Minggu, 16 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Jurus Sang Jenderal Kecil

16 Desember 2018, 18: 16: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Andhika Attar

Oleh: Andhika Attar

Hegemoni pemilu sudah bisa dirasakan dalam beberapa waktu terakhir. Mulai banyak intrik, isu dan serangan yang saling dilempar. Tak hanya pada satu kubu. Masing-masing kelompok sama saja. Kedua belah pihak melakukan hal yang serupa. Saling serang, saling menjatuhkan.

Tentunya, kedua kubu merasa pihaknya yang paling benar dan suci. Sebaliknya, kubu lawan adalah mereka yang tergolong dari orang terbuang. Pada intinya, kubu saya baik, kubu anda buruk. Begitulah realita yang ada.

Di tengah hiruk-pikuk tuduhan dan tudingan, tiba-tiba muncul seorang jenderal. Tidak gagah pun berwibawa. Tentunya tidak membawa pedang panjang seperti yang digambarkan dalam lagu aku seorang kapiten.

Sang jenderal datang dengan wajah yang lugu. Gerak yang lucu. Tingkah-polah yang bisa membuat lawan kalah karena gemas. Jenderal yang belum genap berumur tiga tahun itu tiba-tiba mengubah wajah politik di negeri tercinta.

Kelahirannya dirayakan segenap negeri. Hari berganti hari, ia semakin menarik perhatian. Sang jenderal kecil yang bergelar “Amat Sangat Lincah” tersebut mulai menaklukkan banyak hati.

Silakan bagi mereka yang mengingkari. Namun rasa-rasanya mayoritas warga sudah terpesona. Takluk di bawah polah sang jenderal. Pertanyaannya, apakah polah tersebut dibuat-buat? Apakah semua setingan belaka? Jika hal itu yang terbersit dalam benak, besar kemungkinan kita termasuk orang yang dengki.

Bagaimana tidak dikata dengki. Polah tingkah anak belum genap tiga tahun saja dicari celah dan salahnya. Tentunya ada yang salah dengan kita jika begitu. Sang jenderal tidak salah. Layaknya anak kecil, ia juga hanya bermain. Hanya mengeluarkan tenaga yang berlebih di umurnya tersebut. Lari ke sana-ke mari tanpa merasa dosa.

Tidak ada yang salah dengan Sang jenderal. Hanya saja, apakah jenderal tersebut memang sengaja diajak “berperang” atau sekadar numpang tayang?

Agaknya, sulit untuk tidak berpendapat seperti pilihan pertama. Kebanyakan kita akan berpikir tidak ada asap kalau tidak ada api. Semua hal yang dilakukan ada landasan dan dasarnya. Bahkan beberapa orang juga beribadah karena ingin masuk surga. Bukan sekadar ingin beribadah semata.

Sang Raja pasti memiliki banyak pertimbangan. Sang Raja pasti telah memikirkan untung dan ruginya. Apalagi mengingat ia memiliki banyak penasehat yang berada di sekelilingnya. Tentulah daripada mereka makan gaji buta diminta saja untuk mengalkulasi segala yang bisa terjadi. Hingga akhirnya tercapai kesepakatan untuk turut serta mengekspose sang jenderal.

Beruntung kalkulasi yang ada cukup akurat. Kemunculan sang jenderal dirasa mampu memberikan dampak besar bagi Raja. Semakin seringlah ia diajak serta dalam beberapa kesempatan. Hasilnya relatif sama, memuaskan. Sang jenderal memiliki caranya sendiri untuk menampilkan citra Raja menjadi semakin positif.

Agaknya lucu juga jika dalam pertempuran tersebut dimenangkan karena seorang bocah. Pasalnya, trik tersebut cukup baru dan belum banyak dipraktikkan. Pun dengan ajang pertempuran lima tahunan sebelumnya.

Rasanya perlu ada tindak lanjut dari akademisi dan praktisi untuk membuat survei. Yaitu pengaruh sang jenderal terhadap dukungan kepada Raja. Apakah signifikan? Apakah hanya sebatas gemas? Atau warga justru sang jenderal saja yang menggantikan Raja?

Terlepas apa hasil dari survei tersebut, perlu diacungi jempol pihak yang mengusulkan untuk mengajak jenderal masuk gelanggang. Orang tersebut perlu diberikan kredit.

Meskipun belum tentu bisa meningkatkan elektabilitas, namun setidaknya bisa menaikkan citra dan popularitas Raja. Bukan tidak mungkin, ke mana langkah Raja selagi sempat jenderal akan terus diajak serta.

Nampaknya, negeri ini rindu menjadi kanak-kanak lagi. Bebas, lepas tanpa beban melekat di pundak. Negeri ini ingin menjadi kanak-kanak lagi. Yang langsung lupa dan bermain lagi ketika ada temannya yang nakal. Negeri ini rindu menjadi kanak-kanak lagi. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia