Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Politik

Aroma Bagi-Bagi Uang Masih Kuat di Pilkades

Kamis, 08 Nov 2018 17:13 | editor : Adi Nugroho

kedungsari tarokan

ANTRE: Warga Desa Kedungsari, Tarokan, saat pilkades di desanya. (IQBAL SYAHRONI - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN - Memang, tak ada kandidat yang tertangkap basah bagi-bagi uang ke pemilih. Namun, aroma politik uang masih kuat tercium dalam pelaksanaan pilkades serentak kemarin. Di beberapa desa, mayoritas kandidat merogoh kocek untuk nyangoni pemilih.

          Jawa Pos Radar Kediri melakukan penelusuran di desa-desa yang diperkirakan rawan. Seperti di Desa Gedangsewu, Pare; Desa Wonojoyo, Gurah; dan Desa Baye, Kayenkidul. Di tiga desa itu kabar bagi-bagi duit santer terdengar.

          Di Desa Wonojoyo misalnya. Bagi-bagi uang telah dilakukan jauh sebelum  hari pencoblosan.  Dan itu dibenarkan oleh beberapa warga yang berada di tempat pemungutan suara.

“Sudah ada (bagi-bagi uang, Red). Sudah dari jauh hari,” ujar Skd, yang ditemui di lapangan desa yang menjadi tempat pemungutan suara (TPS).

          Uang yang dibagi ke pemilih pun seragam. Sebesar Rp 100 ribu. Bagi Skd dan pemilih lain, uang itu sebagai pengganti kerja satu hari. “Lha sekarang kerja satu hari upahnya ya segitu,” dalihnya.

          Hal senada diceritakan seorang linmas yang berjaga di TPS Wonojoyo. Dia mengatakan telah ada pembagian uang kepada pemilih. “Sekitar empat hari yang lalu, menjelang masa tenang,” akunya.

          Linmas itu membenarkan nilai yang disebutkan Sdr. Hanya, cakupan area pembagiannya tak sama. Ada yang memberi di hampir setiap rumah. Ada pula yang hanya rumah-rumah tertentu.

          Keterangan lain datang dari seorang pedagang jajanan yang berjualan di sana. Ia menerangkan ada salah satu kandidat yang lebih gencar membagi uang dari yang lain. Dia menyebar hingga enam ribuan amplop. Sementara jumlah pemilih di desa ini sebanyak 6.783 orang.

“Yang satunya hanya icir (menyebar, Red) empat ribuan amplop,” ungkap pedagang yang enggan namanya dikorankan tersebut.

Masih dari sumber yang sama, salah satu kandidat ada yang diunggulkan dalam bursa botoh. Beberapa waktu yang lalu, ia diunggulkan hingga 750 suara dari lawannya. Namun, pada saat pemungutan suara kemarin bursanya berubah. Kandidat tersebut hanya diunggulkan sekitar 200 – 300 suara saja dibanding lawannya.

Ketika ditanya, botoh yang bermain di sana berasal dari mana? Dia kurang mengetahui secara pasti. Namun ia meyakini jika botoh tersebut berasal dari luar daerah. “Orang jauh biasanya yang bermain. Dari Jombang sana mungkin,” ujarnya.

Di Desa Wonojoyo, ada dua calon. Yaitu calon petahana Basuki dengan nomor urut 2. Lawannya adalah Dwi May Susanto. Hingga akhir penghitungan suara yang unggul adalah Dwi.

Di Gedangsewu dan Baye juga serupa. Yang berbeda hanya nominal dan waktu pembagian. Kabarnya, di Gedangsewu pembagian berlangsung malam hari jelang pencoblosan. Namun, konon, tidak semua kandidat yang melakukan. Hanya tiga dari lima kandidat. Jumlahnya pun tak besar. Hanya sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

Yang menarik, di Gedangsewu calon petahana juga kalah. Yang unggul dalam penghitungan suara kemarin adalah Ruslan Abdul Gani. Calon bernomor urut 2.

Sedangkan di Desa Baye nominalnya lebih besar lagi. Yaitu antara Rp 100 – 200 ribuan. Di sana pun tidak semuanya membagikan uang. “Yang satu tidak ikut-ikutan (membagikan uang),” aku salah satu warga yang enggan namanya dikorankan.

Menurut keterangannya, ada kandidat yang membagikan uang sejak dua hari lalu. Namun, pada saat menjelang pemungutan suara membagikan uang lagi. “Ditambah lagi Rp 50 ribu. Di sini icir per rumah,” bebernya.

Untuk Desa Baye, yang menarik, calon petahana juga mengalami kekalahan. Calon petahana,  Giono, kalah suara oleh calon yang juga mantan sekdes, Hadi Purwanto.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Satirin mengaku tidak ada laporan terkait politik uang tersebut. “Kami juga sudah memperingatkan sejak jauh hari agar tidak menggunakan politik uang,” tegasnya saat ditemui di lapangan Desa Wonojoyo.

Menurutnya, pemilih sekarang sudah lebih dewasa dan pintar dibandingkan yang dulu. Bahkan, ia mengklaim bahwa pelaksanaan pilkades tahun ini juga jauh lebih baik dari sebelumnya.

Terkait isu botoh yang biasa ada dalam gelaran pilkades, ia mengaku hal tersebut dapat merugikan iklim demokrasi. Pasalnya, dengan adanya botoh akan membuat rancu yang berhasil menjadi pemenang. “Tentunya hal tersebut sangatlah negatif. Hanya untuk kepentingan pribadinya saja,” keluhnya.

Lebih lanjut, ia berharap dalam pilkades kali ini dapat terpilih pemenang yang terbaik. Ia menginginkan kades yang terpilih tersebut menang karena program nyata. Bukannya karena iming-iming uang.

Bagi-Bagi Uang di Arena Pilkades

-         Nilai yang dibagi variatif, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 300 ribu.

-         Pembagian mulai jauh hari sebelum hari tenang. Namun ada yang berlangsung malam sebelum pemilihan.

-         Pembagian uang menyasar ke rumah-rumah pemilih. Ada yang membagi secara merata ada yang ‘tebang pilih’.

-         Ada kandidat yang membagi uang dua kali. Sebelum hari tenang dan pada malam menjelang pemilihan.

-         Botoh-botoh juga bermain dengan terus meng-up date bursa keunggulan kandidat. Bursa bisa berubah hingga menjelang pemilihan.

Sumber: wawancara dari warga

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia