Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Para Pemenang Pemuda Inspiratif Audisi Kediri (2/Habis)

Berdayakan Karang Taruna Kelola Sampah

Rabu, 07 Nov 2018 15:04 | editor : Adi Nugroho

pemuda inspiratif

MENGINSPIRASI: Winda Firdayanti dinobatkan sebagai pemenang Pemuda Inspiratif audisi Kediri. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

 Winda prihatin dengan tumpukan sampah organik yang semakin banyak. Benda berbau busuk itu pun membuatnya tergerak. Memanfaatkannya untuk budidaya perikanan terintegrasi berbasis kewirausahaan.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Senyum Winda seketika mengembang ketika namanya dipanggil pembawa acara malam itu. Gadis bernama lengkap Winda Firdayanti ini dinobatkan sebagai pemenang Pemuda Inspiratif audisi Kediri.

 Dia pun bergegas naik panggung. Senang dan haru mewarnai ekspresi wajahnya. Ditambah saat menerima piala dan selempang yang diberikan oleh staff kemenpora.

Mahasiswa semester 7 Jurusan Teknologi Hasil Perikanan Universitas Brawijaya Malang ini meyisihkan ratusan peserta dan mampu mengungguli pesaingnya. Keberhasilannya itu saat dia mempresentasikan gagasanya berupa pengelolaan lingkungan secara terpadu yang berbasis kewirausahaan ekologi.

Winda menyebutnya dengan program I-WAS (Integrated Was Aquaculture System). Yakni sebuah solusi inovatif pemanfaatan sampah organik untuk kegiatan perikanan terintegrasi berbasis ecopreneurship. Dia menjelaskan bahwa latar belakang dari inovasi ini adalah permasalahan sampah yang ada selama ini.

“Sampah adalah permasalahan serius di semua daerah. Indonesia sendiri menempati posisi kedua masalah sampah,” terang gadis 21 tahun itu.

Dari semua sampah itu, terutama sampah organik yang jumlahnya lebih banyak daripada anorganik. Baik dari limbah pasar, limbah pertanian, peternakan, rumah tangga. Di mana sebagian besar sampah organik itu menyebabkan bau busuk yang menyengat, selain itu juga dibuang ke bantaran sungai, dan pekarangan sungai yang tidak termanfaatkan dengan baik.

“Dari permasalahan itu, dari program ini saya memberdayakan pemuda karang taruna untuk mengelola sampah secara inovatif dan solutif,” terangnya.

Ide cemerlang itu muncul di akhir 2017. Sasarannya adalah pemuda karang taruna di setiap daerah. Dengan konsep pemanfaatan sampah organik yang digunakan sebagai media hidup dan cacing tanah. Media hidupnya berasal dari kompos hasil pembusukan. Kemudian blotong tebu, sisa bag log jamur, dan juga limbah peternakan. “Semuanya dicampur untuk media hidup cacing tanah,” tambahnya.

Untuk pakan cacing tanah sendiri, setiap hari diambil dari limbah pasar, dan limbah rumah tangga berupa sayur mayur. Dalam rangkaian pembuatannya ada juga  proses pembuatan probiotik perikanan, berasal dari limbah buah-buahan yang mengandung vitamin C baik dari kulit maupun buah itu sendiri. Yang dicampur dengan limbah molase tetes tebu.

“Cacing tanah dan probiotik perikanan tadi diaplikasikan pada pembuatan pakan ikan, di mana cacing tanahnya difungsikan sebagai protein, sementara probiotiknya digunakan untuk fermentasi pakan ikan,” terangnya.

Dari penjelasan Winda, pakan ikan pun juga dibuat dari limbah sayur mayur, yang ditambah dengan tulang ayam, tulang ikan, cangkang telur, bekatul, tepung kedelai, dan tepung jagung. Pakan hasil pembuatan tadi diaplikasikan pada kolam budidaya dengan sistem bioflok. “Kegiatan pembuatan pakan ini juga dilakukan oleh pemuda karang taruna,” jelasnya.

Dengan sistem seperti ini, gadis asal Kecamatan Plemahan ini menyebut bisa memanfaatkan probiotik untuk mengurai feses dalam kolam budidaya, sehingga penggantian airnya bisa diminimalisir. “Ikan hasil budidaya karang taruna itu tadi bisa dijual dalam keadaan segar dan juga dijual dalam bentuk inovasi produk,” tandasnya.

Inovasi itu bisa makanan ringan berupa snack bar dan cokelat ikan, yang diambil dari daging ikan. Sementara keripik ikan dari tulangnya. Dan untuk kulit ikan akan dijadikan kerupuk ikan pedas.

Dari semua itu, Winda mengingatkan bahwa sampah  bukan suatu hal menjijikkan yang membuat lingkungan kotor. “Padahal dari sampah, kalau kita melihat potensi, itu bisa dimanfaatkan,” sahutnya.

Pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat. Baik ekonomi dan sosial. Dari sampah itu masyarakat tidak mengeluarkan biaya sedikitpun alias nol rupiah, tapi dari program ini, pundi-pundi rupiah bisa didapat dari produk yang dihasilkan.

“Termasuk cacing tanah yang bisa dijual Rp 50 ribu per satu kilogram,” sebutnya.

Dari ide cemerlang itulah, akhirnya berhasil mengantarkan Winda pada ajang final Pemuda Inovatif yang akan digelar di Serang, Provinsi Banten. Karena itu, dia akan terus mematangkan mematangkan ide yang dimilikinya tersebut. “Saya harap inovasi ini juga bisa diterapkan secara nyata di daerah lain di Indonesia,” harapnya.

Winda pun tidak menyangka, bisa menjadi pemenang pada audisi di Kediri kemarin. Padahal sebelum final, ketika babak penyisihan dia sempat akan menyerah. Dia ragu dengan apa yang akan dipresentasikannya. “Tapi dari semangat saya, ternyata bisa mengalahkan rasa ragu itu,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia