Senin, 20 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Produsen Kosmetik Palsu Asal Kediri Jadi Tersangka di Polda

07 Desember 2018, 13: 15: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

kosmetik

UNGKAP KASUS: Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera ketika rilis kasus perdagangan kosmetik palsu dan ilegal bersama BPOM di mapolda (4/12). (HUMAS POLDA JAWA TIMUR For RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN– Penyidik Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur menetapkan KIL, 26, warga Kediri, sebagai tersangka. Dia dianggap terlibat kasus produksi kosmetik palsu dan tidak berizin.

“Akibat perbuatannya, tersangka melanggar pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1 UU RI Nomor 36/2009 tentang Kesehatan,” jelas Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera ketika rilis Selasa (4/12).

Selain terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara, KIL juga terjerat denda paling panyak Rp 1,5 miliar. Informasi Jawa Pos Radar Kediri menyebut, kasus terbongkar setelah polisi menindaklanjuti informasi masyarakat. Yakni soal perdagangan kosmetik palsu yang menyebar di Surabaya.

Tak hanya di sana, bahkan sampai Jakarta, Jogjakarta hingga Bandung. “Selain membuat kosmetik palsu, pelaku juga mengemas kembali produk-produk kosmetik ternama dalam kemasan baru yang diberi merek sendiri,” imbuh Barung.

Dia menjelaskan, modus operasi pelaku dengan memproduksi kosmetik tersebut dengan merek Derma Skin Care (DCS) Beauty. Selain itu, terdapat beberapa merek terkenal, seperti Mack Beauty Powder, Mustika Ratu, Sabun Papaya, Viva Lotion hingga Vasseline.

KIL memproduksi di rumahnya di Kabupaten Kediri. Produk dari merek resmi tersebut dipindah atau dikemas ulang ke wadah kosong. “Produk itu diberi label DSC Beauty, namun tidak memiliki izin edar dan tidak terdaftar di BPOM RI,” jelas Barung.

Agar konsumen percaya, KIL menggunakan endorse artis-artis terkenal yang kemudian di-posting di media sosial Instagram. Terdapat enam artis, mulai dari VV, NK, NR, DJ, KB, dan MP.

Pada polisi, KIL mengaku, sudah memproduksi kosmetik tersebut selama dua tahun. Dari usahanya, omzetnya mencapai Rp 350 juta per bulan. Itu dari pengguna sekitar 60 ribu orang.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Inspeksi BPOM Surabaya Siti Amanah menyebutkan, produk kosmetik yang diproduksi tersangka tidak ada izin edar dari BPOM. Selain itu, di kemasan tidak ada label resmi penjelasan mengenai produsen dan komposisi bahan baku. "Produsen belum terdaftar, nomor registrasi belum ada," terangnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia