Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Features

Jamran, Seniman yang Berjuang Mengenalkan Cerita Panji

Takjub saat Tahu dari Kerajaan Kadiri

18 November 2018, 12: 44: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

jamran panji

TELATEN: Jamran menggoreskan kuas, mewarnai topeng Panji buatannya, di rumahnya. Dia berobsesi mengenalkan cerita Panji pada generasi milenial. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Berbagai upaya melestarikan budaya Panji di Kota Kediri ini telah dilakoni Jamran. Membuat karya berupa topeng atau mengadakan perlombaan bertema Panji Semua itu dia lakukan, hanya untuk menjaga warisan budaya ingatan dunia.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Sedikit demi sedikit tinta hijau itu mulai digoreskan ke topeng yang dipegangnya. Memenuhi seluruh bagian depan topeng. Diselingi ornamen  warna hitam dan merah. Sebagai tanda aksen alis, rambut, dan bibir di topeng tersebut. Tak lupa warna lain juga dilukisnya. Melengkapi mahkota di bagian atas topeng yang merupakan tokoh perwujudan Panji itu.

Berbicara mengenai tokoh Panji, mungkin sebagian besar orang masih asing. Termasuk orang Kota Kediri sendiri. Menurut Jamran, masih belum semuanya yang mengenal dengan baik tokoh yang juga disebut dalam cerita terkenal di sejumlah negara ini.

Oleh karena itu, sebagai seniman sekaligus penggerak budaya, Jamran ingin mengenalkan cerita panji lebih luas. Mengedukasi masyarakat bahwa cerita Panji harus dilestarikan. Terutama di bumi Kediri.

“Saya (juga) baru tahu cerita Panji (sebenarnya) ini pada 2010,” aku Jamran.

Saat itu dia kerap mengikuti seminar Panji. Dan yang mengadakannya adalah peneliti dari Jerman. Bukan dari orang Indonesia ataupun pemerintah daerah. Dari pemaparan pada seminar itu, Jamran lantas takjub. Peneliti yang dimaksud itu menyebut bahwa asal mula cerita Panji adalah dari Indonesia. Terlebih dari cerita yang diangkat tersebut adalah dari kisah di zaman Kerajaan Kadiri.

“Ternyata bangsa Indonesia memiliki karya sastra yang luar biasa. Sebuah karya besar. Apalagi ini milik Kerajaan Kadiri, sayang kalau tidak diangkat,” tandasnya.

Berawal dari hal tersebut Jamran semakin antusias mempelajari cerita Panji. Dia juga sangat bangga dengan aset berharga ini. Setelah itu dia mulai melirik Panji untuk dijadikan karya pada salah satu kesenian yang selama ini dia tekuni. Yakni industri kreatif pembuatan dekorasi. Baik itu topeng, patung, lukisan, dan kerajinan miniatur berbagai bentuk.

Termasuk salah satu karyanya yang termasuk dalam pelestarian budaya Panji adalah pembuatan topeng Panji. Jamran terus belajar, membaca berbagai cerita-cerita yang berkaitan dengan Panji. Itu untuk mempelajari karakter tokoh tersebut. Namun, menurutnya itu sangat sulit. Dia selama ini belum menemukan karakter yang pas untuk ciri khas Panji dari Kediri.

“Materi literatur perwujudan Panji masih terbatas. Dan sulit menemukan karakter sebenarnya,” aku Jamran.

Satu-satunya orang yang membuat topeng Panji di Kota Kediri ini mengaku, sudah ribuan topeng yang dibuatnya. Baik dari bahan kertas maupun fiber. Selain topeng Panji dia juga membuat topeng Sekartaji. Untuk membedakannya, warna di kedua topeng tersebut dibuat tidak sama. Untuk topeng Panji warna bakunya adalah hijau dengan tambahan kumis.

“Kalau Sekartaji warna putih, dengan ornamen lebih cerah,” sambung pria yang sekaligus ketua Yayasan Omah Panji Kediri tersebut.

Dengan pembuatan topeng ini Jamran berharap masyarakat semakin mengenal siapakah itu Panji. Terlebih dia juga kerap mengikuti pameran bertema Panji. Termasuk ketika Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri. Omah Panji selalu hadir mengisi stan pameran Kampung Panji yang ada.

Sekarang, peminat topeng Panji mulai banyak. Terutama untuk instansi dan sekolah. Baik untuk pertunjukkan tari ataupun cendera mata.

“Tapi distribusi masih fokus di daerah Kediri saja,” tegasnya.

Selain topeng, Jamran juga memproduksi miniatur berupa patung Panji. Dia juga sempat membuat Patung Panji berukuran besar yang saat ini berdiri kokoh di Jalan Stasiun Kota Kediri.

Jamran sangat menyayangkan apabila anak muda di Kediri tidak tahu menahu tentang cerita Panji. Terlebih saat ini cerita Panji sudah masuk dalam warisan ingatan dunia atau Memory of  The World (MoW) yang ditetapkan UNESCO tepat satu tahun yang lalu.

“Tantangan selama ini, ya memperkenalkan itu. Selama ini minimal salah satu upaya yang dilakukan Omah Panji adalah lomba melukis topeng Panji untuk anak TK dan SD,” terang pria 51 tahun itu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia