Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Anang Iskandar Jelaskan Rehabilitasi Pengguna Amanat UU

Pengedar Narkoba Harus Dimiskinkan

11 Desember 2018, 15: 22: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

anang iskandar

PRO REHABILITASI: Anang Iskandar saat ditemui di Hotel Penataran. (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Share this          

KEDIRI KOTA – Selama ini banyak orang mengira seorang penyalahguna narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) adalah juga seorang pengedar. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Bisa saja seorang pengguna adalah korban dari pengedar.

 “Kalau penyalahguna saja, tidak bisa disebut pengedar kalau orang tersebut tidak mengambil keuntungan dengan menjual narkotika,” kata Anang Iskandar, mantan Kepala BNN, saat ditemui di Hotel Penataran, kemarin.

Menurut Anang,  di Indonesia, jaringan pengedar narkotika harus diperangi. Bila tertangkap mereka seharusnya dihukum sangat berat. Selain penjara, pengedar juga harus dimiskinkan. Dengan pembuktian terbalik terkait tindak pidana pencucian uang. Pengedar itu harus membuktikan bahwa harta yang dimilikinya tidak berasal dari penjualan narkotika. Bila tak bisa membuktikan maka harus dimiskinkan.

“Dipenjara, dimiskinkan, dan diputus jaringan dengan dunia luar saat berada di penjara. Agar tidak bisa berkomunikasi dengan pengedar lain yang mungkin masih akan terus menghubungi,” tegasnya.

Sementara, seorang penyalahguna narkoba ibarat orang sakit. Yang harus segera diobati. Caranya dengan direhabilitasi agar kecanduannya berkurang dan hilang sama sekali.

Namun, untuk memastikan dia kecanduan atau tidak harus diperiksa melalui laboratorium forensik. Jika terbukti ada kecanduan berat atau ringan langsung dirujuk ke psikiater.

Bila terbukti dia adalah pemakai, saat sidang hakim diberi kewenangan ekstra. Yaitu vonis untuk penyalah guna adalah rehabilitasi. Baik itu salah atau tidak. Hal itu, menurut Anang, mengacu pada UU no 35 tahun 2009 tentang Narkotika. “Kalau pada persidangan biasa, jika terdakwa terbukti bersalah maka hakim dapat memvonis hukuman penjara. Namun apabila tidak terbukti bersalah maka hakim dapat membebaskan terdakwa.  Dalam UU Narkotika, bersalah atau tidak bersalah, pemakai atau penyalahguna harus direhabilitasi,” terangnya.

Mantan Kabareskrim itu juga mengatakan, seiring berkembangnya zaman, seharusnya masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi tentang bahaya narkoba. Selain merugikan orang lain, narkoba juga dapat merugikan diri sendiri, karena efek kerusakan pada tubuh dan jiwa dari penggunaan narkoba dapat berujung dengan kematian.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia