Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Inovasi Milik Warga Desa

Rabu, 07 Nov 2018 13:46 | editor : Adi Nugroho

Oleh : Dr Djoko Siswanto Muhartono Msi

Oleh : Dr Djoko Siswanto Muhartono Msi

Pada 2018 ini Pemerintah Kabupaten Kediri kembali menggelar Anugerah Desa. Yang penjuriannya dikoordinasikan oleh dan atas kerja sama antara Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Kediri dan Jawa Pos Radar Kediri. Tulisan ini menggunakan pendekatan terhadap Anugerah Desa. Yaitu dengan pendekatan ”pembangunan berkelanjutan (sustainable development).”

Konsep pembangunan yang berkelanjutan secara sederhana dapat dimaknai bahwa pembangunan yang dilakukan sekarang, tidak berhenti seketika pembangunan selesai dikerjakan. Tetapi hasil pembangunan tersebut secara terus-menerus dipelihara dan dimanfaatkan oleh desa atau pemangku kepentingan desa untuk kesejahteraan warga desa. Pembangunan berikutnya berpijak pada hasil pembangunan yang lalu. Jadi semacam ada peta jalan (road map) pembangunan. Dengan adanya peta jalan ini, hasil pembangunan akan bermanfaat sepanjang masa dengan dilakukan beberapa inovasi.

Ada fenomena yang menarik terkait dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Yaitu di salah satu desa yang telah menjadi juara tahun lalu. Pada saat juri menilai desa tersebut, melihat hasil kelanjutan pembangunan tahun lalu. Ternyata kurang dipelihara dengan baik. Setelah dikonfirmasikan kepada pihak pemerintah desa, dikatakan masih ada. Tapi faktanya tidak ada di lokasi. Contoh fenomena di atas menunjukkan bahwa pembangunan tidak berkelanjutan.

Pertanyaan yang dapat diajukan di sini adalah faktor-faktor apakah yang menyebabkan pembangunan tidak berkelanjutan? Penulis yang kebetulan menjadi salah satu juri di Anugerah Desa 2018 ini telah dapat mengidentifikasikan. Yaitu ada 2 faktor penyebab pembangunan tidak berkelanjutan. Yaitu: (1) tidak adanya peraturan desa dan peraturan kepala desa (legal factor) dan (2) kurang adanya partisipasi publik (participation factor).

Peraturan desa (perdes) dan peraturan kepala desa (perkades) diperlukan untuk menjamin program inovasi terus berlanjut. Tidak hanya ketika mengajukan ke Anugerah Desa saja. Oleh karena itu, dengan program inovasi diatur dalam perdes dan perkades, program inovasi tersebut ada jaminan untuk dianggarkan dalam APBDesa. Konsekuensi yang lain bahwa program inovasi tersebut telah menjadi milik seluruh warga desa. 

Partisipasi publik atau partisipasi seluruh warga desa sangat dibutuhkan. Karena warga desa merasa memiliki program inovasi tersebut. Atau dalam bahasa Jawa yaitu ”diwongke.” Ada fenomena yang menarik, yaitu salah satu kepala desa dengan semangatnya menyampaikan program inovasi desa. Namun, demikian, ketika dikonfirmasi lebih dalam hanya kepala desa (one man show) yang sangat sibuk untuk mempersiapkan inovasi desa. Jadi warga desa kurang dilibatkan dalam pelaksanaan inovasi desa. Inovasi adalah milik warga desa.

Secara umum penyelenggaraan Anugerah Desa Awards pada tahun 2018 berjalan baik dan lancar. Pada masa mendatang (jika masih ada)  Anugerah Desa diarahkan kepada 2 hal yang perlu mendapatkan perhatian oleh penyelenggara. Yaitu: (1) ada beberapa desa yang potensi, tetapi oleh pemerintah desa tidak diajukan menjadi peserta dan (2) ada beberapa pemerintah desa yang masih kurang memahami, sehingga salah dalam mengajukan inovasi.

Solusinya adalah penyelenggara Anugerah Desa memotivasi kepada kepala desa yang memiliki desa yang potensial untuk mengajukan inovasi desa. Selanjutnya pemerintah desa yang masih kurang paham tentang jenis inovasi apa yang diusulkan, kantor kecamatan dapat membantu atau melakukan pendampingan dalam hal pemilihan inovasi desa.

Dua permasalahan tersebut di atas, baik desa potensi yang tidak diusulkan oleh pemerintah desa maupun kekurangmampuan pemerintah desa dalam memilih jenis inovasi, dapat dipecahkan secara bertahap. Maka akan berimplikasi logis pada peningkatan kualitas penyelenggaraan Anugerah Desa di masa mendatang. Semoga! (Dosen Universitas Pawyatan Daha/Konsultan Governance Pelayanan Publik)

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia