Minggu, 19 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Kader Jumantik Belum Maksimal

23 November 2018, 16: 22: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Kader Jumantik Belum Maksimal

Share this          

KEDIRI KOTA - Kader jumantik dianggap belum bekerja secara maksimal. Sebab, saat ini mulai jarang yang berkeliling dari rumah ke rumah. Padahal, peranannya dianggap cukup efisien menekan angka demam berdarah.

Hal ini diungkapkan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Heri Nurdianto. Menurutnya, berdasarkan pemantauannya saat ini, sudah jarang kader jumantik yang masih berkeliling. Sementara, anak-anaklah yang paling rentan terkena serangan penyakit ini. Karena itu, terang Heri, pemerintah sudah seharusnya melakukan evaluasi kader jumantik yang telah ada saat ini.

“Pemerintah juga harus bisa menjamin layanan anak-anak yang terkena DBD, hal ini sebagai bentuk pemenuhan hak anak pada sektor kesehatan,” harapnya. Padahal salah satu tugas pemerintah adalah bisa menjamin kondisi lingkungan di masyarakat harus benar-benar sehat.

Untuk diketahui, pada 2018, hingga bulan Oktober, sudah ada 204 kasus pasien yang terkena DBD di Kota Kediri. Dari kasus tersebut, 1 orang meninggal dunia. Kasus di tahun ini pun menjadi perhatian karena terjadi peningkatan dari tahun lalu. Yakni yang ‘hanya’ 155 pasien.

Pembersihan jentik memang wajib dilakukan saat peralihan musim kemarau ke penghujan. Sebab, bisa menjadi pemicu faktor mewabahnya penyakit demam bedarah dengue (DBD). Terlebih kondisi tempat tinggal yang mendukung berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti, bisa menjadi ancaman serius bagi setiap orang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Hendik Suprianto menyampaikan, musim pancaroba memang sangat rawan menjadi waktu berkembangbiaknya nyamuk. Terutama Aedes aegypti sebagai penyebar virus DBD.

“Berkembangnya nyamuk itu pasti ada air, kalau tidak ada air tidak mungkin ada nyamuk di tempat tersebut,” kata Hendik.

Oleh karena itu, masyarakat diminta bisa mengantisipasi perkembangan nyamuk tersebut. Terutama di kamar mandi yang setiap hari tersedia air. Hendik menyarankan, kalau bisa kamar mandi memakai bak plastik. itu akan lebih efektif mengurangi berkembagbiaknya nyamuk dibanding bak permanen dari keramik.

“Bak kecil akan mudah kalau membersihkan, setiap hari juga bisa dikuras,” sarannya.

Apabila menggunakan bak, telur nyamuk tidak akan menjadi jentik. Karena air selalu dibuang. Namun kalau di kamar mandi yang menggunakan wadah permanen, tiga hari sekali dipastikan nyamuk sudah berkembangbiak. Pastinya dengan jumlah yang banyak.

Hendik menyebut, nyamuk jenis Aedes Agypti memiliki kebiasaan hidup yang berbeda dengan nyamuk biasa atau Culex. Atau yang biasa disebut nyamuk got.

“Nyamuk aedes lebih suka air yang bersih, dan dekat dengan manusia,” tandasnya.

Untuk itu jika ingin memberantas nyamuk demam berdarah. Harus diketahui tempat-tempat nyamuk aedes yang dewasa bersembunyi. Bahkan di belakang lemari es, dispenser, atau tempat-tempat yang sering dianggap sepele itu bisa menjadi sarangnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia