Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Terimbas Tingginya UMK Ring I

Banyak Investor Akan Lirik Daerah Mataraman

14 November 2018, 15: 12: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

DAYA TARIK: Seorang pekerja di Kediri saat beraktivitas. Nilai UMK di Kediri jadi daya tarik investor.

DAYA TARIK: Seorang pekerja di Kediri saat beraktivitas. Nilai UMK di Kediri jadi daya tarik investor. (M. DIDIN SAPUTRO - RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM)

Share this          

KEDIRI KOTA- Tingginya upah minimum kota/kabupaten (UMK) di daerah ring I bakal berdampak ke Kota Kediri. Para investor bakal melirik Kota Kediri sebagai lokasi investasinya. Terutama yang berbasis padat karya. Sebab, besarnya UMK di daerah ring I tak lagi menarik bagi mereka. Berbeda dengan UMK di Kota Kediri yang masih dianggap murah.

 “Investor diprediksi berpindah ke daerah barat (Mataraman, Red). Karena nilai UMK di ring I yang terlampau tinggi. Kota Surabaya saja sudah mencapai Rp 3,6 juta dan pasti juga meningkat tahun depan,” kata Kasubid Prasarana Wilayah Pemukiman dan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Kediri Erwin Sukarno.

Dari tingginya UMK tersebut, menurut Erwin, diperkirakan para investor akan lebih melirik daerah yang UMK-nya lebih rendah. Seperti di Kota Kediri yang bisa dikatakan nilai UMK-nya hampir separo dari Kota Surabaya dan sekitarnya. Saat ini UMK Kota Kediri Rp 1,75 juta. Tahun depan diperkirakan naik menjadi Rp 1,9 juta.

Namun, kemungkinan itu juga harus ditunjang dengan beberapa syarat. Daerah yang dimaksud harus memadai dari sisi infrastruktur. Dan menurutnya, daerah Mataraman sangat mendukung untuk dikembangkan menjadi lokasi industry. Layak dilirik investor. Terlebih akan ditunjang dengan keberadaan jalan tol yang telah tersambung dari Kota Surabaya sampai ke Solo. Jalan tol tersebut melewati daerah Jatim bagian barat ini.

“Dulu investor tidak akan memilih daerah Mataraman karena aksesnya yang masih susah,” tegasnya.

Erwin memastikan, yang terjadi sekarang daerah Kota Kediri, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Nganjuk akan menjadi primadona investor. Ketika jalan tol dibangun, industry akan semakin pesat. “Jadi pemda termasuk Pemkot Kediri harus siap merevisi RT-RW yang ada untuk menyambut itu semua,” tambahnya.

Sementara, pengamat ekonomi Ema Nurzainul H. menyebut bahwa faktor nilai UMK sangat berpengaruh terhadap investor yang masuk daerah. Kaprodi Manajemen Fakultas Ekonomi UNP Kediri itu juga menyebut bahwa UMK menjadi salah satu pertimbangan. Karena biaya tenaga kerja merupakan salah satu biaya utama yang harus dikeluarkan perusahaan. Yang akan berimbas pada penentuan harga pokok dan biaya produksi mereka.

“Tentu saja UMK atau biaya tenaga kerja yang lebih rendah itu diharapkan para investor. Karena dengan demikian profit mereka bisa tercapai,” jelasnya.

Selain UMK yang relatif rendah, Kota Kediri juga sangat kecil riwayat demonstrasi buruh. Hal ini juga menambah daya tarik bagi perusahaan yang akan mendirikan lahan produksi di kota tahu ini.

Dari data yang dilansir Jawa Pos, ada empat pola yang sekarang dilakukan para investor. Yaitu, beralih dari padat karya ke padat modal. Selanjutnya berpindah dari ring I ke wilayah lain. Juga berubah dari pabrik produksi menjadi pergudangan. Bahkan bisa saja tutup dan relokasi ke luar negeri. Hal ini disebabkan iklim usaha di Surabaya maupun ring I saat ini dinilai sudah tidak efisien. Termasuk dengan banyaknya permasalahan buruh yang kerap menjadi momok pengusaha besar di sana.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia