Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Misbachuddin, Persikmania yang Meninggal saat saat Nonton Persik

Pingsan di Pelukan Anak pada Awal Babak II

10 Desember 2018, 13: 27: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

persikmania

BERDUKA: Suasana saat pemakaman Misbachuddin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Kecintaan Misbachuddin terhadap Persik tak perlu dipertanyakan lagi. Yang dibuktikan hingga akhir hayatnya.

ANDHIKA ATTAR

Suasana Stadion Brawijaya kala itu bergemuruh. Suara dan pekik sorak Persikmania memenuhi. Namun, riuh gempita itu seperti tak terdengar oleh Ilham Afif Amrullah. Pemuda itu justru bingung dengan kondisi sang ayah di sampingnya.

“Ayah jatuh pingsan di pelukan saya pada menit-menit awal babak kedua,” cerita  Ilham, anak anak keempat Misbachuddin.

Yang muncul di benaknya saat itu ganti pertanyaan galau. Ada apa dengan ayahnya? Apalagi, sepengetahuannya, ayahnya tak memiliki riwayat penyakit yang parah. Hanya sebulan terakhir sempat mengeluh asam urat dan kolesterolnya meningkat.

“Sudah saya larang untuk ikut nribun tapi tetap ngotot ikut,” aku remaja yang bersekolah di SMK Negeri 1 Ngasem itu.

Sejatinya, Afif tahu larangan tersebut pasti hanya menjadi angin lalu. Melarang sang ayah menonton Persik Kediri sama saja seperti melarang Romeo – Juliet saling mencintai. Hampir semua orang tahu bagaimana megahnya cinta mereka dalam karya Shakespare itu. Seperti itu pula cinta Misbachuddin pada tim kesayangannya.

Afif bercerita, awalnya napas ayahnya tersengal. Remaja 17 tahun itu mencoba memberi minum. Namun, kondisinya tak membaik. Bahkan pingsan. Dia pun segera meminta bantuan tim medis.

Dan, akhirnya, nyawa pria 61 tahun itu tak dapat diselamatkan. Pak Bach, begitu ia biasa dipanggil, mengembuskan napas terakhir. Meninggal dalam perjalanan menuju RS Gambiran II.

Di awal pertandingan, Afif tak melihat kondisi aneh pada ayahnya. Saat gol pertama Persik tercipta, Bach bahkan ikut berjingkrak merayakan. Melompat-lompat dan bersorak kegirangan.

Baru saat menjelang babak pertama usai, Bach mulai gelisah. Ketika kedudukan imbang, dia semakin gelisah dan tak nyaman.

Kecintaan Bach pada sepak bola memang tinggi. Afif mengakui itu. Kecintaan sang ayah pada Persik sudah dimulai sebelum ia lahir.

Bach mulai aktif mendukung Macan Putih kala masih berlaga di liga I pada awal tahun 2000-an. Semakin menjadi-jadi kala Persik juara divisi I pada 2002. Sekaligus promosi ke Liga Indonesia (Ligina).

Bach juga menjadi saksi kejayaan Persik kala itu. Juara Ligina dua kali, juara Piala Gubernur,  dan banyak lagi.

Afif mengaku ayahnya sering cerita tentang bagaimana pengalamannya dulu menonton Persik. Menurutnya, ada beberapa momen berkesan bagi Bach. Sang ayah sempat berjabat tangan dengan skuad Persik. Termasuk trio serang Persik yang melegenda, Christian Gonzales, Ronald Fagundez, Danilo Fernando. Sayangnya, Bach tak mengabadikan momen tersebut. “Dulu handphone ayah masih jelek,” kenang anak terakhir tersebut tersenyum.

Bach sepertinya memang dinaungi keberuntungan. Pernah suatu ketika ia mendapatkan bola resmi yang digunakan Persik berlaga. Yaitu pada saat ada momen bagi-bagi bola oleh pemain kepada penonton.

Afif sendiri juga memiliki kenangan indah bersama sang ayah kala menonton Persik berlaga. Waktu itu dia masih SD. Tak disangka, hujan mengguyur seisi stadion. “Saya dan Ibu pulang duluan naik becak tapi ayah tetap lanjut nonton Persik,” ujarnya.

Begitulah totalitas kakek dua cucu itu terhadap Persik Kediri. Tetangga kiri-kanan pun juga tahu. Tak hanya Persik, Bach juga seorang Cules, julukan untuk fans FC Barcelona. Meskipun malam hari, pria yang mengidolakan Messi itu pasti akan begadang. Bahkan tak jarang ia mengadakan nonton bareng di rumahnya.

Afif mengaku banyak yang akan dirindukannya dari sosok sang ayah. Bach adalah tipikal ayah yang tegas dan sering memberi petuah kepada anak-anaknya. “pasti akan sangat rindu dinsihati ayah,” ucapnya seusai memakamkan ayahnya di TPU desa Sukorejo, Ngasem pada Minggu siang (9/12).

Kecintaan suami Sri Andari itu tetap ada bersama keluarga dan Persik Kediri. Misbachuddin kini dapat melihat tim kebanggaannya berlaga dari tempat yang istimewa. Bersama Tuhan ia akan menyaksikan Persik Kediri kembali berjaya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia