Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features
Komunitas Seniman Tato Bertemu di Kediri

Tak Pernah Menato Yang Belum 18 Tahun

12 Desember 2018, 17: 42: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

DETAIL: Seorang seniman tato menggambar di tubuh model saat berlangsung Festival Tato di GNI (5/12).

DETAIL: Seorang seniman tato menggambar di tubuh model saat berlangsung Festival Tato di GNI (5/12). (RAMONA VALENTIN – RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Menuangkan tinta di kulit. Membentuk lekukan gambar. Mereka menyebut wujud ekspresi diri. Dan tak melulu soal kriminal. Bahkan, mereka punya kode etik yang harus dipatuhi.

RAMONA TIARA VALENTIN

Dahi sang tattoo artist itu berkerut. Tanda sedang serius melukis di tubuh seorang model. Tangan, kaki, dan punggung sang model menjadi kanvasnya. Tempat menuangkan ide kreasinya.  Bisa bunga lengkap dengan warnanya. Atau wajah orang tersayang.

Detail gambar tak boleh terlewatkan sedikitpun. Sedikit saja lekukan tak sesuai pola akan mengubah bentuk gambar.

“Sebenarnya tato tak melulu soal kriminal. Itu memang stigma yang terbangun di masyarakat. Padahal banyak juga kalangan masyarakat hingga pebisnis yang menato bagian tubuh mereka,” ucap Zakaria Hari Subagio, tattoo artist.

Hari, yang juga ketua Tattoo Artist Community Kediri (Ketac) itu tengah berada di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Kota Kediri (5/12). Bersama ratusan koleganya dari seluruh Indonesia. Mengikuti festival tato.

Laki-laki yang akrab disapa Bagijo ini menjelaskan, tato justru wujud identitas. Mulai dari apa yang tergambar, identitas budaya, hingga identitas pribadi. Seorang yang bertato tak harus identik dengan penjahat. 

Soal adanya benturan sosial dan agama, Bagijo berdalih kembali ke keyakinan masing-masing. Bagi dia dan teman-teman komunitas, tato juga adalah wujud nguri-nguri budaya. Karena ada suku di Mentawai, Sumatra Barat, yang menggunakan tato sebagai salah satu tradisi mereka.

Tato, Bagijo memaparkan, merupakan proses memasukkan warna ke dalam kulit. Melalui jarum tentu saja. Membentuk gambar sebagai wujud identitas, seni, hingga keindahan.

Di kalangan seniman tato, mereka juga punya kode etik yang harus dipatuhi. Seperti yang ditato haruslah dewasa. “Anak-anak tidak boleh ditato. Minimal di atas 18 tahun,” tegasnya.

Permasalahan alat juga harus steril dan dalam pengawasan ketat. “Dan sebagai tattoo artist yang bertanggung jawab terhadap keselamatan klien. Harus mengganti jarum tatonya. Terdapat standart operasional prosedur (SOP) nya juga,” imbuhnya.

Komunitas ini memiliki banyak kegiatan. Di antaranya seperti yang terlaksana di GNI  itu. Ada juga kompetisi tato tingkat nusantara, jambore tattoo artist, bakti sosial ke sesama. Juga aktivitas sosial seperti memungut sampah yang berserakan di jalan saat carfreeday. Anggotanya pun memiliki latar belakang yang berbeda. Mulai dari tattoo artist, pebisnis, pengusaha, karyawan dan sebagainya.

Judianto, anggota komunitas dari Sidoarjo, berpendapat lain terkait tato. “Tato adalah seni yang memacu adrenalin. Orang yang punya tato berarti orang yang berani,” tegas Judi.

Apakah sakit? Laki-laki 34 tahun ini tertawa sambil menganggukan kepala. “Hei, tato itu 100 persen sakit. Saya pasang tato 2008 sampai sekarang masih ingat,” imbuh laki-laki bertato ikan koi di kaki kiri ini. 

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia