurut data dari KPH Kediri, wilayah hutan produksi tersebut memiliki luas sekitar 7,6 hektare. Dengan wilayah yang begitu luas, hutan produksi ini sendiri terbentang di beberapa kecamatan di Kabupaten Kediri. Yaitu Mojo, Semen, Banyakan, Tarokan dan Grogol.

Sejatinya pemanfaatan hutan produksi sangatlah banyak. Mulai dari pohon-pohon besar yang bisa dimanfaatkan hingga tanaman lain di bawahnya. “Kami menata fungsi hutan agar bisa diperuntukkan oleh semua pihak,” ujar Asisten Perhutani (Asper) Kepala Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (KBPKPH) Kediri Hermawan saat ditemui di ruangannya.

Berdasarkan keterangannya, dalam hutan produksi tersebut terdapat pohon pinus dan jati. Tentu saja pemanfaatan tersebut harus berjalan seimbang. Yaitu untuk lingkungan dan manusianya. Baik untuk penduduk yang tinggal di wilayah hutan maupun Perhutani.

Pohon pinus paling banyak berada di Kecamatan Mojo, Semen, dan Banyakan. Penduduk lokal yang tergabung dalam lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) bisa memanfaatkannya. Yaitu untuk diambil getahnya. Warga tinggal menyadap pohon tersebut setiap tiga hari sekali. Hingga akhirnya pada hari ke-15 getah tersebut sudah dapat dipanen.

Dalam setiap hektare, ada sekitar 1.300 pohon pinus. Masing-masing warga mendapatkan pohon pinus yang berbeda-beda untuk disadap. Kisarannya mulai dari 50 – 200 pohon. “Kalau rajin mencari getah, hasil yang didapatkan juga lumayan,” ungkapnya.

Dalam setiap 400 pohon pinus yang diambil getahnya dengan rajin akan menghasilkan uang sekitar Rp 1,6 juta. Bukan per bulan. Tetapi per 15 harinya. Sedangkan harga per kilo getah pinus tersebut hampir mencapai Rp 4 ribu. Pihak Perhutani sendiri yang membeli getah pinus tersebut.

Pohon pinus sudah bisa diambil getahnya pada umur 11 tahun. Dengan diameter pohon sekitar 60 sentimeter. Pohon itu bisa dimanfaatkan hingga mencapai umur 40 tahun.

Warga juga bisa memanfaatkan untuk tumpang sari. Menanaminya dengan jenis tanaman yang sesuai dengan ketinggiannya. Pada ketinggian di bawah 200 mdpl ditanami empon-empon. Yaitu rempah yang bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan.

Untuk ketinggian 300 – 600 mdpl ditanami tumbuhan umbi seperti porang. Sedangkan untuk ketinggian 700 mdpl bagus untuk ditanami pohon kopi. “Seperti yang ada di Irenggolo,” imbuhnya.

Prinsip yang dibawa Perhutani adalah melestarikan dan menjaga hutan. Namun, hal tersebut tentunya harus disertai dengan efek sosial terhadap warga lokal. “Lingkungan asri, sosialnya juga bagus,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia