Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Kisah Santri yang Menimba Ilmu Jadugan di Pesantren (3-Habis)

Bukan untuk Pamer, Hanya saat Terdesak

25 Oktober 2018, 18: 23: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

hari santri gus bik

HIKMAH: Gus Bik, pengasuh Pondok Kapu. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Belajar ilmu hikmah bukan untuk mencari kekebalan dan kekuatan fisik semata. Lebih dari itu, ilmu hikmah harus dimaknai untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Berbeda tempat, berbeda pula istilah yang digunakan. Jika di beberapa tempat dikenal dengan istilah jadugan, namun di Pondok Kapu, Desa Kapurejo, Pagu, ilmu tersebut dikenal dengan ilmu hikmah.

          Ilmu hikmah pada dasarnya adalah untuk mengetahui atau mempelajari kemanfaatan dari ayat-ayat suci Alquran. Belajarnya pun harus disertai dengan niat yang sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri dengan mengagungkan perintah-Nya.

          “Niat pertamanya untuk mendekatkan diri dengan Pangeran (Allah SWT, Red),” ujar Pengasuh Pondok Kapu Muchamad Hamdani Bik kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di ruang tamu rumahnya.

          Menurut cerita pria yang akrab disapa Gus Bik ini, untuk mempelajari ilmu hikmah harus melewati serangkaian pengalaman nyantri dulu. Tidak bisa seketika ada santri yang datang dan meminta untuk diajari ilmu tersebut.

          Apabila patokannya adalah lama orang tersebut nyantri, maka sekitar 10 tahunan baru bisa mempelajari ilmu hikmah. Namun, itu bukanlah patokan pasti. Yang utama adalah ubudiyah (ibadah dan perilaku) dari santri yang bersangkutan.

          “Ada pula yang dirasa telah mampu untuk mempelajari ilmu hikmah padahal baru sebentar nyantri di sini,” aku pria kelahiran Kediri tersebut.

          Salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh santri untuk bisa belajar ilmu hikmah adalah ilmu tasawuf. Sang santri harus memiliki hati yang bersih dan niat yang suci. Lebih lagi, ia juga harus setiap saat ingat kepada Sang Maha Pencipta dalam kondisi dan situasi apapun.

          Setelah dinilai bisa menerima ilmu tersebut, barulah sang santri diminta untuk melaksanakan beberapa amalan. Antara lain adalah puasa selama tiga hari. Puasanya pun tidak hanya seperti orang kebanyakan saja. Ada pula puasa mutih yang harus dijalankan. Serta pada hari terakhirnya diharuskan untuk melekan (terjaga) seharian penuh dengan disertai dzikir.

          Tak hanya itu, ada pula beberapa hafalan, surat dan ayat yang harus dibaca oleh santri tersebut. Dasarnya adalah Al Fatihah dan ayat kursi. “Untuk keteguhan hati dan keselamatan,” ungkapnya.

          Ilmu hikmah tersebut lebih ke arah pengendalian dan keselamatan diri. Tidak ada ilmu bela diri atau kanuragan yang diajarkan kepada santri di Pondok Kapu lagi sekarang. Meskipun begitu, dulunya memang ada pelajaran bela diri di sana.

          Ilmu hikmah disertai dengan bela diri diajarkan di Pondok tersebut mulai sekitar 1965 hingga 1995. Sedangkan sekarang sudah tidak lagi diajarkan untuk keterampilan bela diri dikarenakan kebutuhan zaman yang berbeda.

          Gus Bik sendiri adalah murid generasi ketiga di tempat itu. Ia masih berkesempatan belajar ilmu hikmah sekaligus dengan keterampilan bela diri pada masa-masa tersebut. Yaitu antara 1993 – 1995. Sebenarnya tidak ada nama khusus untuk perguruan silat tersebut. Tapi kebanyakan orang mengenalnya dengan nama perguruan pelajar bintang sembilan.

          Meskipun ilmu hikmah memiliki keunggulan yang begitu banyak dan menggiurkan untuk dipelajari orang, namun bukan itu yang menjadi tujuan utamanya. Ia selalu mengingatkan kepada santri yang belajar di sana bahwa ilmu tersebut untuk mencari rida dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

          Kesaktian yang berupa kebal terhadap senjata, meringankan tubuh, membengkokkan besi, dan terhindar dari marabahaya hanyalah bonus saja. Ada yang lebih penting di atas itu semua.

“Kalau sudah dekat dengan Pangeran itu mau minta apa kan lebih mudah. Wong namanya saja sudah dekat,” kelakarnya dengan sarat makna.

Konon, ilmu hikmah yang berupa kekebalan tubuh dan manfaat lainnya tersebut tidaklah untuk dipamerkan atau dipertunjukkan. Ilmu tersebut bukan digunakan untuk itu. Murni untuk menjaga diri dan keselamatan diri atau orang lain jika dalam keadaan yang terdesak saja.

Bahkan, kalau sengaja dicoba justru ilmu atau manfaat tersebut tidak akan keluar. Namun, ketika tidak diinginkan atau diharapkan muncul saat keselamatan terancam akan muncul dengan sendiri. “Kita tidak sadar, seperti ada yang menggerakkan,” imbuhnya.

Selain untuk menjaga diri dan keselamatan, ilmu tersebut juga bisa digunakan untuk menyembuhkan orang yang sedang sakit. Tidak seperti dokter pada umumnya yang menggunakan obat atau peralatan kesehatan. Pengobatan ala pondok tersebut lebih menekankan pada doa yang dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. “Yang memberi kesembuhan hanya Allah SWT, kita hanya berupaya untuk memintanya,” tuturnya bijak.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia