Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Mbah Slamet, Penjaga Situs Purbakala di Hutan Wilis

Terangi Malam dengan Ublik

07 Desember 2018, 12: 56: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

mbah slamet

CINTA GUNUNG: Mbah Slamet (kanan), penjaga situs purbakala di Hutan Wilis (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Kecintaannya pada alam dan peninggalan purbakala membuat Slamet reka hidup di tengah hutan. Puluhan tahun lalu ia sering menjelajah lereng Wilis. Kini, Slamet mengabdi, menjaga situs purbakala yang dulu nyaris hilang.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Jalanan setapak yang membelah hutan itu licin. Basah oleh air bekas hujan yang baru saja reda. Kabut pun masih menggelayut. Membuat pandangan mata sangat terbatas.

Udara pun masih terasa dingin di kulit. Sinar matahari sore tak mampu mengusik pekatnya kabut. Sinarnya juga terhalang lebatnya pepohonan di hutan yang berada di wilayah KPH Kediri itu.

Setelah berjalan beberapa lama, gubuk kecil itu akhirnya terlihat. Masih dari kejauhan. Tertutup kabut tipis. Langkah pun kami percepat. Berusaha mencapai gubuk itu sesegera mungkin. Agar bisa berteduh. Karena rintik hujan yang tadinya reda kini mulai jatuh lagi.

“Monggo pinarak, di luar apa di dalam? Kalau di dalam gelap,” sapa seorang lelaki yang menyambut di depan gubuk.

Lelaki itu bisa dibilang sudah kakek-kakek. Usianya sudah 84 tahun. Namanya Slamet. Sehari-hari dia berada di gubuk yang masuk hutan di Lereng Wilis itu. Perbatasan dengan Desa Pamongan dan Petungroto, Mojo. Masih satu kawasan dengan Air Terjun Parijoto.

Slamet, dan gubuknya, adalah tujuan kami merambah hutan tersebut. Dia adalah juru kunci situs Nggedong dan yoni Omben Jago. Diberi amanah oleh Perhutani untuk menjaga dua benda bersejarah itu. Peninggalan Kerajaan Kadhiri.

“Saya tinggal di sini sejak 6 tahun yang lalu,” kata Mbah Slamet sembari membeber tikar pada dipan di teras gubuknya.

Dari awal Slamet menyebutnya gubuk. Itu berupa rumah dari anyaman bambu. Ukuranya tidak terlalu luas. Sekitar 3x6 meter. Letaknya tepat di lahan terasering. Dikelilingi berbagai tanaman di hutan heterogen. Sebagian besar adalah tanaman produksi berupa pohon pinus.

“Dulu gubuk saya letaknya agak ke atas. Di sini baru pindah beberapa tahun yang lalu,” cetusnya.

Untuk menuju lokasi tempat tinggal Slamet, cukup sulit jika menggendarai kendaraan bermotor. Bahkan bisa dibilang tidak bisa. Jalan termudah adalah berjalan kaki. Melewati tegal milik warga, hutan pinus, hingga semak belukar. Tak jarang selama perjalanan harus melewati sejumlah jembatan di atas sungai kecil berair jernih. Perjalanan satu setengah jam tidak terasa karena pemandangan nan indah memanjakan mata.

Di usianya yang bisa dibilang hampir satu abad itu, Slamet terlihat masih bugar. Ketika berbicara juga masih sangat jelas. Slamet sebenarnya masih memiliki keluarga, bertempat tinggal di Desa Pamongan. Sebelumnya dia tinggal di Desa Kanyoran, Semen. Sejak itu pula Slamet sudah hobi menjelajah hutan di lereng Wilis. Tepatnya sebelum tahun 60-an.

“Saya pernah ke hutan Sawahan, Nganjuk. Juga pernah ke Trenggalek,” terangnya.

Semua itu dilakukannya dengan berjalan kaki. Dari bukit ke bukit. Bahkan saat menuju Trenggalek dia harus melewati puncak Wilis, untuk bisa turun melalui pos Penampihan di Tulungagung. Di pos Penampihan tersebut Slamet juga sempat menjadi penjaga situs. Yakni Situs Penampihan. Berupa candi dan punden berundak. Itu dilakukannya sebelum menjaga Situs di Pamongan.

Menjaga situs di Pamongan itu karena sebelumnya banyak peninggalan sejarah yang ada diambil orang. Di antaranya arca, jaladwara, dan ornamen lain bekas candi serta petirtaan di Situs Gedong. Upah menjaga situs tersebut sukarela.

“Kadang diberi pesangon. Kadang juga beras atau mie instan,” katanya sembari membersihkan yoni Omben Jago.

Setiap hari Slamet selain memasak nasi, dia juga memanfaatkan hasil bumi yang melimpah di sekitar gubuknya. Mulai dari umbi, ketela, daun singkong, atau tanaman lain yang selayaknya bisa di masak. Untuk mi instan dia jarang buat, karena menurutnya tidak cocok di lidah.

“Apalagi mi instan rasa soto yang ada jeruk nipisnya, saya tidak suka,” tandasnya.

Hidup dengan keadaan gelap juga dirasakan Slamet setiap malam. Mengandalkan ublik (lampu templok). Kadang juga memanfaatkan senter lisrik, itu jika daya di senternya masih ada. Kalau tidak, dia menunggu saat turun ke kampung untuk mengisi daya baterai.

Kegiatan turun ke kampung dilakukan Slamet tidak menentu. Tergantung adanya ajakan atau tamu yang mengajaknya turun. Rata-rata sebulan sekali. Slamet sendiri masih punya keluarga. Putrinya tinggal di Desa Pamongan. Menantunya Marni yang setiap waktu menjenguknya ke gubuk.

“Saya betah tinggal di sini. Karena sudah terbiasa,” cetusnya.

Dengan keberadaan Slamet, yang jelas situs purbakala berupa Omben Jago dan Struktur Bangunan di Situs Gedong saat ini bisa terawat. Kondisinya bersih, jauh dari rerimbunan. Bahkan area sekitar situs juga rutin dibersihkan Slamet. Yang paling penting, menurut keterangan Slamet adalah keamanan situs. Pasalnya sudah beberapa kali yoni Omben Jago nyaris hilang. Hal ini dibuktikan karena letak yoni yang sering berpindah. Bahkan dari tempat asalnya.

“Dulu sempat mau diambil orang, karena tiba-tiba benda ini tergeletak di jalan menuju ke sini (lokasi Omben Jago saat ini, Red),” aku Slamet.

Sekarang benda yang tersisa itu ingin dia jaga sebaik mungkin. Memang itu keinginannya, agar benda purbakala yang ada masih bisa dilihat oleh anak-cucunya. Dia sangat menyayangkan perilaku orang tak bertanggung jawab yang telah mencuri beberapa benda yang ada. Padahal menurutnya, dulu sekitar tahun 70-an. Situs tersebut masih cukup lengkap, kondisinya bagus. Bahkan aliran mata air yang ada masih terdapat pancuran (Jaladwara, red). Berbentuk kepala naga dan bermotif ayam jago.

“Diujungnya juga ada perunggu, tapi semuanya sudah hilang,” sambungnya.

Mata air yang dimaksud adalah bekas petirtaan kuno. Ada 9 pancuran yang hingga kini masih mengalir air jernih. Di pancuran tersebut digunakan Slamet untuk keperluan sehari-hari, baik mandi, hingga mengambil air untuk memasak.

Belum banyak yang tahu keberadaan lokasi situs bersejarah tersebut. Dia mengaku bahwa di lereng timur Wilis ini masih banyak situs peninggalan, utamanya dari zaman Kerajaan Kadhiri. Slamet berpesan, jika warga singgah ke situs peninggalan purbakala, jangan sampai merusaknya apalagi mengambil bagian-bagiannya. Termasuk situs yang ada di tengah hutan. Masyarakat diminta untuk bersama-sama menjaganya agar tetap lestari.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia