Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Show Case

Cicipi Lezatnya Variasi Olahan Sate di Kediri

Menu yang Selalu Dirindu

08 Desember 2018, 14: 30: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

satu siboen

LEGENDARIS: Sate Siboen yang ada sejak 1937 memiliki cita raza khas yang bikin ketagihan. (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

Share this          

Hidangan ini identik dengan daging yang dibentuk seperti irisan dadu. Lalu ditusuk dengan lidi. Bukan makanan baru lagi bagi masyarakat Indonesia. Cita rasanya khas. Tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Selalu dicari dan dirindukan.

Bumbu kecap atau kacangnya yang berhasil menghipnotis, memang tiada duanya. Menyantapnya pun tidak selalu dengan nasi. Pilihan dengan dipadu lontong tak kalah mengundang selera.

Apalagi bagi kalangan yang sedang diet. Jawa Pos Radar Kediri kali ini meliput beberapa olahan aneka sate yang ada di Kediri. Mulai dari sate kreco, sate bekicot hingga sate ayam.

1.     Sate Kreco Gundo Wewehan

Bentuknya yang imut dengan lelehan bumbu kacang di atasnya. Cukup menarik dipandang dan sayang bila dimakan. Tapi siapa sangka, begitu sate kreco ini masuk ke dalam mulut. Rasanya begitu lezat dan berkesan. Tak ada rasa amis yang menempel pada daging kreco atau kol ini.

Kenyal, ringan, gurih dan lezat bersama bumbu kacangnya. Dilengkapi dengan taburan potongan daun jeruk dan irisan bawang merah. Membuat sate ini semakin sedap dan menunjukan kesan tradisional. Dengan rempah alami hingga tambahan garnish yang juga bisa dimakan.

“Ini memang menu tradisional, rempah-rempahnya alami, bumbu kacangnya juga pas. Memasaknya pun dalam kondisi fresh,” ungkap Puji Teguh, Food & Baverage Manager Loji Cafe. Untuk mendapatkan seporsinya, kita bisa jumpai di Loji Cafe. Jalan Jaksa Agung Suprapto, Mojoroto Kota Kediri.

2.     Sate Ayam Siboen

Kalau yang satu ini dari jarak beberapa meter aromanya sudah tercium. Melalui kepulan asap bakarannya yaang terkena angin, lalu berhasil masuk ke  hidung. Haarumnya... bikin lapar dan ingin segera menyantap. Sate yang ada sejak 1937 ini memang cukup legendaris.

Daging ayam kampung yang disembelih sendiri membuatnya lebih fresh. Apalagi setelah dibakar, disajikan dengan bumbu kacangnya yang kental. Berpadu dengan rasa gurihnya kacang dan manisnya gula merah hingga kecap. Membuat sate khas Ponorogo ini semakin sempurna.

“Bumbu kacang kami bahannya pilihan, rempah-rempahnya alami. Tanpa bahan pengawet. Sehingga hanya bisa bertahan dua minggu,” ujar Somad, Supervisor Sate Siboen. Bumbu kacang pada sate ini merupakan bumbu kacang kering. Sehingga saat akan disajikan, bumbu ini baru direndam dengan air dan diaduk. Untuk disajikan bersaam sate ayam kampungnya.

3.     Sate Bekicot 02 Berkah, Plosoklaten

Sate yang satu ini juga cukup familiar dikalangan masyarakat. Bagaimana tidak, hampir setiap ada pasar malam. Selalu dengan mudahnya dijumpai pedagang sate 02. Atau sate bekicot bersama gandengannya, krengsengan bekicot. Menu ini dengan mudahnya kita jumpai di Desa Jengkol, Plosoklaten Kabupaten Kediri. Di sepanjang jalan raya Wates- Pare ini, sisi kanan kiri jalan dipenuhi penjual sate 02. Tinggal pilih salah satunya dan cobain sate bekicotnya. Tak ada rasa pahit maupun amis pada daging bekicotnya. Rasa gurihnya bikin kita pingin cobain lagi. Paduan bumbu kacangnya yang harum. Bersama taburan irisan bawang merah. Memang semakin pas. Apalagi disantap dengan nasi yang hangat “Ya kami yang beda cara mengolahnya turun temurun sejak 1980 an. Sehingga tidak amis dan tidak pahit. Bumbunya pun rempah alami,” ujar Narsih, pengolah dan penjual sate bekicot di Desa Jengkol. Plosoklaten.

Menikmati Lezatnya Menu Sate

1.     Dulunya sering dijual dengan cara dipanggul, dan bisa berhenti dimana saja

2.     Tak melulu daging ayam, sate terus berkembang. Mulai dari Sate Bekicot, sate kreco, sate kerang, sate kelinci, sate kuda, sate sapi, sate ikan dan sate-sate lainnya

3.     Bumbu kacangnya pun bervarian, mulai dari bumbu encer hingga bumbu kental

4.     Bisa disantap dengan nasi maupun lontong

5.     Di Kediri, cukup banyak pedagang sate. Mulai dari disangga di kepala, dijual di gerobaknya, hingga menetap disuatu tempat atau rumah makan sate

(disadur dari berbagai sumber)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia