Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Widiya Octaviani, Korban Senggolan dengan Bus Harapan Jaya

Sosok Ramah yang Aktif di Karang Taruna

10 November 2018, 14: 02: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

korban kecelakaan widiya

RAMAH: Widiya Octaviani di kala masih hidup. Gadis ini dikenal mudah akrab dan aktif di kegiatan desa.

Share this          

Sudah yatim piatu sejak usia SMP membuat Widiya menjadi gadis mandiri. Aktif bergelut kegiatan karang taruna. Selalu menyempatkan waktu di sela-sela kesibukannya belajar.

IQBAL SYAHRONI

Gerimis mengguyur di Dusun Besuk, Desa Toyoresmi, Ngasem. Langit pun menjadi teduh. Meski saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Saat biasanya panas terik menyengat.

Tanah dan jalanan di dusun itu pun basah. Tersiram air yang jatuh dari langit. Tak terkecuali di tempat pemakaman umum (TPU). Gundukan tanah yang masih baru semakin terlihat basah. Gundukan tempat jasad Widiya Octaviani, 18, dimakamkan.

Widiya adalah gadis yang meninggal Kamis (8/11) sekitar pukul 17.00 WIB. Akibat kecelakaan saat mengendarai motor sepulang dari sekolahnya, SMK Negeri 2 Kota Kediri. Tubuhnya terlindas bus Harapan Jaya. Lokasinya di Jalan Bandarngalim. Tepatnya di barat jembatan.

bus vs motor

kecelakaan bus vs motor kota kediri (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

Kepergian gadis 18 tahun ini menyisakan kesedihan bagi teman-temannya di Karang Taruna Desa Toyoresmi. “Mbak Wid itu baik, ramah, dan sopan terhadap semua orang. Baik yang lebih tua maupun lebih muda,” kenang Nitan Shofia Usma, seorang pengurus karang taruna.

Usia Widiya berselisih tiga tahun lebih tua dari Usma. Namun, di mata gadis ini almarhumah sangat ramah. Bahkan teringat jelas dalam benaknya pagi sebelum kejadian nahas itu Widiya menyapanya.  Saat itu dia baru beranjak ke luar rumah hendak bersekolah.

 “Saking ramah dan sopan dengan orang, saya yang waktu itu hendak berangkat disapa duluan. Padahal Mbak Wid lebih tua dari saya,” pujinya.

Selain ramah, menurut Usma, Widiya adalah sosok penting di karang taruna. Widiya juga selalu menyempatkan hadir di setiap acara karang taruna. Walaupun sehari-hari dia juga dipenuhi jadwal sekolah.

Kepala Desa (Kades) Toyoresmi Sumani juga mengatakan hal serupa. Sebagai kades dia memang mengamati setiap warganya. Dan Widiya memang jarang keluar rumah. Namun bila ada acara karang taruna selalu aktif.

Sumani masih ingat betul pada awal tahun ini. Ketika Widiya meminta tanda tangannya guna mengurus KTP elektronik. Dia pun menilai Widiya sebagai sosok dewasa, sopan, ramah, dan menghormati sesama.

Widiya juga tergolong mandiri. Apalagi, sejak beberapa tahun lalu dia hidup tanpa kedua orang tuanya yang meninggal. Sejak itu dia diasuh kakek dan neneknya. “Kalau tidak salah, waktu Widiya masih duduk di bangku SMP,” ujarnya.

Menjadi yatim piatu tak membuatnya patah semangat. Dia tetap bersemangat dalam menuntut ilmu.

Sumani mendengar kabar kecelakaan itu dari seorang temannya yang mengirim pesan WhatsApp. Bersama dengan Kasun Besuk, dia mencoba mencari kebenaran. Dengan menelepon pihak rumah sakit. Setelah benar, dia pun datang ke RS Bhayangkara sekaligus mengurus kepulangan jenazah ke rumah neneknya. Malam itu juga korban dimakamkan di TPU Toyoresm,  Dusun Besuk.

Kepergian Widiya masih membekas di pikiran neneknya. Menurut Sumani, semenjak mengetahui kabar kematian cucunya, sang nenek masih dalam keadaan shock berat. Masih sering menangis. “Kami mohon beri waktu bagi keluarga, karena nenek Widiya masih dalam keadaan drop setelah ditinggal cucunya,” pinta  Sumani, saat wartawan koran ini meminta waktu untuk wawancara dengan sang nenek.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia