Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (4)

Prasasti Lusem Bercerita tentang Perbaikan Jalan

26 November 2018, 17: 07: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

wilis

MENEMBUS BELANTARA: Wabup Masykuri saat memimpin tim ekspedisi Wilis 1 Jawa Pos Radar Kediri - Gudang Garam. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Keberadaan prasasti Puhsarang menjadi bukti kuat aktivitas masa lampau di lereng Wilis. Penanda renovasi jalan menuju daerah-daerah sakral di sisi timur lereng Gunung Wilis.

Prasasti ini bernama Puhsarang. Atau, lebih dikenal dengan Prasasti Lucem (Lusem). Berada di tengah areal persawahan Desa Puhsarang, Semen. Letaknya relatif  jauh dari jalan utama desa. Aksesnya sulit apabila ditempuh dengan kendaraan bermotor. Harus melewati pematang sawah yang sempit. Lebih mudah dengan berjalan kaki.

Prasasti ini berada tepat di punggung bukit. Jika dilihat dari sisi lain salah satu jalan di Desa Puhsarang, prasasti ini tampak jelas. Berlatar Gunung Wilis dan Klotok.

Kondisi prasasti ini masih terawat. Dengan cungkup sebagai pelindung dari panas dan hujan. Peninggalan di lereng Wilis sisi timur ini memiliki keunikan. Terbuat dari batu alam yang utuh dengan tulisan bermodel Kadiri kwadrat.

“Huruf Kadiri kwadrat adalah huruf yang hanya berasal dari masa Kadiri dan tidak terdapat pada masa-masa Jawa kuno lainnya,” terang penggiat budaya Novi Bahrul Munib.

Prasasti ini terdiri dari empat baris dengan bagian terpanjang 190 cm. Sedangkan ukurannya masing-masing 17x50 cm. Novi menyebut, isi Prasasti Puhsarang jika mengacu pada oleh seorang Epigraf Sukarto Kartoatmojo adalah "934 tewek ning hnu bineheraken da Mel samgat Lucem mpu Ghek sang apanji tepet i pananem boddhi waringin."

Yang artinya, pada tahun 934 Saka (1012 Masehi) batas patok jalan diluruskan oleh Samgat Lucem pu Ghek Sang Apanji Tepet dengan penanaman pohon beringin.

Rincinya, Novi menyampaikan, Prasasti Lucem ini sebagai penanda peristiwa perbaikan jalan oleh Samgat Lucem pu Ghek (Lok) dan penanaman pohon beringin oleh Sang Apanji Tepet.

“Sementara samgat sendiri jika diartikan dari bahasa Sansekerta adalah hakim,” ujar pria yang juga ketua Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri itu.

Dari beberapa sumber, peristiwa semacam ini menggambarkan kepedulian penguasa terhadap kesejahteraan rakyatnya. Seperti yang disebut dalam Kitab Calon Arang, peristiwa penanaman pohon beringin di sepanjang jalan bertujuan sebagai peneduh. Untuk kenyamanan para pengguna jalan.

Secara tidak langsung, melalui aspek religi dan politis, masyarakat pada masa lampau juga mengenal pembatasan eksploitasi flora dan fauna.

Hal ini pun juga sesuai dengan prinsip Tri Hita Karana. Bahwa manusia harus memperhatikan tiga unsur utama untuk mencapai kebahagiaan. Yakni melalui keseimbangan hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan dengan alam lingkungannya. Jadi, merupakan hal yang wajar jika masyarakat periode klasik di Indonesia, selain memiliki kepercayaan tentang bangunan suci, juga mengenal tempat suci berupa gunung, danau, sungai, dan persawahan atau tegalan.

Novi menambahkan bahwa jalan yang dimaksud dalam prasasti ini menggambarkan suasana jalan di lereng timur Wilis. Menuju ke tempat-tempat pemujaan atau pertapaan. Ini jika dikaitkan oleh sejumlah peninggalan sejarah yang ada di bagian atas. Tepatnya di Situs Plawangan, Sumberpodang, Desa Joho, Semen.

“Diperkirakan masih banyak lagi peninggalan penting di sepanjang jalan kuno yang dimaksud pada Prasasti Lucem ini,” terangnya.

Hal ini pun diperkuat oleh pemerhati sejarah Achmad Zainal Fachris. Di barat sungai, dari wilayah Tulungagung hingga Nganjuk melalui lereng Wilis ini merupakan jalan purba. Hal ini dibuktikan dengan penemuan-penemuan yang masih satu garis lurus dari selatan ke utara. Termasuk Prasasti Lucem yang menyebut adanya jalan di sekitarnya. Sementara jika mengacu pada Kitab Bubukshah Gagang Aking, di lereng timur Gunung Wilis ini memiliki banyak tempat sebagai pertapaan di zaman kerajaan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia