Minggu, 22 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (8)

Tiga Undakan, Lambangkan Tiga Kehidupan

30 November 2018, 18: 17: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

RIMBUN: Tim Ekspedisi Wilis saat melakukan perjalanan pendakian. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Banyaknya situs punden berundak di sejumlah puncak Wilis membuat gunung ini semakin disakralkan oleh sejumlah penganut kepercayaan. Terutama di bagian puncak sisi timur. Punden tersebut diperkirakan telah ada ribuan tahun lalu.

Struktur kuno, yang diperkirakan punden berundak ini, setidaknya, ditemukan mulai Besuki, Mojo hingga Parang, Banyakan. “Rata-rata di setiap puncak ada situsnya,” ujar RNg Tono Setyo Bimoseno.

Jumlahnya tidak kalah banyak dengan peninggalan yang ada di gunung-gunung suci lainnya seperti Penanggungan, Arjuna, dan juga Lawu. Bedanya, yang di Wilis ini datanya masih sedikit. Hanya, bila benar-benar diteliti situs-situs tersebut masih terlihat jelas di sejumlah puncak.

Struktur topografi Gunung Wilis-lah yang membuat situs-situs tadi tersebar di sejumlah tempat. Meski masih dalam satu kawasan, namun puncaknya banyak. Tidak seperti gunung lain yang memiliki satu puncak mengerucut di tengah.

Sedikitnya data itu masih ditambah dengan kondisi pengarsipan yang kurang memadai sejak dulu. Karena banyak yang justru dibawa oleh penjajah. “Untuk bukti naskah kuno sejarah Gunung Wilis kebanyakan dibawa ke Belanda,” jelas pria yang karib disapa Tono itu.

Dengan demikian, hanya orang-orang tertentu yang memiliki kepentingan saja yang biasanya mengunjungi tempat-tempat tersebut. Termasuk untuk bersembahyang sesuai kepercayaan yang dianut. Melakukan ritual hingga bersemedi. Hal ini tentunya sesuai dengan fungsi kuno situs tersebut.

Selama ini, di beberapa puncak Wilis, dari keterangan Tono yang sempat berkunjung ke sana, ditemukan batuan andesit sebagai pondasi di pelataran puncak-puncak di Gunung Wilis. Seperti di puncak Slurup. Masih ada pondasi dari batu andesit yang akan mengantarkan seseorang menapaki lokasi lebih tinggi lagi. Juga ada batuan dari zaman megalitik yang tertata rapi seperti di Gunung Padang, Jawa Barat.

“Ada beberapa trap. Situs serupa juga ada di temukan di Simping, puncak Limas dan Sekartaji di Banyakan,” tambahnya.

Dari beberapa literatur, punden berundak merupakan bangunan yang tersusun bertingkat. Berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Punden berundak pada zaman megalitik selalu bertingkat tiga, yang mempunyai makna tersendiri.

Tingkat pertama melambangkan kehidupan saat masih dikandungan ibu. Tingkat kedua melambangkan kehidupan di dunia. Dan tingkat ketiga melambangkan kehidupan setelah meninggal.

“Kalau peradaban nenek moyang di Gunung Wilis ini yang jelas sudah beribu tahun yang lalu,” tandasnya.

Dengan demikian, ada dugaan situs-situs di Wilis ini juga berasal dari periode yang berbeda. Di zaman purba, punden berundak berfungsi sebagai tempat mengadakan saji-sajian bagi masyarakat purba yang masih beragama animisme dan dinamisme. Dengan tujuan untuk menolak bahaya. Atau bencana seperti gempa bumi, angin ribut, penyakit menular, dan sebagainya. Juga bisa sarana meminta rahmat dari Sang Pencipta. Seperti minta hujan, minta kesuburan tanah, dan sebagainya

Sebagai budaya asli buatan nenek moyang Indonesia, punden berundak tetap dipertahankan keberadaanya oleh nenek moyang kita. Meskipun saat agama Hindu-Budha datang membawa paham Ketuhanan yang berbeda, punden berundak masih tetap digunakan dalam pembangunan tempat ibadah berupa candi seperti Candi Borobudur. Hal inilah yang membuat candi-candi di Indonesia memiliki ciri khas yang unik.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia