Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Kisah Santri yang Menimba Ilmu Jadugan di Pesantren (2)

Amalkan Doa dari Sunan Gunung Jati

23 Oktober 2018, 14: 05: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

santri gus maksum

TANGKAS: Abdul Latif, santri tangan kanan KH Maksum Djauhari alias Gus Maksum yang merupakan Guru Besar Silat Pagar Nusa. (DIDIN SAPUTRO - RadarKediri.JawaPos.com)

Share this          

Mengikuti pencak silat telah mengubah kepribadian Abdul Latif. Dari yang awalnya takut dengan kanuragan, kini santri ndeso ini bisa menjadi pendekar.

Semua kemampuan bela diri itu tidak instan. Banyak ilmu pelajaran yang didapatkan dari sana. Meski kini usianya terbilang lanjut, Abdul Latif masih tampak bugar. Gaya bicaranya seperti orang yang tak jauh dari usia tiga puluhan. Padahal pria yang karib disapa Latif itu kini telah berusia 66 tahun.

Dia terlihat bugar karena masih aktif dalam dunia pencak silat. Ilmu bela diri itu telah digelutinya lebih dari 50 tahun. Dulu dia adalah santri tangan kanan KH Maksum Djauhari alias Gus Maksum yang merupakan Guru Besar Silat Pagar Nusa.

Latif berlatih silat ketika bersekolah di pendidikan guru agama (PGA). Dia berlatih di Ponpes Lirboyo. Namun statusnya bukan santri Lirboyo. Tetapi, santri ndeso. “Santri yang berangkatnya dari desa. Bukan santri yang bermukim di pondok pesantren,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Ini karena dahulu Gus Maksum lebih suka memilih murid dari anak kampung asli Kediri. Pasalnya, bila yang ingin berlatih silat dari luar Kediri, justru tidak bisa fokus. Mereka akhirnya menjadi santri pondok saja. “Kalau dari kampung pasti dibelajari pencak. Termasuk seperti saya ini,” ujar Latif.

Dalam pencak silat dia ditempa banyak ilmu oleh Gus Maksum. Turunan ilmu tersebut juga dari Kiai Mahrus Ali yang merupakan Guru Gus Maksum. Latif berlatih jurus-jurus silat selama dua tahun. Setelah itu, baru diajarkan ilmu kanuragan atau kejadugan.

Bekal ilmu itu tidak hanya untuk fisik. Namun, juga untuk kekuatan batin. Dalam ilmu jadug tersebut juga berisi bacaan doa. Dengan bekal kebatinan itu,  santri memiliki kemampuan bergerak cepat. Mampu meringankan tubuh dan memiliki kekebalan terhadap senjata tajam. “Doa itu adalah salawat Ibnu Alwan,” ungkap Latif.

Doa yang diajarkan Gus Maksum tersebut turunan dari KH Mahrus yang didapat dari Sunan Gunung Jati. Kegunaannya untuk peringan tubuh. Sehingga gerakan pencak lebih cepat dan kebal terhadap serangan lawan. Namun doa ini baru diberikan jika santri sudah tamat berlatih pencak.

“Kalau orang tahu salawat Ibnu Alwan, pasti langsung merujuk ke ilmu dari Lirboyo. Tepatnya dari Mbah Kiai Mahrus,” jelas Latif.

Dia mengaku, dengan diberikan doa itu semakin berani dalam pencak silat. Padahal dahulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Latif selalu gemetar bila melihat orang bertarung silat.

Salawat Ibnu Alwan ini juga memiliki sejarah panjang. Salah satunya digunakan sebagai bekal para santri ketika berperang dalam peristiwa Hari Pahlawan, 10 November. Para santri yang berjuang mengamalkan doa ini untuk melawan penjajah. Termasuk melakukan puasa sebelum perang. “Alhamdulillah tentara pejuang saat itu ditembak masih selamat dan bisa jalan terus,” paparnya.

Padahal ketika itu para pejuang hanya mengandalkan senjata bambu runcing. Namun mereka bisa mengalahkan penjajah. Itulah kehebatan salawat Ibnu Alwan. Memang saat itu santri Kiai Mahrus dari Kediri diajak berperang di Surabaya. Persiapannya adalah puasa dan mengamalkan doa salawat tersebut.

“Kita tidak mempunyai kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, secara lahir dan batin. Untuk doa yang diucapkan adalah kekuatan batin,” tegasnya.

Dari sana, Latif pun semakin semangat mendalami ilmu-ilmu di pencak silat. Dia akhirnya menjadi pelatih yang sering pergi ke luar kota, hingga Kalimantan. Bahkan kini di usianya yang 66 tahun, masih aktif mengajar silat di Bojonegoro, Ngawi, dan Blora.

Usia tersebut tidak menghalanginya untuk tetap memberikan ilmu kepada calon-calon pendekar penerus pencak silat ini. Menurutnya, itu karena pesan Gus Maksum. Bahwa usia tua tidak masalah. Yang terpenting masih kuat akan terus dijalaninya. “Selagi masih diberi kesehatan ya akan tetap melatih,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia