Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Mengupas Sejarah Kuno si Gunung Cantik (3)

Mata Air sebagai Tempat Bersuci

25 November 2018, 14: 06: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

sungai wilis

JERNIH: Sungai yang mengalir di Gunung Wilis. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Bagi masyarakat Jawa kuno, terutama di Lereng Wilis, sumber air memegang peranan penting. Air merupakan sumber perwujudan untuk mensucikan diri.

Banyaknya sumber mata air di Gunung Wilis menjadi suatu berkah bagi semua orang. Sejak dahulu sumber mata air di sana telah dimanfaatkan. Baik untuk sumber kehidupan hingga tempat persucian.

Dari keterangan pengamat sejarah Achmad Zainal Fachris, air merupakan suatu yang sangat penting di masa kerajaan. Air ini sebagai salah satu wujud yang benar-benar di jaga. Air sangat erat kaitannya dengan kehidupan semua makhluk hidup.

"Baik untuk untuk keperluan irigasi, juga untuk mensucikan diri," terangnya.

Memang, di masa kerajaan atau zaman kehidupan masyarakat Jawa kuno, mensucikan diri adalah hal yang sangat penting. Hal ini dibuktikan dengan adanya patirtan yang sebagian besar dekat dengan sumber air itu sendiri. Terlebih di lereng Wilis selama ini juga cukup banyak sumber air yang ada. Termasuk air terjun yang belum banyak yang terpublikasi. Menurutnya di sekitar sumber dan air terjun tersebut, pasti masih banyak peninggalan yang tersisa.

"Seperti di daerah Mojo, sebenarnya banyak peninggalan berupa reruntuhan struktur candi," sebutnya.

Dari keterangan Fachris, reruntuhan struktur candi tersebut pernah ditemukan di daerah Maesan dan juga Ngadi. Keduanya ada di Kecamatan Mojo. Tepat di lereng Wilis sebelah timur. Lokasi penemuan tersebut juga tak jauh dari mata air.

Memang, selama ini, pembangunan tempat-tempat ritual untuk pemujaan juga tidak lepas dari dekatnya sumber air. Tujuannya untuk mensucikan diri dahulu sebelum melaksanakan aktivitas upacara ritual keagamaan atau pemujaan para dewa.

Keterangan ini diperkuat oleh Ketua Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri Novi Bahrul Munib. Menurutnya, selama ini penemuan-penemuan benda purbakala. Utamanya di lereng Wilis tak jauh dari sumber mata air. Yang dianggap sebagai tempat persucian tersebut. Seperti di Candi Penampihan lereng Wilis sisi Tulungagung. Di tempat itu juga lengkap dengan petirtaan.

"Dari zaman kerajaan sumber air sudah dikelola dengan baik," ujarnya.

Pria yang karib disapa Novi itu menjelaskan bahwa sumber mata air diyakini sebagai sumber kehidupan dan tempat kesucian. Oleh karena itu di sumber tersebut seringkali dibuat untuk pemujaan dan disakralkan. Karena semuanya dari situ ingin hidup abadi.

Bukti lain petirtaan di lereng Wilis ada di kawasan bukit Klotok, yang tidak lama ini baru terungkap. Bahwa di daerah tersebut letak petirtaan sangat dekat dengan candi. Termasuk di daerah Desa Kedawung, yang juga banyak ditemukan struktur bekas candi. Di sana disinyalir juga terdapat pertirtaan kuno.

"Selain sumber mata air, air terjun dahulu juga disakralkan," imbuhnya.

Hal ini pun dibuktikan dari penemuan-penemuan peninggalan yang letaknya tak jauh dari air terjun. Seperti situs lawangan di dekat air terjun Supit Urang Joho, Semen. Situs Sekartaji yang terletak di atas air terjun Ngleyangan. Juga ada beberapa situs yang dekat dengan air terjun Sedudo di Nganjuk.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia