Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Akankah Kekeringan di Kediri Berakhir?

Sumur Berair tapi Belum Normal

02 Desember 2018, 14: 26: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

kekeringan

Sumur Kekeringan (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Hujan belum turun setiap hari. Namun efek positifnya sudah mulai terasa. Beberapa sumur warga di desa-desa yang selama ini mengalami kekeringan sudah terisi air. Seperti di Desa Bobang, Semen.

Muhammad Arip Rifai, 37, warga Dusun Tawangsari, Desa Bobang membenarkan kondisi itu. Meskipun belum semua bisa merasakan air lancar, warga sudah sangat bersyukur.

Menurut Arip, mulai mengalirnya air di sumur-sumur warga tersebut sejak 3 – 4 hari yang lalu. Hal tersebut berbarengan dengan mulai mengalirnya sungai besar yang melintasi Desa Bobang.

air

PASOKAN: Dropping air untuk warga. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

“Sekitar 25 persen sumur warga sudah mulai mengalir lagi meskipun belum normal seperti semula,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri saat membantu dropping air di Dusun/Desa Bobang, Kecamatan Semen kemarin.

Lebih lanjut, ia menambahkan, debit air sumur di desanya berkaitan dengan debit air sungai tersebut. Seperti pada waktu air sumur di desanya mengering, sungai di sana pun juga tidak ada air yang mengalir. Namun, ketika seperti sekarang sungai sudah mulai mengalir, sumur warga pun juga mulai ada airnya.

Menurutnya, sumur warga belum bisa mengalir semuanya karena aliran sungai juga belum lama. Ia memperkirakan jika sungai tersebut sudah mengalir dengan stabil sekitar sebulan, baru sumur warga bisa normal.

Namun, menurutnya, itupun juga sangat bergantung dengan curah hujan yang turun dalam beberapa waktu ke depan. “Kalau hujannya sering, mungkin bisa segera normal lagi,” imbuhnya.

Hal senada juga diamini oleh Pelaksana Tugas (plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Randy Agatha Sakaira. “Seiring dengan semakin tingginya intensitas hujan juga berpengaruh pada air yang ada di sumur warga,” ujarnya melalui pesan singkat WhatsApp.

Dari awal pihaknya telah memiliki sikap bahwa terkait dropping tersebut tidak dibatasi jangka waktu maupun kuantitasnya. Namun pihaknya akan menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada di lapangan.

Lebih lanjut, ia menambahkan jika memang dibutuhkan banyak, pihaknya akan berusaha mencukupi. Sedangkan jika kebutuhannya sedikit pihaknya juga akan mengikutinya.

“Kalau sudah kembali normal dan tidak ada permintaan lagi ya dropping akan kami hentikan,” ungkapnya. Oleh karena itu, selain melakukan melakukan dropping air, pihaknya juga melakukan observasi terhadap sumur warga di sana.

Senada dengan Randy, komandan unit reaksi cepat (URC) BPBD Kabupaten Kediri Windoko juga menyampaikan hal yang serupa. Ia bersama tim di lapangan mengaku telah melakukan observasi tersebut.

Lebih lanjut, ia menegaskan memang telah ada air yang mengalir di sumur warga. Namun, khusus untuk sumur dengan kedalaman tertentu saja. “Sudah mulai ada (sumur mengalir, Red) tetapi untuk sumur yang kedalamannya lebih dari 20 meter. Kalau yang kurang dari 20 meter belum ada airnya,” ujarnya.

Berdasarkan keterangannya, kebanyakan sumur warga yang sudah mulai mengalir adalah yang berada di Dusun/Desa Bobang. Namun untuk Dusun Tawangsari, Desa Bobang masih sedikit.

Kondisi Sumur Warga Bobang

-         25 persen sumur sudah terisi air.

-         Sumur-sumur itu yang berkedalaman lebih 20 meter.

-         Sumur yang kurang dari 20 meter masih mengalami kekeringan.

-         Mengalirnya sumber di sumur seiring mulai mengalirnya sungai.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia