Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Lintah Menempel, Darah pun Mengucur

22 November 2018, 17: 22: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

ERAT: Lintah yang menempel di kaki tim ekspedisi. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Dua hari satu malam tim Jawa Pos Radar Kediri – Gudang Garam Ekspedisi Wilis I menyusuri hutan dan lereng di Pegunungan Wilis. Banyak hal menarik yang menjadi catatan anggota tim. Berikut cerita perjalanan tersebut.

Sabtu (17/11) pukul 8.30 WIB. Kami berangkat dari kawasan Tebing Prongos, Dolo. Usai doa yang dipimpin Abah Masykuri (sapaan akrab Wabup Masykuri). Sekitar 50 meter kami masuk ke jalan setapak. Menuju hutan.

Matahari bersinar terik. Tapi tidak terasa panas. Udara terasa sejuk. Ditimpali bebauan khas hutan.

Jalan setapak yang kami lalui langsung menanjak. Tepat menyusuri tebing di atas jalan aspal. Kaki mulai menghangat dan napas juga ngos-ngosan. Jalan menanjak itu berkelok sekitar 100 meter. 

Usai tanjakan di pintu jalur masuk hutan itu kami merasa lega. Walau masih jalanan setapak tapi lebih landai. Kami berjalan dengan sisi kanan tebing sementara di kiri jurang.

Berada di bagian depan adalah Mas Tarmono, warga Dusun Besuki, Desa Jugo. Lelaki yang karib dipanggil Mas Menuk itu adalah penunjuk jalan tim Ekspedisi Wilis I. Dia hafal betul seluk-beluk hutan Wilis di kawasan Dolo dan sekitarnya. Di belakangnya mengikuti Abah Masykuri, kemudian baru anggota tim yang lain.

Setelah berjalan 10 menit, kami tiba di persimpangan. Ke kanan kanan menuju situs Batu Tulis. Yang ke kiri menuju hutan dan puncak Wilis. Kami berpisah dengan tim Abah Masykuri di tempat ini. Abah masykuri dan tim kecil mengambil track ke kanan. Menuju Situs Batu Tulis. Sedang kami mengambil jalur ke kiri, menuju hutan.

Jalanan yang kami lewati selanjutnya masih landai. Hanya sesekali sedikit naik. Tapi udaranya lebih lembab. Jalannya pun kian sempit. Banyak rerontokan daun yang membuat sedikit licin.

Mas Menuk masih berada di depan. Saya di belakangnya. Lima menit berjalan, saya melihat kaki kiri Mas Menuk berdarah. Yang menodai sepatu karet warna putih yang dipakainya. “Tadi digigit pacet (lintah, Red) Mas. Pacetnya langsung saya cabut. Ini darahnya belum berhenti. Sudah biasa saya seperti ini. Nanti juga mampat sendiri,” ujarnya menjelaskan soal kaki berdarah itu.

Kejadianitu membuat kami saling mengingatkan. Agar mewaspadai adanya lintah. Di hutan heterogen yang lembab seperti itu memang lintah berkembang biak dengan pesat. Untungnya, sebagian besar anggota tim bersepatu dan kaos kaki tinggi. Beda dengan Mas Menuk yang bersepatu karet pendek tanpa kaos kaki. Pergelangan kaki yang terbuka jadi santapan empuk lintah. Setidaknya, itu anggapan awal kami.

Semakin masuk hutan, suara burung dan ringik garengpung semakin sering terdengar. Semakin dalam semakin bermacam suaranya. Sementara jalannya semakin sempit. Kadang terpotong longsoran.

Selain longsoran, jalanan juga banyak terhalang bangkai pohon tua yang tumbang. Batangnya melintang di tengah jalan. Untuk melewati kami  harus merayap tanah. Atau melompatinya.

Pukul 09.51 WIB kami tiba di satu dataran yang agak lapang. Namanya Lemah Kuning. Kami beristirahat di tempat itu. “Sambil istirahat periksa kakinya. Barangkali ada pacet yang menempel,” saran Eko Dheny, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri yang ikut dalam ekpedisi ini.

Benar saja, di betis, di balik celana yang sebenarnya sudah saya tali rapat bagian bawahnya, ada seekor pacet yang menempel. Reflek langsung saya cabut. Curr…. darah segar keluar dari bekas gigitan pacet itu. Ternyata sepatu dan kaus kaki tinggi tak cukup melindungi kami dari serangan pacet.

Sepuluh menit kami beristirahat. Perjalanan berikutnya masih melewati kawasan hutan heterogen yang lembab. Sinar matahari tak bisa langsung menyentuh kami. Terhalang lebatnya pepohonan. Sesekali kabut turun. Memasuki sela-sela dedaunan. Namun tak sampai turun ke bawah. Sehingga jarak pandang masih aman.

Dua puluh menit berjalan kami sampai di tikungan Patok Wesi. Konon dulu ada patok (tugu) dari besi yang ditanam tentara Jepang. Tapi kami tidak menemukan patok itu. Hanya ada sebuah batu persegi tepat di tikungan jalan itu. Di atas sebuah pohon dipasang papan dengan tulisan Patok Wesi. Kami pun beristirahat lagi. Sekadar memeriksa kaki dari serangan lintah. Dan juga menenggak air minum.

Pukul 11.45 kami tiba di kawasan Ngebrak. Sebuah jalanan setapak dengan tanaman alang-alang. Jalan itu melintang ke arah Barat. Di sisi kanan ada jurang dalam yang kami tak bisa melihat ujungnya. Di sisi kiri hutan heterogen dengan pepohon besar yang berusia ratusan tahun. Jauh di ujung jalan itu terlihat tanjakan menuju punggung gunung Puncak Slurup. Salah satu puncak Wilis di antara beberapa puncak lainnya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia