Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Menguak Tabir Misteri si Gunung Air (3)

Pernah Erupsi di Empat Titik

20 November 2018, 14: 22: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

EKSOTIS: Tim ekspedisi Wilis 1 saat di kawasan Ngebrak. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Memiliki luas gunung hingga 1.980 kilometer persegi membuat Komplek Wilis diyakini menjadi gunung terbesar yang pernah ada. Khususnya di Zona Solo. Bahkan, dari bentuk gunungnya, diperkirakan pernah terjadi letusan hingga di empat titik.

Titik erupsi itu diketahui memang berpindah-pindah. Tetapi, kapan terjadinya, tetap menjadi misteri. “Sepanjang sejarah, memang tidak tercatat adanya letusan,” terang Pengamat Gunung Api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Umar Rosadi.

Umar menerangkan sebagai gunung dengan tipe B, Gunung Wilis memang letusannya tidak terekam sejarah. Khususnya setelah 1600 Masehi. Yaitu tahun dimulainya pencatatan gunung api oleh pemerintah kolonial

Hanya saja, saat dilakukan penelitian dalam kurun waktu 2007 hingga 2011 di kawasan lereng Gunung Wilis, ditemukan fakta adanya letusan yang telah terjadi. Dari bentuk morfologinya telah terjadi empat titik erupsi atau letusan. Morfologi dari puncak komplek Wilis ini bisa dilihat dari udara.

Peneliti dari PVMBG akhirnya memberi nama empat titik bekas erupsi tersebut. “Penamaan dari empat bekas erupsi ini berdasarkan penelitian batuan yang ditemukan di area tersebut,” terang Umar.

wilis

Empat Titik Erupsi Gunung Wilis (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

Yaitu Ngargokalangan, Wilis Tua, Wilis Muda, dan Watu Bangil. Meski tidak diketahui kapan pastinya gunung Wilis ini meletus, dari batuan yang saat ini masih tersisa, diketahui, kalau keempat letusan itu berlangsung di masa waktu yang berbeda.

“Perbedaan lokasi ini berdasarkan tekanan energi dari perut bumi dalam mendorong magma,” bebernya. Proses yang juga terjadi di sejumlah gunung api yang saat ini masih aktif.

Hanya saja, saat disinggung lokasi pasti puncak-puncak dari bekas erupsi yang diyakini menjadi puncak komplek Wilis, Umar mengatakan tidak ada pencatatan detail. “Kami melakukan penelitian dari sisi atas yang tergambar dari morfologi gunung yang terekam,” jelasnya.

Disebutkannya, ada empat perbedaan cekungan yang diyakini menjadi bekas erupsi. Sayang, belum ada hasil penelitian yang menyebutkan secara pasti angka luasan cekungan bekas erupsi tersebut.

Diperkirakan, dari luasan empat bekas erupsi tersebut, Wilis Tua memiliki bekas erupsi yang paling luas. Di titik erupsi ini juga ditemukan batuan yang paling tua yang berada di Pegunungan Selatan. Sejumlah batuan kapur yang diyakini sudah ada sejak masa Miosen tengah atau sekitar 23 juta tahun lalu itu telah ditemukan di beberapa titik.

Berimpitan dengan Gunung Wilis Tua, bekas erupsi yang terlihat adalah Gunung Wilis Muda. Di titik bekas erupsi inilah, diketahui kalau batuannya tidak jauh berbeda dengan Wilis Tua. Hanya saja dilihat dari segi usia batuan, di kawasan ini, usianya lebih muda.

Selanjutnya titik erupsi yang jauh terpisah di sisi barat laut Wilis Tua, adalah bekas erupsi yang diberi nama Gunung Ngargokalangan. Sementara timur laut dari Wilis Tua, bekas erupsinya paling kecil dan disebut Watubangil.

“Besar kecilnya bekas letusan ini juga karena pengaruh besar kecilnya tekanan energi yang berasal dari dalam perut bumi,” jelasnya.

Hanya saja, sampai saat ini, belum bisa dipastikan titik mana yang meletus terlebih dulu. Menurut Umar, sampai saat ini peneliti hanya bisa menyebutkan berdasarkan nama dari batuan yang ditemukan. Bukan dari urutan letusan.

Sebab, melihat letusan yang terjadi sebelum 1600 maka diperkirakan dahulunya gunung tersebut memang memiliki satu puncak yang kemudian terjadi letusan luar biasa. Setelah itu, terjadi pergerakan lempeng bumi yang menyebabkan adanya pergerakan magma di perut bumi di bawah kompleks Wilis. Pergerakan itu mencari titik lokasi yang bisa ditembus. Sehingga akhirnya terjadi letusan. Hal sama juga diperkirakan berlangsung di kurun waktu yang berbeda sehingga terciptalah bekas erupsi yang juga berbeda.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia