Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
Tauhid Wijaya

Bukan Pembual yang Baik

10 Desember 2018, 16: 14: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Tauhid Wijaya

Tauhid Wijaya

Share this          

   Speechless. Itu problem yang tidak baik untuk seorang pencerita. Begitu yang disampaikan Doan Widhiandono, redaktur Jawa Pos, ketika sharing dengan awak redaksi Jawa Pos Radar Kediri, Jumat malam (7/12) lalu.

   Ya. Bagaimana seorang pencerita bisa menyampaikan kisah kepada orang lain jika dia tidak bisa berkata-kata? Berkata-kata adalah proses yang tidak lahir begitu saja. Ia merupakan hasil dari rekaman atas pengamatan, pengetahuan, dan olah pikir sang pencerita.

   Speechless alias tidak bisa berkata-kata menjadi cerminan dari mandek-nya atau justru ketiadaan dari proses di atas. Mata benar melihat. Telinga betul mendengar. Hidung memang mencium. Lidah pun mengecap. Kulit juga merasakan. Akan tetapi, proses melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan merasakan tersebut hanya berhenti di situ. Tak ada proses olah pikir lebih lanjut. Memilih. Memilah. Lalu melahirkan untaian kata-kata yang menjadi cerminan dari hasil olah pikirnya.

   Mandeknya proses tersebut akan tercermin dari jawaban dia ketika ditanya tentang gambaran dari objek yang baru dikunjunginya. Atau, peristiwa yang baru dialaminya. “Hai, bagaimana kondisi Kelud sekarang?” Atau, “Hai, bagaimana kabar taman bunga matahari di Kelurahan Pojok itu?”

   “Waduh, pokoknya bagus deh. Kamu harus ke sana. Aku tidak punya cukup kata untuk menggambarkannya.” Ini adalah jawaban dari seorang pencerita yang buruk. Yang mencerminkan mandek-nya proses di atas. Pengamatan dan pengetahuannya hanya berhenti pada kekaguman. Ini buruk bagi seorang pencerita.

   Kekaguman adalah soal subjektivitas. Rasa kagum seseorang belum tentu sama dengan orang yang lain. Masing-masing memiliki ukuran sendiri. “Amazing!”, “Wow!”, “Luar biasa!”, “Gilaaa...!” akan sangat tergantung pada siapa yang mengucapkannya.

   Kata-kata itu akan dengan mudah keluar dari orang-orang yang kurang piknik, barangkali. Sehingga, bagi mereka, hampir semua hal adalah baru. Dan, yang baru akan menimbulkan kesan pertama. Kesan pertama, biasanya, selalu menggoda. Berbeda dengan kesan-kesan berikutnya.

   Pada orang yang sudah mendapatkan kesan-kesan berikutnya itu, kosakata “Amazing!”, “Wow!”, “Luar biasa!”, atau “Gilaaa...!” semakin sulit untuk terucap. Kecuali dia menemukan hal-hal yang baru lagi. Yang belum dialami. Yang belum diketahui. Yang belum dieksplorasi.

   Maka, seorang pencerita yang buruk tidak akan berhasil untuk menarik perhatian orang-orang seperti itu. Sebab, dia tidak mampu mengeksplorasi setiap sudut yang paling menarik dari sebuah objek yang hendak diceritakannya. “Pokoknya bagus!”

   Ini pula yang menjadi problem bagi daerah ketika hendak menarik perhatian orang luar untuk berkunjung ke wilayahnya. Para pemegang kebijakan dan aparaturnya harus mampu menjadi pencerita yang baik kepada orang-orang di luar sana.

   Dan, cerita yang baik tidak cukup diartikulasikan dengan kata-kata ekspresif seperti di atas. Harus ada eksplorasi atas sudut-sudut yang menarik dari objek yang hendak diceritakan. Tentang wisatakah. Tentang investasikah. Atau, tentang hal-hal lain yang membuat siapa saja yang tinggal atau berkunjung di wilayahnya merasa nyaman.

   Eksplorasi atas detail-detail yang menarik itulah yang memang bukan pekerjaan gampang. Sebab, seringkali, kita tidak menyadari atau tidak mengetahui bagian mana dari diri kita yang bisa menarik perhatian orang lain. Apalagi bagi pribadi-pribadi yang introvert. Yang sudah tidak percaya atas potensi dirinya sendiri. Sementara bagi yang ekstrovert, terkadang salah pilih. Yang dieksplorasi justru bagian yang membuat orang lain semakin mengerenyitkan dahi.

  Menjadi pencerita yang baik harus benar-benar mau melakukan semua proses di atas. Mengetahui. Mengamati. Mengumpulkan data-data. Memilah. Memilih. Menganalisis. Lalu, mana detail-detail yang baik dan menarik yang harus dikisahkan. Mana juga yang harus disisihkan atau dibuang dan tak perlu dikisahkan.

   Penguasa, pengusaha, atau siapa saja yang ingin memasarkan daerah maupun produknya harus bisa menjadi pencerita yang baik. Sebab, tidak mungkin mereka hanya menjawab, “Saya sampai speechless!” ketika ditanya orang tentang potensi daerah atau keunggulan produknya. Tidak cukup pula mengatakan “Wow!” atau “Amazing!” untuk daerah atau produk yang dijualnya. Karena di mata orang-orang yang sering piknik, jawaban itu bisa dianggap keluar dari seorang pembual yang baik. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia