Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon-featured
Features

Warga Desa Sambirejo, Pare Temukan Sesosok Bayi di Dalam Kardus

Mengira Tangis Bayi sebagai Suara Kucing

Jumat, 09 Nov 2018 12:03 | editor : Adi Nugroho

bayi

MEMPRIHATINKAN: Bayi perempuan yang ditemukan warga Desa Sambirejo, Pare, dalam perawatan RSUD Pare. (DESY For RadarKediri.JawaPos.com)

Kardus itu tergeletak di antara rerimbunan tanaman di halaman. Dari dalam terdengar suara tangis bayi. Saat dibuka, isinya benar-benar bayi. Lengkap dengan perlengkapan seperti selimut hingga minyak kayu putih.

HABIBAH A.  MUKTIARA

Hari masih pagi sekali saat itu. Waktu pun baru menunjuk pukul 05.00 WIB. Matahari pun masih malu-malu memancarkan sinarnya. Geliat warga di Jalan Gereja, Desa Sambirejo, Pare, pun masih belum riuh. Walaupun sudah mulai menampakkan aktivitas.

Penghuni rumah nomor 53 di RT 03/ RW 01 pun demikian. Mereka mulai menata diri menjelang menjalani rutinitas keseharian. Namun, ada yang terasa lain oleh Jajar, pemilik rumah. Lelaki itu mendengar sayup-sayup suara tangisan bayi.

“Saat itu kakak saya mengira itu suara kucing,” cerita Desy Christina, 37, adik Jajar.

Walaupun mengira suara kucing, rasa penasaran Jajar tak hilang. Dia bergegas keluar rumah. Mendatangi asal suara. Saat ditelusuri ternyata suara tangis itu berasal dari sekotak kardus. Terletak di antara rerimbunan tanaman bunga yang ada di depan rumahnya.

Jajar yang curiga segera memanggil Desy dan ibunya. Kemudian memeriksa dengan  hati-hati. Tak berani membuka segel. Mereka hanya melihat dari lubang-lubang yang ada di tubuh kardus. Dengan menyorotkan nyala senter ke arah benda itu. Yang terlihat mereka adalah perlengkapan bayi di dalam kardus.

“Kami langsung melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa dan kepala dusun,” terang Desy.

Meskipun mendengar suara bayi dari dalam kardus, mereka tidak berani langsung membuka. Pun ketika warga mulai banyak berdatangan. Hingga akhirnya 20 menit kemudian warga yang berkerumun berani melihat isi kardus. Setelah kades dan kasun datang.

Benar saja. Ketika dibuka kardus itu berisi sesosok bayi. Jenis kelaminnya perempuan. “Di dalam kardus ada beberapa peralatan bayi,” ungkap Desy. Peralatan bayi tersebut berupa selimut, baju bayi, gurita, topi bayi, minyak kayu putih, sabun zwitsal, dan peralatan lainnya.

Mengetahui ada bayi yang dibuang oleh orang tuanya, bidan desa pun didatangkan. Saat diperiksa oleh Pety, 45, sang bidan desa, kondisi bayi demam. Termometer yang untuk mengetahui suhu badan bayi itu menunjuk angka 40 derajat celcius. Bayi itu juga dalam keadaan basah. Namun, sang bayi mengalami dehidrasi.

“Ibu bidan berusaha memberi minum susu formula, yang disuapkan menggunakan sendok,” imbuh Desy. Oleh perangkat desa kejadian tersebut langsung dilaporkan ke Polsek Pare.

Berdasarkan keterangan dari warga, malam sebelum ada penemuan bayi, Rabu (07/11) sekitar pukul 23.00 WIB, mereka mengetahui ada mobil yang berhenti di lokasi penemuan bayi. “Namun saat itu dikira mobil saya. Karena saat itu saya sedang ke luar untuk pergi ke dokter,” imbuh Desy. 

“Beruntung bayinya tidak kenapa-kenapa. Karena di daerah tersebut banyak anjing,” ujar Kasubag Humas Polres Kediri AKP Setijo Budi.

Setelah mendapat laporan warga, menurut Budi, polisi segera datang ke lokasi. Mereka segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Mencari bukti-bukti dan petunjuk. Yang bisa digunakan untuk mencari orang tua yang tega melakukan hal itu. Polisi juga telah memeriksa beberapa saksi mata.

Budi menyatakan, kasus tersebut masih dalam penyelidikan. Pihak kepolisian masih mencari pelaku yang membuang bayi tersebut. Hingga kemarin, bayi perempuan itu dirawat di RSUD Pare.

Kamis siang itu, Jawa Pos Radar Kediri menengoknya sang bayi di ruang bayi RSUD Pare. “Saat ini dokter sedang melakukan pemeriksaan,” terang Ester Meisalina, salah seorang perawat.

Setelah diserahkan ke RSUD Pare, kondisi bayi itu langsung tertolong. “Kondisinya sudah berangsur membaik,” terang Humas RSUD Pare Budi Sanjaya

Budi menjelaskan, ketika diserahkan ke pihak rumah sakit saat itu bayi dalam keadaan dehidrasi. Selain itu bayi tersebut tidak dalam keadaan normal. Saat ditimbang beratnya hanya 2 kilogram. Bayi normal, rata-rata memiliki berat badan 3 kg.

Kini, konsentrasi pihak rumah sakit adalah mengembalikan kondisi sang bayi. Agar kesehatannya normal. “Nanti bayi itu akan diserahkan ke dinas sosial. Tentu setelah kondisi bayi tidak lemas dan bisa menyusu sendiri,” imbuh Budi.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia