Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Features
Catatan Ekspedisi Wilis I

Di Balik Kabutnya Terhampar Hutan Pinus

Kaya Keanekaragaman Hayati (1)

12 Desember 2018, 17: 25: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

HIJAU MEMBENTANG: Hutan pinus menjadi salah satu kekayaan hayati di Pegunungan Wilis.

HIJAU MEMBENTANG: Hutan pinus menjadi salah satu kekayaan hayati di Pegunungan Wilis. ("FOTO DRONE" By M. ARIF HANAFI /JPRK)

Share this          

Salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan-hutan lereng Wilis adalah pinus. Selain sebagai penahan tanah dan penyerap air, pohon ini juga bisa dimanfaatkan untuk hal ekonomis.

Perjalanan menuju menuju ke Gunung Wilis, dari Kota Kediri, bisa melewati wilayah Kecamatan Mojo atau Kecamatan Semen. Bila melewati Kecamatan Semen, bisa ditempuh sekitar satu jam. Melewati Desa Semen, Kedak, Puhsarang, Selopanggung, kemudian mencapa Desa Jugo. Tepatnya di Dusun Besuki.

Di tempat ini, meskipun jarum jam sudah menunjuk pukul 09.00, suasananya masih seperti pagi hari. Kabut tebal masih menyelimuti.

Dari balik kabut tersebut samar-samar terlihat hijaunya tanaman yang tumbuh. Baik itu di kanan kiri jalan, ataupun di hutan-hutan yang ada di lereng gunung. Dan, mayoritas pohon yang tertanam adalah pinus.

Menurut warga, pohon pinus banyak tertanam di lereng Wilis. Bahkan hingga mendekati puncak. Penanaman pinus juga bukan tanpa alasan. Karena tanaman yang tinggi menjulang ini punya banyak manfaat.

Yang pertama, keberadaan pohon pinus di hutan Pegunungan Wilis digunakan sebagai tanaman k pencegahan longsor. Maklum, bila tak diantisipasi, kondisi tanah di pegunungan sangat rawan longsor. Karena bertebing curam. Risiko besar bila hujan yang turun tak tertahan oleh akar-akar pohon. Dengan adanya pohon pinus, air hujan tidak akan langsung turun dan membasahi tanah. Tugasnya untuk intersepsi air hujan itu.

Fungsi lain adalah akarnya. Akar pohon pinus yang berjenis tunggang juga berperan sebagai penahan tanah. Agar tidak mudah terseret longsor oleh derasnya air hujan.

Keberadaan pohon pinus di sekitar Dusun Besuki, Desa Jugo, juga bisa dirasakan manfaat lainnya. Yaitu dengan cara menyadap getah dari batang pohonnya. Hasil olahan  getah pinus itu menjadi gondorukem (resina colophonium). Diperoleh setelah proses penyulingan.

Buat apa gondorukem tersebut? Hasil pengolahan getah pinus ini bisa dijadikan terpentin. Atau pengencer cat. Mereka yang menyadap getah pinus adalah warga. Yang kemudian disetorkan ke Perhutani sebagai pemilik lahan.

Memang, seluruh hutan pinus berada di area Perhutani. Aturan ketat agar tidak ada penebangan liar pun ditegakkan. Selain untuk melindungi tanah, pinus juga jadi penyokong sektor ekonomi warga.(bersambung)

(rk/die/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia