Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (8/Habis)

Makam Tak Bernama itu Milik Pahlawan Nasional

11 Desember 2018, 15: 53: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

tan malaka wilis

WISATA: Papan kayu yang menjadi penunjuk lokasi Tan Malaka di Desa Selopanggung, Semen. (DIDIN SAPUTRO - radarkediri.id)

Share this          

Gunung Wilis menjadi lokasi persembunyian yang aman. Tak hanya sebagai jujukan gerilya Soedirman, di tempat ini juga menjadi lokasi pelarian Tan Malaka. Hingga tokoh itu meninggal dan dimakamkan di tempat ini.

Pegunungan Wilis disebut-sebut sebagai lokasi persembunyian yang paling bagus sejak zaman dulu. Di zaman kerajaan beberapa cerita persembunyian ada di sejumlah naskah kuno. Di era kolonial Jepang, ada bukti penemuan bungker dan landasan pesawat terbang. Di era kemerdekaan juga menjadi rute gerilya Panglima Besar Soedirman. Juga, daerah ini menjadi jujukan Tan Malaka, tokoh nasional yang kala itu dianggap cenderung berpaham kiri. Hingga pahlawan nasional itu meninggal dan dimakamkan di salah satu desa di Lereng Wilis.

Tak sulit untuk menuju lokasi makam pahlawan nasional satu ini. terletak di lembah Dusun/Desa Selopanggung, Semen. Sekitar 1,5 kilometer dari jalan utama menuju daerah Besuki, Jugo. Plang papan penunjuk sejumlah tempat wisata sudah terpasang di tepi jalan. Termasuk wisata religi Tan Malaka. Jalan yang dulunya hanya bebatuan sekarang sudah diaspal bagus. Menyambut pengunjung yang menuju ke lokasi makam.

“Baru 2018 ini akses ke makam diperbaiki,” kata Saiful, warga setempat.

Memang lokasi makam tersebut ada di daerah lembah. Satu kompleks pemakaman warga setempat. Tak jauh dari lokasi tampak seonggok batu raksasa yang bernama watu Jagul. Untuk menuju makam, harus melewati puluhan anak tangga. Cukup curam. Kemiringannya 45 derajat lebih.

Dari keterangan warga, dulu makam tersebut hanya ditandai dengan sebuah batu. Namun sekarang sudah diberi nisan yang layak. Tertulis nama Ibrahim Datuk Tan Malaka. Lengkap dengan status Pahlawan Republik Indonesia sesuai keputusan Presiden pada 1963.

Makam yang ada di tengah area tegalan itu menjadi terkenal setelah hasil penelitian ahli sejarah asal Belanda, Herry Poeze, menemukan lokasi makamnya 2007 silam. Padahal sebelumnya warga sekitar tidak ada yang mengetahui makam siapakah itu. Yang jelas, dari keterangan warga, makam tersebut sudah ada sejak dahulu. Hanya dikenal dengan makam seorang yang diduga ditembak mati pasca-kemerdekaan.

“Kata kakek, dulu ada orang yang menginap di daerah sini. Dia sembunyi. Tapi pas malam hari, keluar tanpa pamit dan pagi hari tidak ada kabar,” katanya, mengulang cerita leluhur.

Dari keterangannya, kala itu warga ada yang bercerita mendengar tembakan di malam hari. Pada hari setelahnya, juga ditemukan makam namun tidak ada penjelasan makam siapakah itu. Yang jelas, selama 58 tahun makam itu tak bertuan. Hingga 2007. Setelah ada kabar tersebut, keluarga Tan Malaka beberapa kali datang ke makam di Selopanggung.

“Terakhir mereka melakukan ritual dan mengambil tanah di makam,” tegas pria yang karib disapa Mbeling tersebut.

Kedatangan keluarga dari Sumatera Barat, tempat kelahiran Tan Malaka, itu tepatnya pada 21 Februari 2017. Jenazah Tan Malaka secara simbolis dipindahkan dari Kediri ke Sumatra Barat. Hal ini diupayakan oleh keluarga besar Tan Malaka dan kelompok yang tergabung dalam Tan Malaka Institute. Karena gagal membawa jenazah Tan Malaka secara utuh, mereka memutuskan untuk memulangkannya secara simbolis, yakni dengan membawa tanah dari pekuburan Tan Malaka.

Dari sejumlah sumber yang dihimpun, Tan Malaka menuju ke Kediri Setelah pemberontakan PKI/FDR di Madiun ditumpas pada akhir November 1948. Di sini dia mengumpulkan sisa-sisa pemberontak PKI/FDR yang saat itu ada di Kediri. Kemudian dia membentuk pasukan Gerilya Pembela Proklamasi.

Pada Februari 1949, Tan Malaka ditangkap bersama beberapa orang pengikutnya di Desa Pethok, Mojo. Mereka ditembak mati di sana. Tidak ada satupun pihak yang tahu pasti di mana makam Tan Malaka. Dan siapa yang menangkap dan menembak mati dirinya dan pengikutnya.

Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap dari penuturan Harry A. Poeze. Yang menyebutkan bahwa pihak yang menangkap dan menembak mati Tan Malaka pada 21 Februari 1949 adalah pasukan TNI di bawah pimpinan Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia