Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Desa Pelem Gunakan Barcode sebagai Pengganti Nomor DPT

Sempat Terganggu karena Wifi Lemot

Jumat, 09 Nov 2018 11:54 | editor : Adi Nugroho

pilkades desa pelem

MAJU: Warga Desa Pelem mengantre untuk didata sebelum memberikan hak pilihnya. (HABIBAH ANISA - RadarKediri.JawaPos.com)

Tak sekadar mengikuti perkembangan zaman. Desa ini menggunakan teknologi informasi untuk mempermudah pendataan warga yang datang ke TPS. Sistem barcode pun diterapkan oleh panitia pilkades.

HABIBAH A. MUKTIARA

Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Di Balai Desa Pelem, Pare, sudah mulai banyak warga yang datang. Mereka berniat antre lebih awal agar bisa lebih dulu mencoblos kandidat kades pilihannya.

Balai desa tersebut memang menjadi tempat pemungutan suara (TPS) untuk pilkades yang berlangsung serentak di 32 desa kemarin. Meskipun sepintas sama dengan TPS-TPS di desa lain, sejatinya ada yang menarik dari tempat itu. Yaitu pelayanannya yang menggunakan barcode.

Warga pemilih yang datang ke lokasi membawa selembar kertas. Warnanya merah muda. Di kertas tersebut terdapat barcode dan juga data diri pemilih.

Sebelum masuk ke dalam bilik suara yang telah disiapkan, mereka lebih dulu masuk pintu yang sesuai asal dusun. Untuk dilakukan pendataan. Di setiap pintu itu ada beberapa petugas. Satu meja disiapkan. Lengkap dengan satu set komputer dan gawai. Gawai itu sebagai alat pemindai barcode para pemilih.

“Setiap dusun terdapat tiga orang di bagian pemeriksaan barcode,”  jelas Agus Puji Dwi Santoso, sekretaris Panitia Pilkades.

Agar mudah dalam pembacaan barcode, petugas entri terlebih dahulu diberi pembekalan. “Karena memiliki dasar komputer, mereka cukup cepat dalam menangkap sistem kerja dalam barcode ini,” terang laki-laki yang menjabat sebagai kepala seksi kesejahteraan rakyat (kasi kesra) di Desa Pelem.

Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Satu orang melakukan pemindaian barcode. Satu orang melakukan pengecekan data yang keluar di layar komputer. Yang kemudian disesuaikan dengan nama yang tertera di dalam kertas. Sedangkan satu orang lagi sebagai cadangan.

Agus menjelaskan petugas menggunakan nomor daftar pemilih tetap (DPT) untuk mengenali data warga. Kemudian diubah menjadi barcode. Sehingga ketika melakukan entri data petugas tidak perlu memasukan nomor secara manual.  “Tapi menggunakan barcode dipindai menggunakan gawai yang sudah diinstal,” imbuhnya.

Sebelumnya, data penduduk telah dimasukkan dalam program. Agar mempermudah proses pendataan dilakukan di setiap dusun. Komputer yang telah berisi data tersebut kemudian disambungkan dengan gawai yang sudah terdapat aplikasi barcode scanner. “Selain mepermudah untuk proses pendataan, juga mempermudah untuk penghitungan warga yang hadir di TPS,” ungkap Agus.

Selain itu, sistem barcode juga mencegah kecurangan. Satu surat undangan pemilihan hanya bisa digunakan untuk satu orang. Bila digunakan oleh orang lain akan ketahuan.

Sayangnya, penggunaan barcode kemarin tak berlangsung mulus. Masih muncul beberapa kendala. Salah satunya karena persoalan wifi. Saat di-scan barcode ada yang tak terbaca karena sambungan wifi bermasalah.  Namun, tetap saja terobosan itu membuat proses pemilihan menjadi lebih cepat.

“Kalau dulu kan menggunakan absen manual, sekarang menggunakan elektronik. Itu saya sih bedanya,” ujar Eka, warga Dusun Ngbelek yang kemarin datang kelokasi TPS untuk menggunakan hak suaranya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia