Senin, 22 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kaya Keanekaragaman Hayati (4)

16 Desember 2018, 18: 09: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

wilis

MERAH: Gerombol buah kopi robusta milik Jumiran yang sudah siap panen. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Bicara tentang gunung, pasti tidak akan terlepas dari tumbuhan kopi. Di Desa Jugo, tepatnya di Dusun Besuki, ribuan pohon kopi robusta ditanam. Baik di hutan, maupun kebun.

Butuh waktu sekitar 40 menit dari pusat Kota Kediri menuju ke Dusun Besuki, Desa Jugo. Bila melakukan perjalan ke desa tersebut kita akan dimanjakan oleh visualisasi hutan, lembah, dan tumbuh-tumbuhan di sepanjang perjalanan.

Jika diamati, sepanjang perjalanan menuju ke Dusun Besuki itu ada satu atau dua batang pohon kopi. Pohon-pohon itu tertanam di pekaran warga. Di samping ataupun di depan rumah. Dan, bagi yang tahu jenis kopi pasti paham bila kopi itu berjenis robusta.

Warga di sini banyak yang menanam kopi,” jelas Jumiran. Kakek 70 tahun ini adalah seorang petani kopi. Rumahnya di Dusun Besuki.

Jumiran mengaku memiliki sekitar 100 pohon kopi robusta. Tanaman-tanaman itu dia tanam di pekarangan rumahnya. Kebetulan pada Kamis (13/12) ia baru saja  memanen kopi robusta yang sudah memerah warnanya.

Buah dari pohon kopi yang memiliki nama latin coffea canephora ini sejatinya berwarna hijau. Namun berubah warna menjadi merah ketika sudah memasuki masa panen.

Yang menarik, ketika hendak dipanen, buah kopi pasti diserang hama serangga. Namun, bagi petani seperti Jumiran, serangan itu tak terlalu dihiraukan. Sebab, itu justru membantu mereka menentukan masa panen. Karena serangga menyerang buah kopi yang sudah matang dan siap panen. Tak pernah  menyerang yang belum siap panen.

"Lebih mudah memilihnya. Jikalau ada yang sudah diserang serangga, ya, masih ada buah lain dalam satu tangkai," imbuhnya.

Pohon kopi robusta juga dikenal lebih banyak menghasilkan buah jika dibandingkan dengan pohon kopi lain. Seperti jenis arabika atau liberika. Karena itu dalam satu gerombol buah yang siap matang tak semuanya terkena hama serangga. Antara yang rusak diserang serangga dengan yang sehat masih lebih banyak yang sehat.

Selain itu, perawatan pohon kopi robusta juga lebih mudah. Keunggulan lain pohon kopi robusta terhitung lebih cepat panen dalam satu tahun. Hal ini yang membuat para petani kopi lebih memilih untuk menanam jenis ini.

Sudiro, 51, petani lain, mengatakan bahwa dia punya dua lahan kopi. Di dalam hutan dan di pekarangan rumah.  "Awalnya ditanam di hutan di lereng Pegunungan Wilis," jelasnya.

Untuk yang ditanam di dalam hutan, diproyeksikannya untuk kopi luwak. Karena memang, luwak hutan yang tersebar di pedalaman hutan lereng Pegunungan Wilis masih banyak. Dan dilindungi oleh Perhutani.

Sudiro menjelaskan hingga saat ini pengunjung dari desa lain, hingga luar kota kebanyakan masih mencari kopi robusta khas lereng Pegunungan Wilis. Para penikmat kopi itu masih penasaran dengan cita rasa kopi robusta yang ditanam di hutan lereng Pegunungan Wilis.(syi/fud)

Siapa yang tidak mengenal kopi robusta khas Gunung Wilis? Sebagian besar penikmat kopi setidaknya pernah mendengar nama itu. Kopi khas lereng Pegunungan Wilis

Desa Jugo, jika melewati jalur dari arah Kecamatan Semen, anda akan melihat di pekarangan rumah warga, entah di samping ataupun di depan rumah, mereka akan menemukan setidaknya ada satu atau dua pohon kopi jenis robusta. "Warga di sini banyak yang menanam kopi," ujar Jumiran, 70, salah seorang petani kopi robusta di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
z

Pernikahan Sedarah

21 Juli 2019, 21: 35: 44 WIB
z

Kembang Goyang Khabibah

21 Juli 2019, 20: 50: 28 WIB
z

Bawang Goreng Rasa Keju

21 Juli 2019, 20: 39: 19 WIB
z
z

Keripik Pisang Tsabit

21 Juli 2019, 19: 59: 36 WIB
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia