Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (6)

Jadi Romusha, Warga Wilis Tak Pernah Kembali

09 Desember 2018, 14: 22: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

SAKSI BISU: Anggota tim Ekspedisi Wilis mengukur tandon air di dekat bungker Jepang. Tandon air itu konon dibuat oleh warga lokal yang jadi romusha. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Selain meninggalkan jejak sejarah di zaman kerajaan, Wilis juga menyisakan cerita kelam. Saat penjajahan Jepang banyak warga Kediri yang dijadikan romusha. Menjalani kerja paksa di tengah hutan belantara. 

Penelusuran bukti-bukti peninggalan Jepang telah kami lakukan. Betapa besarnya pembangunan pada zaman itu. Zaman ketika teknologi canggih belum begitu ada. Termasuk keberadaan pesawat, kincir air sebagai tenaga listrik, hingga pembuatan bungker sebagai tempat perlindungan di pegunungan.

Strategi perang berupa pengintaian pada sekutu, perlindungan di kawasan yang belum pernah terjamah, menyisakan misteri yang hingga kini masih ditinggalkan Jepang. Padahal mereka menjajajah Indonesia tak lebih dari 3 tahun. Namun peninggalan yang disisakan tergolong banyak.

Tak hanya itu, perampasan aset di bumi pertiwi pun juga gencar dilakukan. Tujuannya, tentu saja untuk kepentingan Perang Dunia II.

Bala tentara Jepang tentu saja tak bisa melakukan itu sendiri. Mereka pun perlu melibatkan pribumi. Mengandalkan mereka untuk diperas tenaganya. Dipekerjakan secara paksa. Menjadi budak. Tanpa bayaran dan malah disiksa mati-matikan.

Hal ini seperti apa yang di lakukan di Kediri. Termasuk di Gunung Wilis. Untuk membuat bandara, bungker, kincir air, semuanya tak lepas dari kerja romusha, sebutan untuk pribumi yang menjalani kerja paksa di era Jepang.

"Tentara Jepang kalau menyiksa pribumi lebih ngeri daripada Belanda," kata Achmad Zainal Fachris.

Hal ini sebagai suatu strategi tentara Jepang untuk bisa memaksimalkan tenaga pribumi yang ada. Utamanya adalah mereka yang berprofesi sebagai petani.

Menurut penjelasan Fachris, selama berada di tempat kerja sampai pulang ke kampung halamannya, romusha mendapat fasilitas sangat minim. Bahkan banyak yang tidak diberi upah. Tetapi tidak dapat menuntut karena memang tidak ada perjanjian kerja tertulis.

Romusha adalah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha awalnya adalah petani. Sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha. 

"Dulu kabarnya masyarakat di sini banyak yang hilang setelah kerja romusha," terang Mas Menuk.

Ironis memang, di balik berbagai fasilitas tentara Jepang di sana, banyak warga pribumi yang menderita. Membanting tulang siang dan malam untuk kejayaan tentara Jepang.

Entah pernah mendengar cerita dari siapa, beberapa anggota tim juga bercerita hal serupa. Ia menggambarkan para romusha di sana tak jauh berbeda dari cerita-cerita yang lazim kita dengarkan. Seperti halnya romusha yang badannya tinggal kulit dan tulang.

Konon lantai atau ubin di depan bungker Jepang juga dibuat oleh para romusha. Menurut cerita yang berkembang, ubin tersebut dibuat di lokasi. Bukan di bawa dari suatu tempat lain untuk dipasang di sana. Entah seperti apa proses pembuatannya. Yang pasti, ubin tersebut terpasang rapi di sana.

Di balik kehebatan tentara Jepang yang adi kuasa dengan teknologinya, mereka tetap butuh tenaga manusia. Alih-alih membawa banyak pasukan, mereka lebih memilih untuk memperbudak warga lokal. Sebuah masa kelam penjajahan. Yang harus kita syukuri tidak perlu merasakannya kini.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia