Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Events

Hukum Membakar Bendera

Jumat, 09 Nov 2018 13:01 | editor : Adi Nugroho

Hukum Membakar Bendera

Bagaimana hukumnya membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid? Apakah hal itu berdosa dan termasuk penodaan agama? Mohon penjelasan, terima kasih. (Wilis, 085604788xxx)

Jawaban:

Saudari Wilis yang berbahagia, sebelum menjawab pertanyaan, saya ucapkan terima kasih atas pertanyaan saudari. Semoga kolom Dialog Jumat ini senantiasa dapat menjadi majelis ilmu bagi kita semua.

Terkait dengan pertanyaan tersebut perlu dijelaskan hal-hal sebagai berikut. Pertama, bahwa peristiwa-peristiwa simbolisasi atribut keagamaan menjadi marak akhir-akhir ini. Dalam sejarahnya, peristiwa serupa terjadi pada perang siffin yakni peperangan antara pihak Ali bin Abi Thalib berhadapan dengan pihak Muawiyah bin Abi Sufyan. Di tengah peperangan yang berkecamuk di antara kaum Muslim itu, Muawiyah menyuruh Amr bin ‘Ash untuk mengupayakan penghentian perang.

Hal ini dilakukan Muawiyah setelah melihat keunggulan pasukan Ali dan pertimbangan akan kekalahan pihak Muawiyah. Amr bin ‘Ash menindaklanjuti perintah Muawiyah dengan menancapkan mushaf Alquran di pucuk tombaknya sebagai simbol gencatan senjata. Pasukan Ali menanggapi  peristiwa itu dengan dua pilihan. Meneruskan peperangan atau menerima ajakan damai dari pihak Muawiyah. Dan nyatanya kedua pilihan itu menjadi dua sikap dalam tubuh pasukan Ali. Ada sebagian yang menginginkan perang diteruskan dengan alasan bahwa ajakan damai itu hanyalah tipu daya belaka. Sementara sebagian yang lain menerima ajakan damai sebagai bagian dari memercayai ajaran perdamaian yang termuat dalam Alquran.

Dan sejarah membuktikan bahwa simbolisasi Alquran tersebut hanyalah tipu daya belaka. Kembali pada kasus pembakaran bendera tauhid, adakah definisi pasti tentang bendera tauhid? Para ulama fiqh lebih mendekatkan pemahamannya pada aspek tujuan yang terkandung dalam suatu tanda itu - dalam hal ini - bendera tauhid. Jika bendera tersebut digunakan untuk tujuan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah maka menggunakan simbol apapun untuk tujuan pemberontakan itu tidak dapat dibenarkan. Simbolisisasi Alquran dalam peristiwa perang siffin di atas menggambarkan peristiwa penggunaan bendera tauhid.

Dalam konteks keindonesiaan, pendirian DI/TII oleh Kartosoewiryo dinyatakan sebagai bughat, pemberontakan, meski tampak sedang memperjuangkan berdirinya Negara Islam. Mengapa dinyatakan sebagai bughat?  Karena pemberontakan itu menyalahi kaidah tentang negara. Dalam pandangan ulama fiqh, dar al-islam bukanlah merupakan institusi negara. Tetapi suatu wilayah di mana dapat diberlakukan syariat Islam secara aman tanpa harus mendirikan institusi negara. Dan dalam pandangan ini, Indonesia disebut telah memenuhi syarat ini. Karena itu, dengan dalih apapun, upaya mendirikan negara dengan jalan mengubah/menggantikan negara Indonesia dengan bentuk dan sistem kenegaraan yang lain dinyatakan sebagai bughat, pemberontakan terhadap negara yang sah. Dan karena keabsahannya, negara berhak untuk mendeligitimasi kekuatan-kakuatan yang akan mengubahnya.

Selanjutnya, mengenai pemusnahan atribut-atribut kelompok tertentu dengan dalih adanya unsur subversif, tidak dapat dilakukan tanpa perintah negara. Dalam posisi ini, negara memiliki kewenangan penuh untuk mengambil tindakan ketertiban dan keamanan. Wallahu a’lam bi al-shawab. (Zayad Abd. Rahman, MHI, dosen Hukum Islam Fakultas Syariah IAIN Kediri.)

 

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia