Selasa, 20 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Inflasi Dipengaruhi Kenaikan Harga BBM

Jumat, 02 Nov 2018 18:45 | editor : Adi Nugroho

kenaikan bbm

NAIK: Suasana di SPBU Semampir. Kenaikan pertamax dan dexlite jadi pemicu inflasi. (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

KEDIRI KOTA - Naiknya harga pertamax series dan dexlite series menjadi penyumbang terbesar laju inflasi Kota Kediri sepanjang Oktober kemarin. Kedua jenis BBM itu menjadi faktor nomor satu laju inflasi bulan lalu yang sebesar 0,16 persen.

Walaupun demikian, laju inflasi Oktober tersebut lebih kecil dibandingkan September. Bulan sebelumnya inflasi yang terjadi di Kota Kediri mencapai 0,2. Selain itu, laju inflasi Kota Kediri juga di bawah Jawa Timur. Yang mencapai 0,19 persen.

Dua jenis BBM tersebut mengalami kenaikan  sejak 10 Oktober. Besarnya berkisar Rp 900 sampai Rp 2.100.  “Sudah bisa ditebak sejak BBM mulai mengalami kenaikan, berpotensi menjadi penyumbang inflasi Oktober ini,” ungkap Ellyn T. Brahmana, kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri pada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (01/11).

Kenaikan harga BBM tersebut bisa berdampak pada harga komoditas lainnya. Kenaikan harga sebanyak 1,4 persen itu berada di urutan pertama faktor penyumbang inflasi. Dengan andil sebesar 0,081 persen. Selain mengerek harga komoditas lain, kenaikan BBM juga berpotensi mendongkrak tarif transportasi.

Ellyn juga menjelaskan bila kenaikan harga juga terjadi pada komoditas bahan pangan. Seperti kacang panjang, kelapa, ikan Nila, cabai merah, daging sapi, beras, dan kubis. Sisanya dipicu oleh kenaikan harga BBM, tarif kontrak rumah, dan harga emas. Yang terus mengalami kenaikan seiring dengan perkembangan nilai tukar mata uang dolar Amerika.

Menurut Ellyn, tingkat inflasi Kota Kediri masih stabil. Selain di bawah laju inflasi Jatim, juga berada di bawah inflasi nasional. Inflasi nasional Oktober lalu mencapai 0,28 persen.

Sementara, dari delapan daerah di Jatim yang diukur tingkat inflasinya, Kota Kediri berada di peringkat 3. Di bawah Surabaya yang 0,15. “Yang terendah Banyuwangi, yang mengalami inflasi 0,09 persen,” tambah Ellyn.

Ellyn berharap agar masyarakat bijak menyikapi kenaikan harga. Tak perlu panik hingga menimbun barang. Masyarakat hanya perlu waspada dan mengontrol pengeluaran untuk membelanjakannya sesuai dengan kebutuhan. “Menjaga keuangan keluarga, secara tidak langsung juga menjaga laju inflasi,” ingatnya.  

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia