Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (3)

Mulut Bungker Mulai Tertutup Longsoran

07 Desember 2018, 13: 19: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

bungker wilis

BUATAN MANUSIA: Mulut bungker yang nyaris tertutup longsoran. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Selain bandara, di Gunung Wilis banyak tersisa peninggalan zaman penjajahan Jepang. Salah satunya adalah bungker. Tempat persembunyian yang nyaris hilang tertutup longsoran.

Tak seperti yang ada di benak saya, lokasi bungker (warga sekitar menyebut gua Jepang) ternyata ada di balik bukit. Di tengah rangkaian pegunungan Wilis. Tepat di salah satu lereng puncak yang biasa disebut Margo Pasar. Letaknya di bawah Alas Puspo. Dari Ngebrak (landasan pesawat Jepang) tempat kami ngecamp bisa ditempuh dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam. Melewati lembah, aliran sungai, hutan heterogen hingga alang-alang setinggi 2,5 meter.

Usai melewati hamparan alang-alang, lokasi bungker tidak jauh lagi. Hanya, medan untuk turun ke bungker tersebut yang sangat ekstrim. Curam. Hampir 75 derajat. Lengah sedikit bisa terperosok. Jatuh ke jurang yang ada di sekitar jalan setapak menuju bungker.

Sesekali memang ada anggota ekspedisi yang sempat jatuh. Terlebih tanah yang dipijak strukturnya gembur. Untung saja ada akar pohon yang membantu sebagai pegangan.

Tak banyak bukti sejarah yang membahas keberadaan bungker di Gunung Wilis ini. Pasalnya, selama penjajahan Jepang, Wilis terkenal sebagai salah satu tempat persembunyian dan pertahanan. Sehingga tidak ada seorang pun pribumi yang dapat menjangkau tempat ini kala itu. Sekalipun ada, mereka adalah pekerja romusa. Membuka jalan setapak, membuat landasan pesawat perang Jepang, hingga bungker yang hingga kini belum pasti peruntukannya. Bahkan kabarnya, pribumi yang disuruh membuat proyek perang Jepang tadi langsung dihabisi tentara Jepang di lokasi. Menariknya, bungker ini dibuat di ketinggian, berkisar 1800 MdPL.

“Satu pribumi yang berhasil lari dan menceritakan kejadian tersebut ke warga sekitar,” ujar Menuk, warga Besuki yang tergabung dalam Ekspedisi Wilis.

Cerita itulah yang kemudian dipercaya warga hingga sekarang. Sebagai dasar cerita adanya bandara dan bungker di Gunung Wilis. Dari keterangan Menuk, dulu banyak benda yang ditemukan di sekitar bungker. Terutama barang pecah belah berupa piring. Beberapa terletak di dalam gua. Dan lainnya ada di kubangan tak jauh dari bungker.

“Tapi sekarang barangnya sudah tidak ada, diambili sama orang,” jelas Menuk.

Kondisi bungker bisa dibilang terlihat tidak utuh lagi. Bagian atas mulut bungker longsor. Membuat akses masuk menjadi sempit. Bagian terluarnya setinggi 84 sentimeter. Itu hanya bisa dilalui dengan cara merunduk. Bahkan apabila berbadan besar harus jongkok atau merayap. Sementara agak masuk ke dalam kondisinya berbeda. Kita bisa leluasa berdiri. Tingginya sekitar 175 sentimeter dengan lebar 2,5 meter.

“Dulu di bagian pintu masuk ada penyangga berupa besi potongan rel kereta,” terang Menuk.

Namun lagi-lagi penyangga itu sudah tidak ada, membuat bagian pintu masuk itu sangat rawan longsor. Bahkan tidak menutup kemungkinan ke depan apabila tidak ada penyangganya, bungker itu akan tertutup total.

Masuk ke dalam bungker, genangan air menyambut kami. Kondisinya becek dan lembab. Dindingnya gembur, rapuh apabila dipegang. Membuat kami semakin berhati-hati saat berada di dalam. Takut longsor, jelas. Pasalnya, di bagian paling dalam bungker sebelah kiri sudah ada bekas longsoran dari langit-langit bungker. Kondisi itulah yang sedikit demi sedikit membuat bungker terkikis. Tertutup longsoran tanah.

Sekitar tujuh meter masuk ke dalam, ada dua ruangan di bagian kanan dan kiri bungker. Lebarnya masing-masing 5 meter dengan jarak lantai ke langit-langit lebih tinggi dibanding bagian mulut. Tingginya sekitar 4 meter. Kondisi gelap di dalam bungker dimanfaatkan kawanan kelalawar untuk bersarang. Tampak juga koloni jamur yang menempel di dinding bungker. Tak ketinggalan sejumlah laba-laba juga cukup menarik perhatian kami. Ukuranya cukup besar, membuat kami semakin waspada berada di dalam.

Dari keterangan Menuk, selain menjadi tempat persembunyian dan pertahanan, kemungkinan sebagian besar aktivitas tentara Jepang dilakukan di sana. Hal ini mengacu pada beberapa penemuan di sekitar bungker. Mulai dari tandon air, pembangkit listrik, hingga pelataran yang hingga kini masih terdapat ubin. Semua itu menjadi tanda masih banyaknya bukti sejarah era penjajahan Jepang yang belum terungkap di Gunung Wilis.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia