Minggu, 25 Aug 2019
radarkediri
icon-featured
Features
Malaysia yang Kian Kosmopolitan (3/Habis)

Belanja, Pijat, atau Hanya Melihat-lihat itu Pilihan

22 November 2018, 18: 29: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

pengemis

SISI LAIN: Pengemis di salah satu sudut jalan Kuala Lumpur. (ADI NUGROHO - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Tiap kali turun ke lobi hotel di Bukit Bintang, sejumlah bahasa tiba-tiba terdengar. Beberapa seperti bahasa Inggris, yang lain seperti bahasa Arab dan India. Ada yang mirip film-film Kungfu. Tapi banyak juga yang tak saya kenal.

Belakangan saya baru tahu kalau kawasan di sekitar hotel tempat saya tinggal selama empat hari di Malaysia adalah kawasan wisata. Tepatnya wisata belanja. Mungkin bisa disebut benar-benar pusatnya. Mirip Jalan Doho, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Pattimura, atau Jalan Hayam Wuruk kalau di Kediri. Tentu dengan skala yang lebih besar karena Bukit Bintang adalah bagian dari Kuala Lumpur. Ibu kota negara.  

Tak heran banyak sekali pusat pertokoan atau mal yang bisa ditemui. Mulai dari yang berukuran superbesar seperti Berjaya Time Square, hingga yang lebih kecil seperti Plaza Low Yat dan berderet ruko yang menjual beraneka ragam barang dan menu kuliner.

Tak ketinggalan pula para pedagang kaki lima di trotoar maupun di pinggiran gang-gang. Bahkan dari yang saya lihat, salah satu sisi jembatan penyeberangan pun dijadikan toko suvenir hingga tempat cukur. Sepertinya tidak liar karena tertata dengan baik.

Bagi turis dengan bujet pas-pasan, harga barang di kawasan ini boleh dibilang cukup murah. Apalagi yang KW pun tersedia. Mulai dari sepatu, baju, hingga jam tangan, dengan harga berkisar 5 – 20 ringgit malaysia (RM). Atau jika dirupiahkan tak sampai Rp 100 ribu. Juga sejumlah jajanan atau suvenir yang cukup nyaman bagi kantong. “Lumayan harganya. Buat oleh-oleh,” ujar Ali, salah satu teman dari Bali.

Namun tak hanya di titik-titik pertokoan murah, kawasan glamor atau stan-stan brand internasional di mal pun cukup ramai pengunjung. Bukan hanya turis lokal atau setidaknya yang berwajah Asia. Tetapi juga turis-turis manca dengan badan tinggi besar dan rambut pirang, silih berganti berdatangan.

Banyak orang berlalu-lalang. Bahkan sampai dini hari. Kota seperti tak pernah mati. Tak hanya mal dengan gedung menjulang, banyak hal menarik yang bisa dinikmati baik saat siang maupun matahari terbenam. Pusat kuliner seperti di Jalan Alor menawarkan berbagai selera masakan. Hingga dunia germerlap seperti diskotik dan tentu saja tempat pijat pun tersedia.

Di Jalan Changkat misalnya. Ada beberapa tempat hiburan terlihat berjajar. Orang menyebutnya ‘Pusat Istirehat’. Semacam bar dan pub tempat orang bersantai dan berkaraoke ria. Jelang tengah malam dentuman musik dan nyanyian parau orang-orang terdengar sampai keluar.

Prostitusi? Ada yang bilang di Bukit Bintang ini masih ada tempat-tempat seperti itu. Saya belum sempat menelusuri. Hanya saja, malam hari ketika berjalan-jalan di Jalan Bukit Bintang, ada seorang wanita berpenampilan seksi yang menawarkan sesuatu. Dia pakai celana hitam dan kaos ketat berwarna putih. Rambutnya panjang tergerai.

Sempat mengikuti saya beberapa langkah si Mbaknya menyodorkan brosur berwarna merah sambil bilang, “Massage...massage?”. Oh menawari pijat, pikir saya. Saya pun berlalu. Tak menghiraukan ajakannya yang terdengar menjauh. Tidak punya uang sekaligus tidak tertarik mencoba atau menelusuri apakah ada plus-plusnya. Begitu.  

(rk/die/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia