Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Politik

UMK Baru Berpotensi Mengerek Harga Barang

18 November 2018, 13: 25: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

umk naik

UMK naik (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KOTA - Naiknya upah minimum kabupaten/kota (UMK) bak pisau bermata ganda. Satu sisi bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Di sisi lain juga berpotensi mengerek harga-harga. Sekaligus menjadi faktor pendukung terjadinya inflasi.

Menurut Kepala Distribusi Statistik BPS Kota Kediri Adi Wijaya, kenaikan UMK tahun depan sudah pasti membuat kemampuan masyarakat membeli barang meningkat. “Dampak langsungnya ya terhadap daya beli masyarakat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Ketika daya beli meningkat, yang juga ikut terpengaruh adalah soal tingkat konsumsi masyarakat. Naiknya UMK itu akan mendorong warga untuk berbelanja. Nah, soal ini yang patut diwaspadai. Bila tidak bijak, melonjaknya tingkat konsumsi tersebut bakal berakibat pada faktor lain yang bisa mengerek angka inflasi. Yaitu naiknya harga barang.

Diberitakan sebelumnya, UMK Kota Kediri mengalami kenaikan yang signifikan. Dari Rp 1,758 juta pada tahun ini menjadi Rp 1,899 juta di tahun depan. Artinya, ada kenaikan sebesar Rp 141 ribu.

Kenaikan UMK tersebut otomatis akan meningkatkan pula produk domestik regional bruto (PDRB). Sebab, upah dan gaji merupakan komponen pendapatan yang memberikan nilai tambah pada PDRB tersebut.

Adi mengingatkan, bila tidak direm, meningkatnya tingkat konsumsi akibat kenaikan upah ini bisa berakibat buruk. Akan mempengaruhi laju inflasi. “Kalau kalap dalam berbelanja karena ada kenaikan UMK atau gaji, jelas berbahaya untuk inflasi Kota Kediri,” ingatnya.

Ancaman itu bisa dihindari dengan pengaturan keuangan. Yaitu dengan bijak dalam berbelanja.

Masih menurut Adi, kenaikan UMK ini akan terjadi secara perlahan. Karena hal tersebut tidak serta merta diaplikasikan pada instansi maupun perusahaan di daerah. “Perusahaan perlu waktu untuk beradaptasi dan merealisasikannya,” imbuhnya.

Sementara itu, Nasrullah, kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Eks Karesidenan Kediri pun mengatakan demikian. “Secara teori keanikan UMK berpotensi menaikan harga barang dan jasa,” katanya.

Laki-laki yang akrab disapa Nasrul ini menjelaskan, dengan adanya kenaikan UMK maka produsen berupaya menutupi kenaikan biaya produksi dari upah tenaga kerja. Secara otomatis menaikkan harga barang-barang produksinya. Tujuannya agar tetap mendapatkan keuntungan dan mempertahankan eksistensi perusahaan.

Adanya kenaikan harga barang dan jasa, tingkat inflasi juga berpotensi mengalami kenaikan. Ayah tiga anak ini menegaskan hal itu berdasarkan pengamatan terhadap inflasi di Kota Kediri selama beberapa tahun terakhir.

“Inflasi Kota Kediri lebih dominan dipengaruhi oleh kenaikan harga yang diatur pemerintah dan fluktuasi harga pangan,” imbuhnya.

Ia beberkan juga, dari pencermatan tersebut, kenaikan UMK  Kota Kediri yang peringkat ke-18 se-Jawa Timur ini berpengaruh terhadap inflasi di Kota Kediri. Walaupun tidak signifikan.Hal tersebut disebabkan karena masyarakat Kota Kediri akan mengubah perilaku konsumsinya. Karena itu dia mengingatkan agar masyarakat tidak konsumtif dalam menyikapi kenaikan UMK.

Dampak Kenaikan UMK

-         Peningkatan daya beli masyarakat.

-         Meningkatnya PRDB.

-         Potensi peningkatan konsumsi masyarakat.

-         Kenaikan harga barang karena penyesuaian kalangan industry.

-         Melonjaknya angka inflasi bila konsumsi masyarakat meninggi.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia