Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom
Dr Anang Iskandar SH MH

Siapa Selamatkan Generasi Muda?

Minggu, 04 Nov 2018 17:49 | editor : Adi Nugroho

Dr Anang Iskandar SH MH

Dr Anang Iskandar SH MH

Pertanyaan ini selalu muncul ketika saya menjadi narasumber pada acara pencegahan penyalahgunaan narkotika. Sebab, generasi muda kita banyak yang menjadi korban penyalahgunaan, penyalah guna, dan pecandu. Sementara, di sisi lain ada yang jadi pengedar

Secara garis besar, kejahatan narkotika terdiri dari dua jenis kejahatan pokok. Yaitu kejahatan penyalahgunaan narkotika dan kejahatan peredaran narkotika. Keduanya mempunyai hubungan yang erat –di mana penyalah guna sebagai demand sedangkan pengedar sebagai supplier dalam bisnis narkotika. Keduanya termasuk kategori pelaku kejahatan tapi warnanya berbeda. Demikian pula treatment penegakan hukumnya.

Berdasarkan UU Narkotika, penegakan hukum terhadap 2 jenis kejahatan ini wajib diprioritaskan. Terhadap pengedar, penegakan hukumnya bersifat represif dan keras. Sedangkan terhadap penyalah guna –apalagi yang sudah jadi pecandu—bersifat humanis dan rehabilitatif. Ini dilakukan karena penyalah guna dan pecandu narkotika adalah korban kejahatan narkotika sekaligus orang sakit yang mengidap penyakit adiksi di mana treatment penegakan hukumnya sudah disiapkan, yaitu hukuman rehabilitasi.

Model pencegahannya pun berbeda antara kejahatan peredaran dan kejahatan penyalahgunaan narkotika. Terhadap pengedar, pencegahan dilakukan dengan mencegah niat para pengedar bertemu dengan kesempatan (teori n + k = kejahatan)

Sedangkan terhadap kejahatan penyalahgunaan dan pecandu narkotika, cara pencegahan adalah dengan: Pertama, mencegah masyarakat agar tidak menjadi korban penyalahgunaan (mencegah masyarakat dibujuk, dirayu, diperdaya, ditipu bahkan dipaksa menggunakan narkotika). Kedua, menyembuhkan penyalah guna yang sudah kecanduan melalui proses rehabilitasi agar berhenti menggunakan narkotika.

Model pencegahan secara khusus terhadap penyalah guna diatur dalam UU Narkotika. Sebab, penyalah guna adalah penderita sakit adiksi atau sakit ketergantungan narkotika. Apabila tidak diberikan treatment berupa rehabilitasi maka mereka akan kumat-kumatan. Semakin lama, kondisi ketergantungan narkotikanya semakin parah dan frekuensi penggunaan narkotikanya meningkat. Bahkan, tiap hari bisa mengonsumsi narkotika.

Model pencegahan penyalahgunaan narkotika ini bertujuan agar masyarakat tidak menjadi korban berkelanjutan. Yaitu, dengan menitikberatkan agar penyalah guna baru tidak menjadi penyalah guna rekreasional, penyalah guna rekreasional tidak menjadi pecandu, dan pecandu tidak mendapatkan penyakit lebih buruk. Caranya dengan direhabilitasi. Di titik ini, rehabilitasi merupakan proses pencegahan agar tidak menjadi penyalah guna (berkelanjutan).

Itu sebabnya, dalam UU Narkotika, penyalah guna diancam hukuman pidana. Namun, dijamin untuk mendapatkan upaya penegakan hukum berupa rehabilitasi. Sedangkan terhadap pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika, sifatnya wajib menjalani rehabilitasi agar sembuh dan tidak menjadi penyalah guna lagi.

Hal ini menjadi kekhususan sifat hukum pidana narkotika terhadap penyalah guna untuk diri sendiri. Diancam dengan hukuman penjara, namun penegakan hukumnya diganti dengan hukuman rehabilitasi.

Pencegahan dengan menggunakan teori n + k = kejahatan, hanya cocok untuk mencegah perkara peredaran narkotika. Tidak relevan lagi apabila digunakan untuk mengantisipasi penyalahgunaan narkotika di mana konstruksi UU Narkotika kita menyatakan bahwa tidak hanya pelaku yang dikriminalkan, tetapi penyalah guna sebagai korban kejahatannya juga dikriminalkan.

Pencegahan terhadap penyalahgunan narkotika akan efektif apabila secara khusus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyalah guna baru. Caranya, dengan membentengi masyarakat agar tidak dipaksa, ditipu, diperdaya, dan dirayu oleh penyalah guna yang sudah nyandu untuk ikut menggunakan narkotika.

Perlu kita pahami bahwa penyalah guna yang sudah nyandu adalah orang sakit adiksi yang dapat berperan sebagai laskar terdepan pengedar narkotika. Apabila tidak segera direhabilitasi, mereka bisa berperan besar dalam merekrut penyalah guna baru dengan bujuk rayu. Misalnya, menyatakan narkotika sebagai obat penurun berat badan, obat untuk membuat otak encer, dan obat agar bergairah.

Kadang-kadang para pecandu ini juga memaksa calon penyalah guna untuk bersama-sama menggunakan narkotika dalam acara pesta narkotika. Setelah itu baru meneror untuk mengajak maupun menekan agar terus menggunakan narkotika.

Pencegahan untuk meniadakan penyalah guna baru dengan cara khusus ini perlu digalakkan. Demikian pula pencegahan dengan cara merehabilitasi para penyalah guna yang sudah jadi pecandu agar tidak mendapatkan dampak lebih buruk. Mereka adalah demand para penjual narkotika. Selama demand masih ada, bisnis narkotika akan tetap eksis dan berkembang.

Menurut UU Narkotika yang bersifat khusus, kita diamanati untuk mencegah bertambahnya para penyalah guna baru. Sebab, secara rasional, tidak ada masyarakat yang ingin menjadi penyalah guna, apalagi pecandu. Mereka yang terjatuh sebagai penyalah guna atau pecandu adalah korban dari pemaksaan, penipuan, atau bujuk rayu. Tapi, selanjutnya, mereka bisa menikmatinya. Mereka mengonsumsinya sebagai obat. Inilah yang disebut tahap rekreasional.

Tahap berikutnya lagi adalah kecanduan. Pada tahap ini, kondisi fisik dan psikisnya sudah terganggu. Jika diteruskan, hal-hal yang lebih buruk lagi –termasuk kematian—bisa menimpa. Itu sebabnya, saya mengajak kepada seluruh masyarakat agar menyelamatkan para pecandu, para pemakai/penyalah guna, dan melindungi mereka agar tidak menjadi lebih buruk . Mereka adalah generasi muda kita.

Mimpi saya agar para pencandu dan para penyalah guna dapat meraih harapan sembuh kembali di kelak kemudian hari.

*) Penulis adalah Ka BNN 2012-2015, Kabareskrim 2015-2016. Konsultasi dapat dilakukan melalui WA 087884819858.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia